Amaryllis yang Miris

12308713_199424363730246_9198897356367471925_n

Taman bunga Amaryllis menjadi kawasan wisata baru di Jogja. Taman bernuansa eropa itu tersebar luas di medsos dan mengundang banyak orang untuk datang, ini seperti di kebun bunga Keukenhof, Belanda. Ia terkenal begitu cepat dan secepat itu juga ia compang-camping, terkoyak-koyak hingga hancur. Ratusan orang dengan sengaja ataupun tidak telah bersiliweran, menginjak, menduduki serta merusaknya. Awalnya saya berencana untuk mengajak istri dan si kecil Hilya kesini, tetapi karena kondisinya sudah berubah, rencana weekend pun juga berubah.

Bunga-bunga itu tidak tumbuh di kebun milik pemerintah daerah, tetapi kebun milik warga. Sayangnya banyak pengunjung yang datang tidak minta izin terlebih dahulu padahal itu halaman rumah orang atau sekedar berbasi-basi sebab itu bukan fasilitas umum. Karena makin banyaknya pengunjung, pemilik meletakkan kotak sukarela di depan pintu masuk, mengumpulkan uang untuk sekedar biaya perawatan tetapi ternyata kotak itu lebih banyak dilewati begitu saja.

Sekarang kondisi kebun itu sudah makin parah, para pengunjung yang sempat berfoto selfie dan mengunggah langsung menjadi sasaran bully di medsos. Banyak yang menyadari salah tetapi ada juga yang membandel dengan berkomentar,”gue foto disini, masalah? masa bodo suka suka gue dong. Ngurus hidup sendiri saja belum bisa, sok sokan ngurusin bunga yang layu dikebun“. Ya elah, itu komen mungkin ga pakai mikir, kalau itu kebun milik sendiri sih silahkan saja, mau dibakar juga tidak ada yang peduli, tapi itu kebun milik orang loh.

Saya yakin tidak semua orang yang bersikap seperti itu, ada juga sebagian pengunjung yang berhati-hati dan berusaha menjaga kebun tersebut tetapi jumlahnya bisa jadi sangat sedikit. Sedangkan yang banyak adalah para alayers labil yang ingin eksis tapi membuat nasib Amaryllis menjadi miris.

Agar kejadian yang sama tidak terulang di lokasi wisata lain, maka bagi yang suka jalan-jalan perlu diperhatikan lagi beberapa hal terkait etika berwisata diantaranya tidak merusak fasilitas dan lingkungan wisata, tidak membuang sampah sembarangan, tidak mencoret-coret, tidak membuat kegaduhan dan tindakan asusila serta tidak mencuri benda-benda di kawasan wisata. Jika mampu menjaga larangan-larangan tersebut, itu sudah cukup untuk mencap kamu sebagai “anak yang baik”:mrgreen:

16 responses to “Amaryllis yang Miris

  1. Harusnyo dek nan punyo dipaga sakaliliang, sahinggo indak sumbarang urang bisa masuk ka kabun. Maliek bisa tapi indak masuak kabun.
    Payah perilaku pengunjungnya.

  2. Ini dampak dari tontonan mereka juga sih, apalagi sinetron yang gak mendidik itu. ditambah sekarang kan jamannya smart phone (ponsel ‘gak’ pintar) yang kata iklannya mah selfie itu kayak keharusan bagi generasi muda sekarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s