Kami Anak Ayah

IMG_20130106_105744

Jelas ayah bukan seorang sarjana tetapi ia penuh tanggung jawab. Seluruh lakon tentang pencari nafkah ia perankan: menjadi tukang las di bengkel, menjadi petani, pencari getah karet, menjadi tukang becak, membuat perabotan, menjadi tukang ojek dan pengumpul barang-barang bekas. Berkawan terik panas, hujan lebat dan beban-beban yang berat. Selagi halal tidak ada yang membuatnya malu mengais rezeki dari pintu manapun.

Ayah memang keras tapi juga humoris, perpaduan yang unik. Ia hangatkan rumah dengan canda-candanya yang konyol dan membuat kami terpingkal-pingkal. Ayah jugalah yang mendongeng sebelum kami tidur, kemudian ia memeriksa seluruh jendela untuk memastikan semua sudah terkunci, lalu duduk membaca alqur’an di bawah redup lampu 5 watt yang listriknya berasal dari rumah tetangga.

Ia laki-laki penuh cinta. Cinta yang jarang terucap lewat kata, tapi lahir dalam pengorbanannya yang panjang untuk keluarga ini. Ia akan berusaha keras memberikan apapun yang anak-anak lain dapatkan dari orangtua mereka. Saat teman-teman dibelikan pistol-pistolan, ayah buatkan sendiri senjata laras panjang dari kayu. Saat teman-teman mempunyai mobil-mobilan, ayah buatkan sendiri miniatur bus dari papan. Ketika teman-teman memiliki video game, sega, helicopter remote control, ayah akan menghiburku.. mengajakku untuk melakukan permainan lain, ada ketapel, gasingan dari biji ubi kayu, perahu-perahu dari batang talas atau mengajariku mengambar.

Aku bangga padanya, dengan seluruh keterbatasannya ia tidak pernah menyerah. Aku bangga karena ayah yang bahkan tidak pernah duduk di bangku SMA ini telah mengantarkan ketiga anaknya ke bangku kuliah, dan air matanya menggenang saat menghadiri wisuda-wisuda kami. Ia tersenyum, senyum yang sama dengan saat ia harus membuatkan lemari kaca untuk menampung seluruh piala-piala juara yang kami bawa pulang saat menerima rapor sekolah.

Hari ini setahun sudah rumah ini tanpa hadirnya. Kematian memang telah memisah raga-raga untuk bertemu, tapi hati masih berkumpul. Masih ada rindu untuk melihatnya tersenyum dari balik pintu ketika pulang. karena ia lah ayah terbaik.

———————————

Ayah, kami mencintaimu, jika ada kehidupan kedua, ketiga dan berkali-kali kehidupan ini diulang, aku tetap ingin menjadi anakmu, anak ayah.

semoga Allah mengampuni segala dosa, dan melapangkan kuburmu. aamiin

Iklan

48 responses to “Kami Anak Ayah

  1. udaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
    aku berkaca2…….. hiks
    😦 😦
    semoga ayah tenang disana dan mendapat tempat yang layak disisinya amin 😦

  2. you know,it was very sad,,catt ini sggh sgt mnyentuh, very like it…
    be a nice boy, anak sholeh , and keep to give him pray….
    smg bisa mjd ayah yg lar biasa buat anak2 bapak nnt..,Insyaallah

  3. Ping-balik: Hari Ayah Tanpa Ayah | RANGTALU·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s