Anak Penjual Lontong

X0RTQzAwNTktS0ZLLmpwZw==
Dari dulu saya lebih suka membeli makanan apa saja dari pedagang-pedagang kecil. Dari mereka yang mesti mendorong gerobak jualannya di sepanjang jalan, dari mereka yang hanya punya petakan 2×2 untuk menggelar dagangan dan dari mereka yang mangkal di pinggir-pinggir jalan. Disini harga kadang lebih murah, sesuailah dengan isi kantong mahasiswa yang seperti saya.

Tapi pilihan untuk berbelanja ke pedagang kecil bukan semata soal pertimbangan harga. Ini seolah seperti sebuah rasa senasib sepenanggungan. Saya serasa melihat orangtua sendiri saat melihat pedagang-pedagang itu. Karena jauh di kampung sana, ayah dan ibu juga berjuang menghidupi kami dengan berjualan lontong, sate dan mieso. Terbayang keletihan mereka, kepayahan, termenung menunggu pembeli, mengumpul receh demi receh, berkawan hujan dan panas. Pedagang disinipun tentulah punya derita yang tidak jauh beda.

Saya faham betul ekspresi kebahagiaan ibu saat jualannya dibeli orang. Saya hafal pula bagaimana caranya tersenyum saat menghitung uang setelah jualan habis terjual. Dan saya tahu pedagang-pedagang disinipun akan sangat bahagia jika ada yang berbelanja ditempatnya. Melihat kebahagian mereka itu juga membuat saya bahagia. Dan setiap kali membeli lontong ke pedagang-pedagang kecil, saya selalu berdo’a semoga lontong ibu di kampung juga laris dibeli orang.

Meskipun hari ini ibu tidak lagi menjual lontong, saya tetap membeli lontong dari pedagang-pedagang kecil. Semoga dengan begitu mereka punya tambahan rezeki untuk menyekolahkan anaknya setinggi mungkin. Sebagaimana ibu dan almarhum ayah dulu dengan modal berjualan lontong telah mengantarkan kami bertiga ke bangku kuliah.

————————-
Terima kasih untuk semuanya bu, yah
Maaf jika bakti kami masih sekedarnya.

sumber image: DISINI

18 responses to “Anak Penjual Lontong

  1. jadi inget pas ke kampung halaman kemarin bro, tiap pagi aku gowes buat ketemu pedagang pedagang kecil buat interview dan memotret mereka, sayang nggak byk yg bisa kupotret krn waktu yg mepet

    Salut sama perjuangan ibu dan alm. ayahmu bro

  2. Takana Amak (almh) jo abakambo (alm) dari pagi sampai malam manggaleh di pasa kampuang jao, Inyo bakato ka kami anak2nyo, bialah kami panek sarupo iko, tapi hati kami sanang kalau kalian taat baagamo, sumbayang indak tingga, malam mangaji, sudah tu harus sakola ka sadonyo, nan kami harok-an ka anak2 kami, kalau alah gadang bisuak jan sampai kalian hiduik manjadi baban dek urang, Bilo takana nasehat itu, kalua surang aia mato, tarimokasih amak jo abak, semoga Allah maampuni doso, manyanyangi dan malapangkan kubua amak jo abak, aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s