Cara Soeharto Menyingkirkan Islam

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, yang juga capres dari PDIP menunjukan jarinya yang telah dicelup tinta usai memberi suaranya di TPS 27 Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (9/4).

Tidakkah melihat bahwa kita seperti berada di masa-masa awal Orde Baru? Punya presiden yang ngakunya beragama Islam tetapi berusaha menyingkirkan ummat Islam. Jokowi-PDIP hampir sama dengan Soeharto-Golkar dimasa awal yang berusaha menyingkirkan semua lawan politiknya dan menekan ummat Islam.

Sepanjang lebih kurang 20 tahun masa awal kekuasaan Soeharto posisi umat Islam dibuat berada pada titik yang hina. Umat Islam selalu dicurigai dan dicap tidak setia kepada Dasar Negara Pancasila, difitnah berencana melakukan kudeta dan ingin menegakkan Negara Islam. Partai-partai Islam dibuat tidak berkembang dan dipaksa berfusi menjadi satu partai; Partai Persatuan Pembangunan. Namun PPP dilarang memakai gambar Ka’bah karena Soeharto takut itu alat pemersatu ampuh umat Islam.

Tidak hanya sampai disana, produk-produk undang-undang di DPR yang didominasi Golkar selalu berlawanan dengan aspirasi Islam. Seperti sikap pemerintah yang anti jilbab pada 1980, mengeluarkan siswi-siswi yang berjilbab dari sekolah, membuat peraturan untuk hormat bendera ini alat untuk mengejek dan melecehkan umat Islam. Bahkan pada 1975 PNS tidak berani terang-terangan shalat Jumat di jeda istirahat kantor. Para da’i tidak leluasa berkhutbah jika mereka tidak memiliki SIM (Surat Ijin Mubaligh). Dan masih banyak kisah pilu lainnya yang masih jelas terekam dalam memori ummat.

Saat kondisi berubah di tahun-tahun terakhir kekuasaannya Soeharto justru menjadi cukup mesra dengan ummat Islam. Beberapa kebijakannya berpihak kepada ummat Islam seperti Bank Muamalat, BPR Syari’ah, ICMI, pembangunan seribu mesjid dan pengiriman da’i lewat Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila. Beberapa perwakilan Golkar di DPR dan susunan kabinet pun mulai di dominasi tokoh Islam.

Dan Jokowi seperti mengikuti langkah awal Soeharto. Sebenarnya Jokowi dan segala kebijakannya ini tidaklah mengejutkan. Kita tahu sejak awal Jokowi memperoleh dukungan dari banyak kalangan yang secara umum memusuhi Islam. Sebut saja beberapa nama penting seperti James Riyadi yang fundamentalis dan Hendropiyono yang anti Islam. Selain itu PDIP yang merupakan partai pengusung Jokowi juga berisi banyak kekuatan yang membenci Islam. Maka ketika semuanya berkumpul kebenciannya juga berkumpul walau kepentingannya berbeda-beda.

Hendropriyono orang dekatnya Jokowi pastilah punya andil dalam setiap kebijakan pemerintah untuk menyingkirkan ummat Islam. Ia seorang jendral yang anti Islam dan memiliki hubungan yang erat dengan L.B Moerdani dimasa Soeharo. Dan peran mereka sama; seorang yang anti Islam dan berprofesi sebagai pembisik presiden. Dalam catatan sejarah Hendropriyono adalah aktor yang melakukan pembantaian terhadap umat Islam di Talangsari, Lampung Tahun 1989. Sekarang orang ini tepat berada disisi Jokowi.

Bersama kekuatan-kekuatan yang anti Islam inilah, Jokowi memulai mempratekkan politik bumi hangus terhadap kekuatan umat Islam, hampir sama seperti langkah awal Soeharto dulu.

