Kita Patut Malu

Chair-Alone-wallpapers
Para pendahulu kita yang shalih lebih memilih untuk menutup rapat-rapat keshalihannya dari indra manusia. Mereka tak mengizinkan kemesraannya dengan Allah dilihat, didengar, ditakjubi dan dipuji sesama. Mereka bahkan berjuang merahasiakan amalnya sekeras upaya mereka untuk beramal itu sendiri.

Dan mungkin karena itulah jika sesekali amal mereka ditampilkan Allah tanpa mereka inginkan, manusia lalu tersentuh, terpengaruh dan tergerak dengan gemuruh.

Di lain sisi, kita justru bersorai berbangga dengan amal kita, lalu berargumen bahwa Allah memuji amal shalih baik yang ditampakkan maupun yang ditutupi. Dan ketika mengatakan itu tak terbersit sedikitpun rasa malu; kepada Allah, Rasulnya maupun pada para orang shalih ummat ini yang rendah hati.

Padahal kita patut malu. Malu bahwa sungguh kita lebih bersemangat ketika terlihat dan lebih berseri ketika dipuji. Malu bahwa sungguh kita memang jadi lemah dalam sepi dan tak beramal apapun ketika sendiri.

Iklan

9 responses to “Kita Patut Malu

  1. Adrian, apa kabar?
    Hari demi hari, media sosial kayanya semakin menggerogoti setiap sendiri kehidupan ya? Seolah belum afdhol kalau lari pagi hari ini belum di share? Atau umroh, atau soal pertengkaran dengan suami, atau tas yang baru dibeli, dan atau atau lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s