Sejarah Lembaga Pengkajian Islam

PENGANTAR
Beberapa bagian dari sejarah Lembaga Pengkajian Islam Fakultas Hukum Universitas Andalas yang dimuat di blog LPI ini dan ini sudah selayaknya diperbaiki karena telah ada beberapa informasi dan data-data baru untuk melengkapi alur sejarah tersebut. Berhubung dahulu tim kami yang menyusunnya maka saya akan mencoba memperbaikinya lagi. Semoga hal ini bermanfaat bagi generasi berikutnya dalam memahami sejarah perjalanan LPI.

DSC_0193aa

pengurus sehabis mudaker

DA’WAH KAMPUS UNAND
Da’wah kampus di Indonesia telah mulai berkembang sejak dekade 80-an. Pada era ini da’wah kampus lebih menitikberatkan pada aktivitas kaderisasi dan perapian struktur. Pada masa inilah lahir kader-kader militan melalui tangan-tangan murabbi teladan, merekalah generasi awal. Tantangan yang mereka hadapi sangat berat dari internal kampus maupun dari kekuatan rezim yang selalu mengintai.

Seiring waktu jumlah aktivis da’wah terus bertambah dan kondisi ini juga beriringan dengan berakhirnya NKK/BKK sehingga terbukalah kebebasan bagi mahasiswa untuk melakukan aktivitas organisasi. Kondisi ini tidak disia-siakan oleh aktivis da’wah maka berdirilah lembaga-lembaga kajian islam di mesjid-mesjid kampus. ITB, UI, UGM menjadi kampus awal yang mempelopori pergerakan itu hingga akhirnya sampai di Universitas Andalas.

Para aktivis Universitas Andalas yang dulu bersebelahan dengan Universitas Negeri Padang menjadikan Masjid Al Azhar Air Tawar sebagai pusat kegiatan da’wah. Maka ramailah mesjid itu dengan kajian-kajian keislaman dan grup-grup studi Islam. Kemudian da’wah kelembagaan pun dimulai dengan berdirinya FSKI di Fakultas Kedokteran dan FORSTUDI Fakultas Pertanian. Pendirian kedua FSI ini memacu Fakultas lain untuk melakukan hal sama.

Pada tahun 1991 kampus Universitas Andalas Air Tawar, sebagian dipindahkan ke Limau Manis. Saat itu diresmikan juga Masjid Nurul ‘Ilmi oleh Presiden Soeharto, di mesjid inilah kemudian pada tanggal 30 November 1991 didirikan Forum Kajian Islam Rabbani dengan ketua pertamanya Syahril (FMIPA’88).

Dengan telah berdirinya FKI Rabbani semangat para aktivis untuk mendirikan FSI Fakultas semakin besar, maka di periode 90-an itu menyusul pendirian FSKI dan Forstudi, muncullah FSI MIPA, FSI Ekonomi, FSI Faterna, FORISTEK, FSI FISIP, FSI Sastra, LPI Hukum dan FORSIPOL.

DA’WAH FAKULTAS HUKUM
Generasi Awal Aktivis Da’wah Fakultas Hukum
Sejarah LPI FHUA tidak bisa terpisah dari sejarah awal pergerakan da’wah kampus Universitas Andalas. Para aktivis da’wah Fakultas Hukum telah terlibat sejak awal dalam kajian-kajian keislaman yang berlangsung di Mesjid Al Azhar di tahun 80-an.

Para aktivis Fakultas Hukum tahun 80-an awal mungkin akan ingat dengan istilah Markas Sewo. Markas sewo adalah tempat berkumpul dan tempat tinggal, semacam wisma hari ini. Ada dua markas, satu di Jl. Ujung Pandang No. 10 untuk markas akhwat dan satu lagi di Jl. Parak Karambia untuk markas ikhwan. Disebut markas sewo karena ada tumbuhan asam sewo di kedua rumah itu.

