Tipuan Aroma Sampah

1338475387821475986

Bila kita datang mengunjungi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah disebuah kota, kita sudah mendapatkan aroma tidak sedap jauh sebelum sampai dilokasi tersebut. Kecuali bila pengelola tersebut memberikan zat tertentu yang dapat menghilangkan aroma tersebut. Atau kalau kita mendekati sebuah bak sampah umum, pastilah aroma tidak sedap alias bau busuk akan sangat menyengat menusuk hidung kita. Pernapasan kita akan terganggu dan bahkan rasa mual dan mau muntah tak bisa kita hindarkan. Kita akan terpaksa menutup mulut dan menahan napas sejenak sampai berlalu dari tempat itu.

Namun bila kita berdiam diri dan berlama-lama di lokasi itu, maka tanpa kita sadari lama-kelamaan bau busuk itu tidak lagi terlalu mengganggu kita. Dan kemudian kitapun kadang tak lagi menutup mulut dan hidung. Bahkan kita bisa menyaksikan orang-orang yang sehari-hari bekerja mengais rezeki dilokasi tersebut begitu bersahabat dengan suasana itu. Mereka dengan santainya membolak-balik setiap sampah demi sampai, membuka kantong-kantong plastik, membongkar kotak-kotak dan kardus, mencari botol-botol plastik, seperti apapun bentuk dan warnanya (termasuk aromanya). Tak jarang malah mereka makan siang dengan santai di atas tumpukan sampah-sampah tersebut. Sambil menyuap nasi bungkus di tangan mereka, tawa-canda juga terjadi sesama mereka.

Padahal sebenarnya lokasi itu penuh dengan bakteri, racun-racun, udara yang kotor serta serangga penyebar penyakit dan sebagainya. Namun karena kebiasaan dan terbiasanya mereka dengan suasana itu, membuat mereka kehilangan rasa waspada dan kehati-hatian terhadap penyakit dan bahaya yang mungkin saja bisa mengancam jiwa mereka. Harusnya mereka beraktivitas di sana menggunakan pakaian khusus, mengenakan masker dan sarung tangan dan mengikuti aturan kebersihan tingkat tinggi demi keselamatan mereka.

Dalam kontek iman dan ketaqwaan, ilustrasi di atas berlaku bagi seorang muslim atau muslimah yang memasuki kawasan “kotor” atau bekerja di lingkungan yang minim ketaatan dan dominan (kadang sarat) dengan maksiat dan dosa. Mungkin saja seorang muslim akan merasa risih saat baru memasuki “kawasan” seperti itu. Hatinya tidak nyaman dan perasaannya tidak tenang. Tak ingin berlama-lama di sana dan segera hendak pergi dan berlalu. Tapi, bila dia sempat berdiam lama disana, melewati waktu-waktu yang cukup panjang, maka tidak mustahil, lama-kelamaan, perlahan-lahan ia pun akan menjadi biasa dan terbiasa dengan lingkungan tersebut. Dan na’udzubillah bila kemudian ia juga terjerumus ke dalam kotorannya.

Tidak ada pilihan lain, siapa saja yang mengalami situasi di atas membutuhkan imunitas tinggi agar tetap terpelihara. Imunitas itu berupa persiapan diri yang kuat, jiwa yang stabil dan taqarrub yang rutin kepada Allah di setiap waktu. Bila selesai dari aktifitasnya, maka segera berwudhuk, bersujud kepada Allah meminta ampunan dan pertolongan dariNya. Imunitas lain adalah adanya shuhbah shalihah (teman yang shaleh) selama beraktifitas di lokasi tersebut. Karena syetan bersama orang yang sendirian, dan syetan semakin menjauh bila orang beriman telah berdua. Keberadaan yang rutin dalam jamaah (komunitas) orang-orang shaleh akan memberikan penguatan baginya dari waktu ke waktu. Disamping itu, support eksternal berupa kiriman doa, dukungan moral, nasehat yang bijak dan saran-saran pembangun semangat juang dari seluruh saudara-saudara seiman, pastilah akan menjadi cahaya sekaligus penyejuk bagi siapa saja yang harus bekerja (mengemban tugas) dalam situasi seperti di atas.

Bila seorang muslim tadi piawai dalam bekerja, tidak mustahil ia dan bersama shuhbah shalihahnya akan mampu (secara perlahan) mewarnai dan merubah lingkungan yang kurang baik tersebut menjadi lebih baik dan kondusif untuk melakukan kebaikan. Lihatlah kota Mekkah yang awalnya merupakan pusat kemusyrikan, oleh Rasulullah bersama para sahabatnya, berubah menjadi pusat peradaban Islam.

Selebihnya, tentulah Sang Maha Pembolak-bali hati dan pandangan, Dialah Yang Maha Berkuasa dalam menjaga hambaNya. Hanya dengan kasih sayangNya seseorang bisa selamat. Dan tanpa kasih sayangNya seseorang akan celaka…

(Ust. Irsyad Syafar)

sumber gambar disini dan disini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s