Menerobos Tembok Besar Cina

Great Wall China

Empat Dinasti sambung menyambung dalam membangun tembok yang sekarang panjangnya 8.850 Km, Tembok besar Cina. Mereka meyakini bahwa tembok itu akan mampu menjadi benteng kokoh yang akan melindungi mereka dari serangan musuh dari luar. Mereka yakin tidak akan ada orang yang sanggup menerobosnya karena tembok itu sangat tinggi.

Akan tetapi mereka salah, dalam 100 tahun pertama setelah tembok itu selesai dibangun, Cina terlibat dalam tiga kali perperangan besar. Pada setiap kali perperangan, angkatan darat musuh tidak butuh usaha besar untuk menghancurkan tembok atau memanjatnya untuk menerobos masuk. Tapi cukup bagi mereka hanya dengan menyogok penjaga pintu gerbang disetiap kali perang, kemudian mereka masuk melalui pintu. Tembok kokoh itu dirapuhkan sendiri oleh manusianya

Dan Cina mesti mengakui bahwa saat itu mereka telah melupakan satu hal penting, mereka sibuk membangunan tembok namun lupa membangun manusia. Padahal sejatinya usaha membangun manusia haruslah dimulai sebelum membangun apapun, dengan itulah peradaban besar terus berlanjut. Apa yang menjadi pengalaman Cina dimasa lalu hendaknya menjadi pelajaran besar bagi bangsa dan umat ini.

Salah seorang orientalis mengatakan: Apabila anda ingin menghancurkan peradaban sebuah umat, ada tiga cara untuk melakukannya; hancurkan tatanan keluarga, hancurkan pendidikan dan hancurkan keteladanan dari orang-orang yang jadi panutan. Untuk menghancurkan keluarga caranya dengan mengikis peranan ibu, jadikan mereka malu menjalani peran sebagai ibu rumah tangga. Untuk menghancurkan pendidikan, jangan jadikan para pendidik sebagai orang yang penting dalam masyarakat. Kurangi penghargaan terhadap mereka, hingga para pelajar meremehkannya. Dan untuk menghancurkan keteladanan rusak akhlak para ulama dan orang-orang yang ditokohkan dalam masyarakat. Hingga tidak ada lagi orang pintar yang patut dipercayai, tidak ada orang yang mendengarkan perkataannya apalagi meneladani perbuatan dan sifatnya.

Kita sepertinya telah menemukan pintu yang terbuka itu sekarang. Para wanita malu jika hanya menjadi ibu rumah tangga, berkarier diluar dan mengabaikan anak bahkan pada sebagian tidak ingin untuk memiliki anak. Para guru dan institusi pendidikan justru menjadi tempat yang tidak bermoral dan tidak berpendidikan. Berapa banyak guru yang memfasilitasi siswa untuk mendapatkan kunci jawaban demi mendongkrak nilai atau pada sebagian lain justru mengajar tanpa mendidik. Titel ustadz pun melekat ke sembarang orang, dukunpun ada yang dipanggil ustadz, yang kemudian membuat orang berfikir bahwa ustadz tak lagi benar.

Apabila ibu-ibu rumah tangga yang punya kesadaran sudah hilang, para guru yang ikhlas lenyap, dan para ulama panutan sudah sirna, tidak ada lagi yang mendidik generasi dengan nilai-nilai luhur. Maka itulah gerbang menuju kehancuran, meskipun saat itu semua telah dibungkus dengan pakaian mewah, bernaung di bangunan nan megah dan dibawa dengan kendaraan yang super wah.

———–
———–
sumber image disini

Iklan

One response to “Menerobos Tembok Besar Cina

  1. coba akses dan fasilitas sekitar lokasi wisata dijaga dengan baik…baik oleh masyarakat setempat atau pemerintah…sudah banyak wisatawan yang berkunjung setiap tahunnya…mungkin bisa berjumlah 5x lipat na penduduk jakarta…karena keindahan alam indonesia tuh luar biasa…sayang gak bisa dimanfaatkan secara optimal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s