Mereka rutin melakukan kajian di Mesjid Al Azhar Air Tawar bersama dengan aktivis da’wah dari fakultas lain. Beberapa nama yang tercatat pada masa ini adalah Helmi Darlis, Arbin, Andriyan Noor, Fery Coloso, Benni Fitria Noor, Rafdinal, Hulma Yuwelni, Rahmi Yarni, Ratnawati, Dewi Kurnida, Marta Sari, Meldawati, Sasmita,

Merekalah beberapa aktivis yang pada periode tahun 80-an menjadi penyambung risalah da’wah di Fakultas Hukum Universitas Andalas. Aktivitas da’wah yang dilakukan pada masa ini lebih menekankan kepada aktivitas kaderisasi (nukhbawi) melalui sarana tarbiyah. Da’wah fardiyah yang dilakukan terhadap teman-teman se-fakultas dan para junior menjadi penanda aktivitas di era ini.

Beberapa mahasiswa yang mendapatkan hidayah melalui da’wah fardiyah yang telah dilakukan dan kemudian tertarik untuk ikut dalam kegiatan keislaman, maka akan mereka jaga dan membinanya melalui berbagai sarana tarbiyah seperti liqo’ tarbawi (mentoring), mabit dan daurah. Sarana tarbiyah tersebut akan membentuk kader-kader aktivis baru yang akan menjadi pengganti mereka untuk meneruskan aktivitas da’wah di Fakultas Hukum. Maka lahirlah generasi baru sebagai pelanjut dari generasi 80-an, mereka adalah generasi 90-an seperti : Yusrin Nazief, Rudi Rifai, Zulkifli, Afzuefendi, Ahmar Ihsan, Inayati Sixtia, Tri Murti, Nelly, Masna Yunita, Devi Anggraeni, Novriyanti. Merekalah yang kemudian berperan dalam pembentukan Lembaga Pengkajian Islam.

Pendirian Lembaga Pengkajian Islam
Generasi 90-an sudah mulai melakukan aktivitas responsi sekitar tahun 1995/1996. Dalam rangka memaksimalkan aktivitas da’wah khususnya terhadap muslimah Fakultas Hukum maka melalui sebuah pertemuan bersama antara Keputrian UKM Kerohanian dengan akhwat Fakultas Hukum di Gedung F1.1 dibentuklah sebuah “organisasi kecil” dengan nama FAFAH (Forum Annisa Fakultas Hukum), beranggotakan 5 orang akhwat dan diketuai oleh Tri Murti BP 93. Salah satu kegiatan utamanya adalah mengadakan forum annisa.

Setelah beberapa kali pelaksanaan forum annisa munculah isiatif untuk membentuk wadah organisasi da’wah dalam skala yang lebih besar, sebuah lembaga da’wah. Diharapkan dengan dibentuknya lembaga da’wah yang legal akan lebih membuat aktivitas da’wah berjalan lebih massif. Melalui sebuah rapat dan dengar pendapat antara seluruh ikhwan dan akhwat mengemukalah dua opsi yaitu membentuk sebuah organisasi baru atau memanfaatkan organisasi yang telah ada sebagai lembaga da’wah. Saat itu di Fakultas Hukum telah ada Lembaga Pengkajian Islam sebuah LSO (Lembaga Semi Otonom) di bawah BEM, programnya lebih banyak pada kajian hukum dan islam secara umum, namun lembaga tersebut kurang aktif dan hampir vakum. Akhirnya diputuskanlah untuk memanfaatkan Lembaga Pengkajian Islam tersebut, mengelolanya dan menjadikannya sebagai lembaga da’wah fakultas hukum. Peluang ini pun terbuka lebar saat penyusunan pengurus baru LPI di Fakultas Hukum Jl. Pancasila. Maka disusunlah skenario untuk merealisasikan rencana tersebut.

