Kalkulator

Dan hujan air mata pun tiba, berbarengan dengan dimulainya Ujian Akhir Semester. Aku harus minum banyak-banyak biar nggak kekurangan cairan.

Ujian pertama : statistika

Aku nggak tidur semaleman buat persiapan ujian ini, kalkulator sebagai senjata utama sudah disiapkan, udah dimasukan ke saku celana tiga hari sebelum ujian. Takutnya aku lupa nggak bawa kalkulator lagi kayak waktu Ujian Tengah Semester.

Berangkat ke kampus penuh percaya diri, dengan persiapan yang matang dan kalkulator teknologi mutakhir di saku celana, nggak ada yang bisa menghambat kelulusanku pada mata kuliah ini, lihat saja.

Soal-soal ujian dibagikan, aku baca sekilas, ada satu-dua soal yang kayaknya nggak bisa aku jawab. Sisanya, he he he, nggak beda jauh sama yang aku pelajari kemaren malam. Nggak percuma aku begadang semalam suntuk. Aku bisa dapat nilai C, malah mungkin bisa jadi B. Dadaku berguncang saking senangnya. Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkan kalkulator dari celana.

Aku terkejut setengah mampus waktu kalkulatornya aku letakkan di bangku. Layarnya berubah menjadi aquarium mini! Teman kos pasti salah nyuci celana, nyuci tanpa sepengetahuanku. Ternyata ujian hari ini nggak hanya ditentukan oleh apa yang aku perbuat tetapi juga ditentukan oleh apa yang teman kos ku perbuat.

Dengan panik. Aku nyalakan kalkulatornya. Nyala! Aku menarik nafas dalam-dalam lagi, lalu aku pencet angka dua buat uji coba. Angkanya muncul sebentar di layar, lalu tenggelam dan dan menghilang! Angkanya nggak bisa berenang. Kalau angka dua yang kayak angsa saja nggak bisa berenang, gimana angka yang lain?

Aku berlari ke meja pengawas ujian dan bersujud di kakinya. Nggak sedramatis itu sih, he, tapi yang jelas aku mengiba-iba minta dipinjamkan kalkulator.

Pengawas ujian itu mengaduk-aduk isi tasnya

“kok nggak ada, ya?” tanyanya. “Biasanya saya bawa”

Aku menunggu dengan kaki menghentak-hentak ke lantai

“mungkin di ambil anak saya”, kata pengawas ujian itu lagi. Tangannya masih membolak balik isi tas

“cari terus, Pak!” aku member semangat.

“nggak ada”

Aku kembali ke bangku sambil jalan sempoyongan kayak orang mabok. Aku kerjakan soal-soal semampuku. Tanpa kalkulator, aku bekerja sangat-sangat lambat dan akurasi hasil perhitungannya sulit dipertanggungjawabkan. Pake kalkulator aja suka salah-salah, gimana kalau nggak pake?

Sampe waktu ujian tinggal lima menit lagi, aku baru bisa ngerjain satu soal. Kalau saja ada kalkulator, minimal aku bisa ngejawan lima soal, mataku jadi mendung.

Empat menit lagi. Aku masih mengerjakan soal yang sama

Tiga menit lagi. Pengawas ujian mendekatiku

“Kalkulatornya ketemu, keselip dalam tas” katanya sambil cengengesan. “Pake aja dek, kalkulatornya, jangan sungkan, anggap kalkulator sendiri saja”

Aku berhenti mengerjakan soal, lalu aku lihat kalkulator di bangku tanpa menyentuhnya. Aku seperti orang dari zaman batu yang dilempar ke masa depan lewat lorong waktu. Aku terus melihat kalkulator itu sampai waktu ujian habis.

“waktunya habis, kumpulkan, kumpulkan” pengawas ujian berteriak-teriak

Mataku yang mendung mulai hujan

Badan Meteorologi dan Geofisika meramalkan hujan ini akan berlangsung samapai Ujian Akhir Semester selesai, dan mengakibatkan banjir di beberapa mata kuliah.

#memory

25 responses to “Kalkulator

  1. Barusan saja terjadi pada saya (dan sudah sempat ada rencana menuliskannya, tapi karena sudah ada yang nulis jadi merasa terwakili :D)

    Ujian mata kuliah ergonomi dan faal kerja (asli lupa membawa, akhirnya 5 menit sebelum waktu habis baru bisa pinjam teman yang sudah selesai, usai memberanikan diri melapor ke bapak pengawas), praktikum hiperkes (tidak mendapati kalkulator, alhamdulillah bisa pinjam)

    eh pak, gak mau pesen baju komunitas kah :D?

  2. Dapek apo nilai akhirnyo?

    Nais stori! lamak gaya mancaritokannyo. Hebat!
    Tabayang bisa dijadikan video pendek lucu (menyedihkan). he he

      • Yo lah kanai kicuah sadonyo!. Ndak nyadar wak kawan banamo-mirip ko kuliahnyo di Hukum dulu.
        Dihukum bara tahun? He he.

        Translated to Bahasa Indonesia:
        Ya… ternyata kena tipu kita semuanya!. Tidak sadar saya bahwa kawan bernama-mirip ini dulunya kuliah di Hukum.
        Dihukum berapa tahun? He he.

  3. tapi eunak juga se bisa berenang, airnya mencukupi kan setelah hujannya??
    Karena di sini panas kale, dah lama ga hujan
    jadi tolong diayangi lha airnya
    hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s