Menjadi Seorang Ayah

Sembilan bulan terakhir kecepatan motor saat memboncengi istri tak lebih dari 25 km/jam. Apalagi di jalanan ber-polisi tidur yang tingginya minta ampun. Saya sangat khawatir goncangan berlebihan bisa mempengaruhi kondisi janin yang ada dalam kandungannya. Kali ini kami sangat berhati-hati karena kehilangan calon buah hati sebagaimana saat kehamilan pertama sungguh sangat menyedihkan. Jatuh, pecah ketuban dan keguguran itu adalah hal yang sangat mengerikan untuk didengar saat hamil.

Namun Minggu malam tiba-tiba saja istri berteriak kaget, perutnya terasa sangat tegang dan nyeri sementara air mengucur keluar. Segera saya melarikannya ke bidan didekat rumah tempat biasanya melakukan kontrol mingguan. Dari pemeriksaan bidan ternyata ketubannya pecah namun belum ada tanda-tanda pembukaan, tapi untung kondisi janin masih baik. Satu jam menunggu masih belum ada perkembangan apapun. Bidan merekomendasikan untuk membawanya ke Rumah Sakit. Kami memilih untuk dirujuk ke Rumah Sakit Ibnu Sina saja karena disana istri biasanya melakukan USG dan konsul.

Sesampai di RS.Ibnu Sina langsung dibawa ke Kamar Bersalin. Dokter menyarankan untuk menunggu perkembangan sampai pukul 05.00 pagi. Selama masa itu, iaΒ terus berzikir dan beristigfar menahan sakit. Sesekali air matanya mengalir menahan sakit. Berkali-kali ia meminta maaf pada saya yang duduk disampingnya. Saya hanya mengangguk sambil tersenyum, karena sungguh tidak ada kesalahan yang telah dilakukan oleh wanita baik ini.

Adzan subuh berkumandang dan ia hanya bisa shalat di atas tempat tidur. Sakitnya makin kuat namun tetap belum ada permbukaan. Karena kamiΒ ingin tetap mengusahakan persalinan secara normal maka dokter kemudian melakukan induksi, katanya semacam ransangan agar kontraksi lebih kuat dan teratur untuk memicu pembukaan. Sejam setelah itu sakitnya semakin menjadi-jadi, ia tidak henti-henti berzikir dan peluh mengucur deras. Saya sungguh tidak tahu seberapa sakitnya tapi kabarnya tidak ada laki-laki yang kuat menahan rasa sakit itu.

Sampai pukul 12.00 kondisinya tidak juga beranjak dari pembukaan dua. Pukul 13.00 masih belum ada perkembangan, Saya sungguh khawatir takut air ketubannya yang sudah pecah sejak 16 jam lalu semakin kering dan tentu ini akan berisiko ke janin. Maka kami putuskan untuk melakukan operasi

Pukul 15.45 ia masuk ruangan operasi. Saya menunggu diluar sambil terus berdoa semoga keduanya selamat. Berulang-ulang saya adzan di dalam hati, menyusun irama terbaik untuk dikumandangkan ditelinga buah hati kami.

Keluarga ibuk Helin, anaknya sudah lahir“, Perawat membawa seorang bayi dari dalam ruang operasi. Saya bergegas kesana dan menyambut buah hati kami. Tak kuasa menahan haru, air mata menggenang saat adzan dan iqamah di telinganya.

Alhamdulillah, anak kami lahir dengan selamat.
Kami menamainya Afifah Hilya Nafisah. Lahir 17 November 2014. Pukul 16.10. Berat 3,6 Kg dan Panjang 51 cm. Β Dan saya pun menjadi seorang ayah πŸ™‚

ahn1

Iklan

42 responses to “Menjadi Seorang Ayah

  1. alhamdulillaah… selamat ya Mas. semoga menjadi anak yg sholihah… barakallaah… welcome to the club πŸ˜€

    btw, istri saya dulu jg diinduksi, hampir 24 jam lamanya… πŸ™‚

  2. Subhanallaah walhamdulillaaah.. Selamat ya Da. Semoga sehat selalu Adek Afifahnya. Semoga menjadi kebanggan keluarga. Memang sepertinya tidak akan ada laki-laki yang sanggup menanggung sakitnya waktu melahirkan Da. Terpujilah para wanita dan ibu-ibu di dunia. πŸ™‚

  3. Barokallahu,,,,,,,:) semoga menjadi anak yg shalihah,,, dan menjadi generasi rabbani, pengemban dakwah islamiyah,,, aamiin πŸ™‚

  4. Ping-balik: Afifah Hilya Nafisah | RANGTALU·

  5. Ping-balik: Menunggu Afifah Hilya Nafisah | RANGTALU·

  6. Selamat uda..akhirnya menjadi seorang ayah juga….semoga hilya jd anak shalehah πŸ™‚ amin…jd ingat cerita uda tentang ustd yang bertanya dimesjid “ini anaknya” he..he….3-4 tahun lagi bakal kejadian penggalan cerita itu…. πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s