Cinta Dalam Seporsi Rendang

beef-rendang

Kadang cinta itu seperti rendang, tempat dimana semua rasa-rasa bermuara. Disana ada anehnya rasa serai, kunyit dan bawang, ada manisnya santan, amisnya daging serta pedasnya cabe. Cinta seumpama dengan itu kadang berwujud belaian, pujian, nasehat dan segala yang terasa manis. Di lain waktu ia hadir dalam “cerewet”, kesal, perintah, suara tinggi hingga sedikit marah. Awalnya kita menilai itu sebentuk kebencian, tapi setelah seluruhnya dikumpulkan, semua bumbu dimasukkan lalu diaduk dengan kesabaran diatas api tungku yang panas. Akhirnya kita tahu itulah rendang, itulah cinta. Sehingga kita tidak tahu lagi dimana letak asam, amis, manis dan pedas. Sebab semua telah dihimpun menjadi satu dalam definisi yang berbeda.

Merawat cinta itu butuh kesabaran, sepantun dengan memasak rendang. Memasak rendang tak semudah merebus sayur atau menggoreng telur mata sapi. Ada proses yang panjang sehingga butuh kesabaran. Jika tak sabar berjam-jam mengaduk rendang dan bertahan dari panasnya api tungku, rendang tidak akan pernah terhidang. Lalu ia hanya akan menjadi kalio atau bahkan gulai saja. Jika kesabaran telah membersamai cinta, maka ia akan awet. Sebagaimana rendang yang bisa bertahan hingga hitungan bulan. Perantau minang tahu betul bagaimana bertahannya rendang dalam menemani lidah mereka selama berada di negeri orang.

Cinta yang terawat dengan kesabaran itu tak ubahnya seperti memakan rendang. Di mulut mungkin telah habis tapi di langit-langit masih terasa membekas. Secara fisik seseorang yang dicintai mungkin terpisah jarak atau pergi untuk selamanya namun kehadirannya masih dirasakan. Maka seperti itulah Nailah setelah Utsman bin Affan meninggal, saat Mu’awiyah bin Abi Sufyan menyampaikan keinginan untuk meminangnya. Nailah dengan jelas menjawab, “Tidak akan ada laki-laki lain yang bisa menggantikan kedudukan Utsman di dalam hatiku“.

Begitulah cinta begitulah rendang

*) Sambil menikmati rendang buatan ibu, yang dikirim jauh dari kampung

image
inspirasi

11 responses to “Cinta Dalam Seporsi Rendang

  1. Kesadaran itu, -rendang seperti cinta- hanya dimiliki oleh mereka melihat dengan jernih. Macam-macam bumbu yang disatukan dan dimasak dengan kesabaran, mungkin itulah resep mengapa rendang enak, hehe…

    Duo hari lalu Ambo baru pulo manarimo randang kiriman dari kampuang, randang hari rayo haji, sero.🙂

    • oh pakar rendang tibo, eh iyo, paralu juo diangek-angek-an
      byk nan abg “amati tiru modifikasi” dari “merendang ukhuwah”😀

      yo sabana lamo, tahun 2009 pertama dan terakhir basuo, hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s