Lontong Sayur dan Sejarah Hidup

lontong sayur

Tiba-tiba saja hari ini istri ingin sarapan Lontong Sayur dan kebetulan saya juga punya keinginan yang sama. Kalau keinginan mendadak begini, tidak ada waktu untuk memasak sendiri apalagi banyak bahan yang tidak tersedia di dapur. Namun penjual yang kami kenal ternyata tutup, mungkin masih menikmati liburan tahun baru. Akhirnya mulailah saya mengitari beberapa ruas jalan Jogja, dari Jalan Magelang berbelok ke Monjali dan terus melintas hingga Kaliurang. Hanya untuk mendapatkan Lontong Sayur.

Sebenarnya nama Lontong Sayur tidak dikenal di Padang. Disana kami hanya menyebutnya Lontong saja, dan itu artinya sudah lengkap dengan sayur, kuah gulainya, campuran kuah kacang, taburan bawang, sedikit mie goreng, telur dan kerupuk merah. Itu benar-benar membuat lontong sulit untuk dilupakan. Tetapi satu hal yang terpenting dari itu semua adalah tidak sulit untuk menemukan penjualnya di Padang. Berbeda dengan di Jogja, disini saya belum banyak menemukan penjual lontong sayur, mungkin karena saya belum terlalu banyak menjelajahinya. Setidaknya baru 4 penjual yang saya kenal dan itupun beberapa rasanya belum pas di lidah.

Bagi saya lontong adalah makanan yang membersamai perjalanan hidup. Sejak kecil sudah akrab dengan makanan yang satu ini. Bagaimana tidak, yang jualan lontong ibu sendiri. Setiap hari pasti makan lontong, jika tidak dicampur dengan gulai pasti dimakan bersama sate atau mieso. Bahkan kabarnya dari balita saya sudah mencicipi lontong. Mungkin 75% daging saya berasal dari lontong dan sisanya 25% berasal dari lontong lagi :mrgreen: . Begitu juga dengan istri, sejak kecil sudah kecanduan lontong. Setiap kali orangtuanya ke pasar pastilah membelikan lontong untuknya. Jadilah lontong bagian dari sejarah kami.

Begitulah, makanan adalah bagian dari sejarah kehidupan seseorang. Itu sebabnya kenapa ada orang yang berusaha keras mencari makanan tertentu, bersemangat untuk mendatanginya, karena makanan itulah yang menemani perjalanan hidupnya sejak kecil. Semua usaha untuk mendapatkannya akan terbayar saat suapan pertama. Kenangan bahagia masa lalu dan keceriaan masa kecil akan berputar bersama dengan setiap gigitannya. Apalagi jika makanan tersebut memiliki rasa yang (hampir) sama dengan yang tertanam di memori. Lengkap sudah. Seperti kisah Ego si kritikus makanan saat mencicipi Ratatouille yang dihidangkan Remy, seketika memorinya langsung berputar ke masa kecil dan teringat akan masakan ibunya. Itulah makanan yang membersamai sejarah hidup.

Itu sebabnya orang-orang generasi saya saat diminta menuliskan menu makanan favorit, pastilah mereka menulis sate, lontong, nasi goreng, pecel, mie ayam dan kawan-kawannya. Karena itulah makanan yang membersamai sejarah hidup mereka. Bisa dipastikan tidak ada yang menulis pizza, burger, spaghetti atau kebab, karena bukan makanan itu yang sering terhidang di meja makan.

Kedekatan makanan dengan sejarah hidup juga menyebabkan pertumbuhan restoran tradisional meningkat. Meskipun banyak restoran modern yang tumbuh namun restoran yang menyajikan makanan tradisional tidak pernah mati. Orang tetap mencarinya meskipun lokasinya terpelosok. Bahkan restoran menu tradisional tumbuh makin banyak. Mereka tidak hanya menyajikan menu-menu lama tetapi juga membuat suasana restorannya seperti tempo dulu. Sehingga peminat dan pengunjungnya pun semakin banyak.

Dengan makanan orang ingin mengenang masa lalunya, mengingat perjuangannya dan ingin merasakan lagi kebahagiaan makan bersama ibu.

Dan tahukah kenapa masakan ibu itu enak? Karena dimasak dengan cinta dan bumbunya adalah do’a yang telah menjaga dan mengantarkan kita hingga bisa berdiri sampai hari ini.

——

——

——

Bagi yang saat ini sedang liburan semester dan pulang kampung, selamat berkumpul lagi bersama keluarga. Selamat mencicipi masakan ibu masing-masing, semoga ada diantara ibu-ibu kalian yang nanti jadi besanan πŸ˜€

Iklan

20 responses to “Lontong Sayur dan Sejarah Hidup

  1. Legend banget ya Uda, memang masakan ibu gimana pun akan selalu jadi makanan favorit..

  2. Sumpah, ini theme keren banget mas..
    pada awalnya, aku kira ini blog dengan top level domain, ternyata masih ada embel2 worpressnya. mungkin karena terlihat beda aja
    tapi kece banget tampilannya..
    salam kenal ya mas..

      • nah itu mas, saking takjubnya dengan theme seperti itu..
        keren aja lihat menunya berada di samping kiri, kayak premium gitu..
        lagian untuk editing gambar yang di beranda itu gimana mas..
        apa edit di htmlnya (costumize theme)

      • ga mas, itu udah bawaan theme-nya (oxygen), sepertinya tidak bisa diterapkan pada tema lain. Jadi harus gunakan yang Oxygen dulu.

        Ada banyak referensi di google cara mengaktifkannya mas.

  3. Di Bogor sangat mudah mendapatkan lontong sayur, Da. Dan saya suka meskipun lidah Jawa tapi menggemari lontong khas Padang dengan mi goreng dan daun singkong pedas di bawahnya. Dulu saat kecil semasa sekolah, saya juga biasa sarapan pakai lontong dengan sayur–hanya beda bumbu saja dengan lontong sayur sekarang. Kalau ngomongin masakan ibu, wah, tentu sangat spesial. Sulit ditandingi karena bumbunya istimewa, hehe. Kami berencana pindah meninggalkan Bogor untuk mendekat ibu. Bakalan sering makan resep ibu nih.. Jadi lapar πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s