Namun skenario tersebut awalnya tidak berjalan lancar. Pertemuan dalam rangka pemilihan pengurus baru yang dikelola oleh BEM justru menetapkan sosok yang bukan kader sebagai ketua. Menanggapi hal tersebut maka Zulkifli (BP 92) membuat surat pernyataan yang kemudian ditandatangani oleh seluruh aktivis da’wah fakultas hukum. Surat pernyataan tersebut berisi penolakan terhadap ketua terpilih dan mendukung Yusrin Nazief sebagai ketua LPI. Atas usaha tersebut kemudian ditetapkanlah Yusrin Nazief (BP 94) sebagai ketua LPI, sekretaris Afzufendi Roza (BP 94), bendahara Delzi, kordinator litbang Zulkifli (BP 92) dan bidang keputrian Tri Murti (BP 93) yang beranggotakan semua akhwat. Momen ini pun menjadi penanda dimulainya da’wah fakultas hukum melalui sebuah lembaga da’wah bernama LPI. Dan kita dapat menyebut bahwa Agustus 1997 adalah awal lahirnya LPI sebagai sebuah lembaga da’wah dengan Yusrin Nazief sebagai ketua pertamanya.

Periode pertama ini berjalan cukup baik dan banyak agenda besar yang telah dilaksanakan. Namun setelah satu semester mengomandoi LPI, Yusrin Nazief mengundurkan diri, hal ini membuat perjalanan LPI tersendat dan akhirnya hanya kegiatan forum annisa yang tetap berjalan. Melihat kondisi tersebut akhirnya Epi Santoso (Pertanian 93) selaku ketua UKM Kerohanian Universitas Andalas periode 1997/1998 turun tangan untuk membantu agar pergerakan LPI dapat terus berlanjut sehingga di tahun-tahun berikutnya LPI tetap ada dan terus tumbuh.

Berikut adalah ketua LPI pada setiap periode kepengurusan sejak tahun 1997 dan menariknya pada periode 1998/1999 LPI dikomandoi oleh seorang akhwat.

1997/1998 : Yusrin Nazief, BP 94
1998/1999 : Inayati Sixtia, BP 95
1999/2000 : Mukhlis, BP 97
2000/2001 : Ahmad Zurgon Siregar, BP 97
2001/2002 : Fitrah Agustinur, BP 99
2002/2003 : Muhammad Kurnia, BP 99
2003/2004 : Michel Londa Syafrimon, BP 01
2004/2005 : Abdul Rahman, BP 02
2005/2006 : ErmadiansJah, BP 03
2006/2007 : Adrian Fetriskha, BP 04
2007/2008 : Nanda Surya, BP 04
2008/2009 : Rahmat Rudi Yanto, BP 07
2009/2010 : M. Al Asyhari, BP 07
2010/2011 : Abdul Hadi, BP 08
2011/2012 : Herfando Fazar, BP 09
2012/2013 : Lara Sakti Utomo
2013/2014 : M. Ridho Ihsan Aulia
2014/2015 : Mas Udi Pranada Sari

(Susunan lengkap pengurus LPI bisa dilihat DISINI)

Selain keberhasilan menjaga kelangsungan da’wah melalui LPI, para aktivis da’wah Fakultas Hukum pun mampu untuk memperluas garapan dan mengelola siyasi fakultas. Pada Pemira BEM Fakultas Hukum Tahun 2003, Indra (BP 00) memenangi Pemira dan menjadi Ketua BEM Fakultas Hukum. Selanjutnya Indra Saputra (BP 01) dan Michel Londa S (BP 01) terpilih menjadi Pesiden dan Wapres pertama pemerintahan negara Fakultas Hukum Universitas Andalas. Namun setelah masa itu tidak ada lagi kader LPI yang muncul sebagai petinggi BEM Fakultas Hukum.

Disetiap periode kepengurusan LPI selalu memiliki masalahnya sendiri-sendiri, beda pengurus beda tantangan. Begitulah tabiatnya da’wah, ada tantangan dan permasalahan ditiap marhalah, baik internal maupun eksternal. Permasalahan yang muncul kadang seperti keretakan ukhuwah, minimnya partisipasi kader, birokrasi yang mempersulit, gagalnya sistem kaderisasi, kurangnya mentor atau kegagalan dalam siyasi.

