Keteguhan Bu Risma

Kepemimpinan tidak dibangun dalam sehari. Prestasi pun lahir dari konsistensi.

Semalam nonton bareng Mata Najwa bersama istri🙂 ia ikutan berkaca-kaca saat Bu Risma menangis. Bu Risma walau keras, ia tetap perempuan, tetap rapuh saat sendirian menghadapi banyak tekanan.

Saya kagum dengan prestasinya. Tapi selama ini media tak terlalu peduli. Jokowi masih dewa, banyak cukong dibelakangnya. Lain Bu Risma, “saya tidak punya apa-apa” ujarnya.

Hari ini ada dua link bersliweran di linimasa. Pertama, artikel kompasiana yang menceritakan detail tantangan dan upaya-upaya banyak pihak untuk menjegal Bu Risma. Ada upaya DPRD Kota untuk memakzulkan beliau, dan upaya ini didukung oleh semua fraksi, kecuali FPKS.

Yang kedua, link berita dari Merdeka yang spesifik menunjukkan perselisihan Bu Risma dengan PDIP Surabaya, parpol pengusungnya.
Sosok Bu Risma yang bukan orang PDIP ternyata menimbulkan penolakan, bahkan sejak sebelum resmi dicalonkan sebagai Calon Walikota.

Kebijakan Bu Risma di kemudian hari juga berbenturan dengan partai ini. Misal, dengan berani ia melawan logika pasar dan berupaya menutup Gang Dolly, tapi partai menganggap itu sebagai sikap yang “anti-wong cilik”. Ironis sekali politik Indonesia ini.

Membaca dua berita itu, saya jadi paham kenapa semalam ada seorang rekan yang membuat status berbeda, di tengah hingar keterpesonaan khalayak awam pada Bu Risma. Teman ini menulis (kurang-lebih saduran bebasnya begini):
“Kenapa baru sekarang Bu Risma diangkat setelah sekian lama berjuang sendirian?”

Membaca lika-liku Bu Risma, saya mendapatkan pelajaran berharga:

  1. Masih ada orang baik yang layak jadi pemimpin, yang bekerja bukan untuk pencitraan tapi pengabdian, dimana Allah selalu ada di hati mereka..
  2. Tugas kita sebagai warga adalah MENCARI dan MENDUKUNG orang-orang baik tersebut. Dukungan dalam sistem politik Indonesia berarti SEKURANG-KURANGNYA memilih orang baik tersebut dalam pemilu/pilkada. Jangan GOLPUT karena itu hanya akan membuka pintu bagi para durjana untuk memimpin kita.
  3. Sudah saatnya wacana “politik adalah kekuasaan” kita tumbangkan! Mari bangun wacana baru, bahwa “politik adalah amanah dan pengabdian” Wacana itu perlu kita tanamkan paling utama pada diri sendiri sehingga memunculkan kesadaran dan laku politik baru pada kehidupan kita.

Memang jalan yang panjang, namun kembali, pemimpin tidak lahir dalam satu hari.

17 responses to “Keteguhan Bu Risma

  1. sya barusan nonton di yutub. saya tdk ingin mengatakan ini, tapi melihat video tsb meyakinkan saya bahwa sistem yg ada skrng (demokrasi) menunjukkan watak aslinya, bagaimana mereka yg berkuasa lebih mewakili kepentingan partai. utk kasus bu risma, kebijakan beliau tdk didukung oleh partai, pdahal kebijakan beliau utk kepentingan rakyat, lantas partai mewakili siapa..

  2. melihat perpolitikan di indonesia sangat bingung. jokowi diliput baik kataya dibelakang ada cukong, bu risma baik minim liputan. dikatakan ….?

    ah jadi tambh yakin tuk masih golput nantinya lah.

  3. Nyoblos tw golput hak kt..mmg..tp sampai kpn diam.nyoblos mrpkn bntk bergerak..bhw kita layak dpt pemimpin yg lbh baik..hati kita tau sbnrnya mana pemimpin yg benar dan yg salah..
    Memilihlah dgn hati
    *:-D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s