SKCK Tidak Diperlukan Lagi

Rezim otoriter telah berlalu, bunyi sepatu lars dan seragam militer tidak lagi menakutkan. Dulu, jangankan bertemu langsung mendengar mereka disebut saja keringat dingin sudah mengucur. Bahkan kecepatan kendaraanpun tidak boleh melebihi batas maksismum 20 Km/jam saat melintas di depan Korem. Hanya angin saja yang berani melampaui batas kecepatan itu. Mereka tangan-tangan guritanya penguasa, menjangkau jauh ke bawah. Katanya untuk menjamin keamanan negara tetapi sejatinya itu adalah cara memata-matai rakyat. Mereka menyebutnya stabil, kita menamainya tekanan, Emilia Contesa menyebutnya “burung dalam sangkar”. Semuanya menjadi gambar bagaimana penguasa selalu menaruh curiga pada rakyatnya sendiri.

Setelah itu penguasa datang silih berganti, namun negara tetap masih menaruh curiga pada rakyatnya. Jika anda melamar pekerjaan misalnya di instansi pemerintah maka salah satu persyaratannya adalah melampirkan SKCK, ini adalah bibit masa lalu yang masih subur sampai hari ini. Meskipun anda belum pernah tersangkut masalah hukum, panitia tetap butuh bukti kalau anda benar-benar bebas dari catatan kriminal. Anda akan tetap dipandang sebagai “penjahat”, sampai ada surat sakti yang menerangkan bahwa anda adalah anak baik-baik yang sedang sibuk melamar pekerjaan agar bisa melamar anak orang. Tapi kalau kemudian anda menjadi penjahat setelah mendapat pekerjaan, itu soal lain. Atau jika kemudian setelah bekerja lamaran anda tetap masih ditolak oleh calon mertua, itu soal yang lainnya lagi.:mrgreen:

Ini kan lucu dan parah. Orang yang jelas-jelas tersangka kriminal saja wajib dianggap tidak bersalah meskipun ia telah ditangkap, ditahan, dituntut dan atau dihadapkan di muka sidang pengadilan, sampai adanya putusan pengadilan. Lalu kenapa orang-orang baik mesti disibukkan mengurus SKCK untuk menunjukkan bahwa mereka baik. SKCK hanya membuat repot dan kadang sering disalahgunakan.

Kepolisian sendiri terutama di daerah-daerah, sebenarnya belum memiliki database yang kuat sebagai rujukan dalam menerbitkan SKCK. Saya sudah 2 kali mengurus SKCK dan petugas sama sekali tidak berpedoman kepada data yang mereka miliki (jika ada). Seharusnya mereka memiliki data tersendiri untuk mengetahui apakah saya pernah melakukan tindak kriminal atau tidak. Bagaimana jika saya adalah penjahat dari daerah lain? tidak ada yang tahu kan? sebab mereka belum mempunyai data yang terintegrasi. Pengurusannya memang mudah, selagi syarat-syarat lengkap maka SKCK bisa diterbitkan. Bahkan saking mudahnya penjahat sekalipun bisa mengurusnya asal ia punya syarat yang lengkap.

Antrian mengurus SKCK

Antrian mengurus SKCK

Menurut hemat saya, SKCK tidak diperlukan lagi dan kita perlu cara baru yang lebih efektif. Kita sudah jauh melangkah, maka segala sistem administrasi yang mubazir sudah bisa dibuang jauh-jauh. Kepolisian cukup hanya membangun suatu sistem informasi yang terintegrasi dari seluruh provinsi, di dalamnya minimal terdapat data mengenai pelaku kejahatan,jenis kejahatan dan lama hukuman. Data tersebut harus dapat di akses oleh seluruh lapisan masyarakat. Sehingga jika instansi pemerintah atau pihak manapun yang ingin melakukan rekrutmen pegawai atau keperluan lain tidak perlu lagi mensyaratkan SKCK. Mereka cukup mengakses data yang ada, menyesuaikan data pelamar dengan data catatan pelaku kriminal milik kepolisian. Jika ternyata ada yang pernah tersandung hukuman maka proses seleksi dapat langsung dihentikan. Bahkan jika pendaftaran online, sistem dapat langsung memblokir pelamar yang pernah tersandung kriminal. Hal ini jauh lebih efektif.

Jika kepolisian telah memberikan data terbuka, maka negara tidak perlu “mencurigai” semua orang. Masyarakat pun tidak perlu direpotkan lagi dengan mengurus SKCK. Anggaran Kepolisian yang sebelumnya ada untuk mengurus SKCK pun bisa dialihkan untuk hal lain yang lebih strategis.

image

4 responses to “SKCK Tidak Diperlukan Lagi

  1. Kalau memang data apa yang tertulis dalam ktp online, tak perlu skck. Dan memang tidak perlu sama sekali skck.
    Iyo alah sabana kuno jaman kini maurus skck.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s