Namun dibalik itu banyak juga kemudahan yang didapatkan semisal banyaknya mahasiswa yang berpartisipasi dalam agenda syiar, bertambahnya dukungan dari dosen, legalnya mentoring, diberikannya kepercayaan oleh dekanat untuk mengelola mushalla dan berbagai kemenangan-kemenangan kecil lainnya. Dinamika ini silih berganti mewarnai kondisi da’wah disetiap kepengurusan. Tidak cukup banyak gambaran rinci tentang realita disetiap kepengurusan, tentu para pengurus dan generasi saat itulah yang paling mengetahui.

Pada akhirnya kita menemukan jumlah kader LPI yang terus bertambah dari tahun ke tahun. Beberapa orang diantara kader LPI itu pun pernah dipercaya untuk memikul amanah dalam tataran da’wah kampus universitas andalas, sebut saja misalnya : Osmarwan Putra BP 98 diamanahkan sebagai Ketua UKM Kerohanian 2001/2002 dan Yeni Rupitasari BP 98 sebagai Sekretaris UKM Kerohanian. Agustian BP 02 diamanahkan sebagai Mensesneg BEM KM Unand, Abdul Rahman BP 02 Sekum FKI Rabbani 2005/2006, Ermadiansjah BP 03 Sekum FKI Rabbani 2006/2007. Adrian Fetriskha BP 04 diamanahkan sebagai Ketua FKI Rabbani 2007/2008, Hanif Dwi Putra BP 04 terpilih sebagai Presiden BEM KM Unand, Rizky Azmi BP 04 sebagai Mendagri BEM KM dan Ade Zainal BP 04 sebagai ketua DPM Unand, Muhammad Taufik BP 11 sebagai Presiden BEM KM Unand 2014/2015, serta masih banyak kader lainnya.

Disepanjang waktu itu perbaikan demi perbaikan terus dilakukan, baik itu pengelolaan struktur lembaga, penataan kaderisasi, optimalisasi syiar, pengembangan kompetensi kader, perluasan garapan da’wah, penguasaan medan siyasi dan sebagainya. Perbaikan itu terus dilakukan untuk menyesuaikan gerak da’wah dengan perubahan zaman dan sejatinya perubahan itu akan terus berlangsung dengan lakon-lakon yang baru, sungguh setiap zaman ada rijalnya.

PENUTUP
Sejarah yang tertulis ini sungguh amat singkat, banyak hal yang belum terangkum. Kita tentu tidak akan lupa akan kepengin-kepengin cerita lain yang mengiri sejarah perjalanan lembaga ini; rapat-rapat yang padat, hilir mudik menyebar proposal untuk mendapat bantuan dana, bermalam di auditorium untuk menjaga barang-barang bazaar, menikmati Studi di lokasi-lokasi yang indah, berebut makan di talam wisma, bermain bola di lapangan binuang, mabit yang dingin, menggelar acara dengan dana minim, dan segudang kenangan lainnya.

Kini sebagian diantara kita mungkin telah banyak yang terpisah jauh, mulai jarang bertukar bunyi dan tidak lagi bertanya kabar. Mungkin kita telah mulai sibuk dengan urusan kita masing-masing, mengurus anak, mengejar karir, meraih cita atau menggapai mimpi. Tapi satu yang pasti, kita pernah punya kenangan bersama ini. Kita tapaki jalan juang yang sama, memikul beban bersama dan melewati masa-masa sulit itu bersama. Maka ingatlah masa itu dan dimanapun hari ini kau berada, tetaplah tegar di jalan kebaikan. Semoga Allah selalu menjaga kita semua.

————–
Catatan :
1. Catatan ini akan terus diperbaiki seiring masukan dari para alumni yang terus berbagi
2. Masih ada selisih mengenai tanggal pendirian LPI karena di dalam Anggaran Dasar tertulis Mei 1995.
3. Masih diperlukan perbaikan dalam alur dan cerita sejarah ini terutama dari para pelaku.

4 responses to “Sejarah Lembaga Pengkajian Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s