Pertama, memecah persatuan dan kekuatan politik ummat Islam
Saat Jokowi menjadi pemenang dalam Pilpres 2014 sesungguhnya pada saat itu partai-partai Islam juga tengah mengalami “kemenangan” karena suara mereka mengalami peningkatan. Beberapa partai berideologi Islam yang diprediksi hancur justru mengalami peningkatan suara. Dan parahnya mereka semua berkumpul dalam satu gerbong. Tentu hal ini mengkhawatirkan bagi kalangan yang membenci persatuan ummat Islam sehingga mereka harus memecahnya.

Maka jangan melihat perpecahan di tubuh PPP dan Golkar serta PAN (meski tidak berhasil) semata bertujuan untuk memecah partai agar ada kekuatan di parlemen yang mendukung pemerintahan Jokowi. Sesungguhnya ini adalah upaya untuk memecah kekuatan ummat Islam itu sendiri. Mereka telah melihat munculnya bibit persatuan diantara kekuatan politik Islam di dalam tubuh KMP. Mereka khawatir bibit itu terus tumbuh membesar. Maka harus dibecah belah dan Menkumham, Yossana Laoli telah menjalankan perannya dengan baik. Ia berhasil memecah belah PPP sehingga partai ini dalam pusaran konflik yang berkepanjangan.

Selain itu Prabowo yang merupakan “presiden” nya KMP adalah jendral yang sejak lama memasang badan berhadap-hadapan dengan kubu LB. Moerdani dan Hendropriyono yang anti Islam. Ini seperti perang lama dengan dimensi waktu yang baru.

Kedua, membubuhkan cap teroris
Keberadaan ISIS memang bukan hasil rekayasa pemerintah Indonesia tetapi pemerintah telah memanfaatkan isu ISIS untuk menyerang Islam. Orang-orang yang hanya lagi belajar tahsin dianggap sebagai anggota ISIS. Rekayasa penangkapan dibuat sedemikian rupa. Hal ini mengingatkan kita pada rekayasa serupa yang telah dibuat oleh Benny Moerdani; Komando Jihad, Kasus Wayloya, Tanjung Priok sampai Talangsari semuanya tak jauh berbeda dengan rekasaya ISIS bikinan rezim Jokowi.

Ketiga, Pembredelan terhadap media Islam
Pembrendelan ini dilakukan terhadap 19 Media Islam (beberapa diantaranya sekarang masih bisa diakses). Dengan dalih klise: menyebarkan radikalisasi. Ini kejadian pertama setelah era reformasi dimana media Islam dibredel tanpa adanya proses hukum terlebih dahulu. Semuanya dilandasi prasangka bahwa Islam sumber terorisme, disejajarkan dengan situs porno, judi dan konten negatif lain.

Melihat rentetan semua peristiwa ini maka posisi Islam seperti kembali berada pada masa awal-awal Orde Baru, menjadi kambing hitam. Ditakuti, disalahkan, diburu dan ditangkap untuk menutupi kelemahan pemerintah dalam menyejahterakan rakyat. Mereka kembali mencoba untuk menghapus peran islam dalam pemerintahan dan meminta ummat ini hanya diam disudut mihrab.

Mereka lupa akan satu hal karena tidak belajar dari sejarah bahwa ummat ini ketika ruang hidupnya dipersempit semakin minimalis, mereka justru berkembang secara maksimal. Ia seperti air yang jika dipukul maka akan menyebar kemana-mana.

Tantangan umat Islam memang semakin besar, namun pertolongan Allah akan membesarkan perjuangan umat Islam dan akan menghancurkan musuh-musuh Islam kelak pada akhirnya.

referensi
image

Iklan

13 responses to “Cara Soeharto Menyingkirkan Islam

    • Coba kita cermati masa Suharto.
      Keadaan sangat tenang dan damai.
      Beda dg sekarang, preman2 berjubah koar2 cari duit pakai Agama, hasilnya. Indonesia tidak tenang dan damai seperti dulu, malah mirip dg timur tengah.

      Mana lebih enak, hidup tenang dan damai atau selalu resah dan gelisah.

  1. Saya bingung tulisan ini. Bagaimana seorang mantan presiden, presiden, dan disebutkan ada jendral yang muslim bisa anti dengan agamanya sendiri. Saya rasa tidak masuk akal yah….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s