Tidak Perlunya ‘Tahun Baru’

images (6)
Dalam fikiran sempit saya yang hanya lulus SD di sekolah inpres sudut kampung ini, sungguh tidak ada nilai manfaat dari perayaan tahun baru yang begitu berlebihan. Saat semua tumpah ruah di jalan dengan pakaian ala korea dan farfum menyengat entah merk apa. Hilir mudik berboncengan di jalan dengan motor matic edisi terbaru yang masih kredit. Ada yang sedikit keren menunggangi mobil pemberian bapak dan berkumpul mengelilingi seonggok kacang goreng dan minuman bersoda. Kelas yang lain mungkin sedang duduk manis di cafe, di pinggir pantai, ditengah tanah lapang diantara dentuman music yang hingar binger. Hanya untuk menunggu jam berdentang tepat ditengah malam, lalu serentak meniup terompet.. preeet preeeeeeet.. preeeeeeeeetttt.

Besoknya bangun tidur kesiangan, melewatkan sholat subuh, jalan-jalan menjadi kotor karena sampah yang berserakan dari kulit kacang hingga botol minuman keras. Tidak ada yang akan berubah dengan meniup terompet, gaji tidak naik, masih jadi pengangguran, masih banyak hutang, masih banyak masalah. Satu-satunya terompet yang bisa membuat perubahan hanyalah terompet sangkakala. Ketika terompet itu yang berbunyi, sekali saja, maka pengemis, pengangguran, koruptor, boyband, artis korea, bintang film india, presiden dan calon presiden, siapapun semuanya akan mati, termasuk para blogger.

Jadi untuk apa perayaan malam ini?
Maka lebih bijak rasanya memanfaatkan momen ini sebagai titik evaluasi, menimbang-nimbang segala perbuatan dan membuat perencanaan untuk mengisi tahun 2014. Berencana untuk menjadi lebih baik. Mungkin kita punya sejuta harap tentang perubahan di tahun yang kan datang, mungkin ada yang berencana untuk naik haji tahun depan, menikah, menamatkan kuliah, melanjutkan kuliah ke luar negeri, membeli HP atau sepatu baru. Di tempat lain, mungkin ada yang berencana untuk naik pangkat, menduduki posisi baru, menjadi presiden ataupun ketua RT. Aburizal Bakrie, Hatta Rajasa, Wiranto dan seonggok tokoh lainnya juga akan menyusun rencana untuk menang 2014. Karena kita semua punya harap tentang kebaikan di tahun yang akan datang, maka mari kita mulai juga dengan kebaikan, jangan larut dalam aktivitas yang tidak bermanfaat di malam tahun baru ini.

Seperti tahun lalu, malam ini panggung hiburan mulai tegak disetiap jalan kampung. Nanti malam akan ramai dihoyak artis kampung(an) yang berdandan seronok, berlagak seperti artis populer. Terompet berwarna warni berjejer disepanjang jalan. Tempat tempat hiburan bersolek agar banyak yang berkunjung, Pos-pos pemuda pun telah siap dengan ban bekas yang akan dibakar. Semoga tidak ada yang menyuguhkan beberapa kantong minuman keras disana.

Begitulah, tak ada yang beda disetiap tahun baru, orgen tunggal dan berduyun ketempat hiburan seakan menjadi ritual wajib yang mesti dilakukan. Tidak ada guru atau ustadz yang pernah mengajarkan perayaan ini, tidak juga di dalam buku apalagi alqur’an. Inilah kebiasaan yang mendarah daging menulang, tak lekang-lekang dari tahun ke tahun.

Kita memang bangsa yang latah, bermental terjajah, tak bangga dengan jati diri. Kiblat kita salah arah, lurus mengikut budaya barat. Tidak ada manfaat dari perayaan tahun baru, tapi itulah kita, ketika kita lihat orang-orang di belahan barat sana melakukannya kita lantas menganggap itu sebagai sesuatu yang pantas untuk ditiru. berduyun-duyun ke cafΓ©, berduyun duyun ke tempat hiburan, mencicil tabungan dosa di sudut-sudut yang remang. Larut dalam aktivitas yang tidak bermanfaat.

Adakah tahun dimana kita tidak menemukan malam tahun baru tanpa hingar bingar orgen tunggal dan pekak terompet? mungkin dulu, dulu sekali ketika zaman masih berbendi berpedati, masa ketika Midun dan konconya rajin memadati mesjid, atau masa ketika Siti Nurbaya mulai mengeja alif ba ta di surau kampung, entahlah.

Dan malam ini saya akan memilih untuk meringkuk saja di rumah dan tidur lebih cepat. Berharap akan ada gerimis, sedikit hujan, atau lebat juga tidak apa, seperti hari-hari lalu, sekedar untuk membasahi malam agar perayaan ini batal, agar tak banyak maksiat menyeruak disana sini. Dengan begitu saya pun bisa tidur lebih nyenyak, bangun disepertiga malam untuk mengadu pada-Nya dan dalam hening menghitung-hitung diri.

Dan saya tidak akan pernah mengikuti perayaan ini.

sumber image: DISINI

Iklan

15 responses to “Tidak Perlunya ‘Tahun Baru’

  1. Teteh jg ngga pernah tuh merayakan nyambut tahun baru, cukup keluar rumah atau buka jendela kamar buat melihat warna-warni kembang api yg disundut para tetangga, tinggal di perumahan baru dan dikelilingi apartemen, bikin tiap malam tahun baru sangat rameeeee.
    Paling ucap selamat tahun baru sama tetangga yg kebetulan berpapasan.
    Udara minus di luar bikin males keluar hehe
    Met memasuki thn 2014 yaa semoga aehat selalu..semoga menjadi sosok yg lebih baik dan berguna bagi sekitar kita, dan senantiasa diberkahi Allah SWT ..aamiin.

  2. dan yang lebih parahnya dirumah sakit tempat saya bekerja juga ada perayaan tahun baru…..
    weleh weleh… semoga aja g ada pasien jantung malam ini yang dirawat di rumah sakit…

    semoga tidak ada pasien yang merasa terganggu…..

    tadi sore sudah ada beli mercun, kembang api, bakar ayam….
    hadeeeehhh…….
    pusing saia….
    untung saja hari ini dinas sore, jadi g ikut sumbangan.. hahhaaaa…

  3. Mamakak seh urang disakaliliang rumah da…. lalok jd tasintak tiok sabanta…. Padahal lah berharap hujan labek…

  4. Iya Da, saya juga ga melihat perlunya selebrasi semacam itu.
    Kemaren jam 9.30an sudah tidur dan bangun jam 4 pagi. Segar rasanya. Hehehe
    Selamat tahun baru Da.. πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s