Prestasi dan Iman

Dalam Islam tidak ada pemisahan antara iman dan prestasi (amal), ia merupakan satu kesatuan yang harus disebut dalam satu nafas atau seperti dua sisi dari satu mata uang.

Ilustrasi itu serupa dengan aksioma Ilahiyah tentang kewajiban setiap muslim untuk merealisasikan hubungan vertical (hablun minallah) dan horizontal (hablun minannas). Sebab jika iman hanya ditafsirkan sebagai tanggung jawab moral atau hanya sekedat percaya kepada allah dan menvampakkan nilai amal saleh, maka hal itu dinyatakan invalid secara logika dan agama.

Maka dampak dari kegagalan penyatuan dua hal tersebut akan melahirkan sosok pribadi muslim yang angkuh, egois, individualis dan meterialis serta tidak memiliki rasa tanggung jawab moral yang berdimensi luas. Hidup baginya hanya sekedar berkreasi tanpa iman, bahkan kerap menjadi lebuh berbahaya bagi budaya manusia itu sendiri, karena konsekuensi hasil kreativitas tersebut nanti akan menjadi boomerang bagi umat manusia itu sendiri. Bukankah kemajuan prestasi tekhnologi sekarang ini sudah banyak kita rasakan dampaknya bagi budaya umat manusia?. Demikian bagi mereka yang imannya tidak dibuktikan ke dalam bentuk prestasi amal hanya akan menciptakan dunia jumud, extremis dan life (jiwa) strong atau non realistis.

Barangkali pembicaraan ini dapat kita sederhanakan kepada pembaguan rasional dan sistematis untuk membedakan perilaku manusia ke dalam empat kelompok:

Pertama, individu yang mampu mengaktualisasikan iman ke dalam bentuk kreativitas, maka tampak dari pribadi seperti ini semangat prestatif sebagai seorang muslim yang telah terpanggil untuk menjadi sebaik-baik umat.

Kedua, kreativitas yang tidak dilandasi oleh iman serta rasa tanggung jawab moral yang luhur, maka sikap ini hanya melahirkan tipe manusia materialis secular. Ia hanya model manusia blind (buta) yang hanya busa berjalan namun tidak dapat melihat dengan tajam situasi lingkungannya.

Ketiga, seseorang yang hanya memiliki petensi iman, keyakinan dan cita-cita namun tidak memiliki kekuatan amal kreatif, tipe ini manusia lumpuh yang mempunyai cita cita tetapi tidak pernah mampu mewujudkannya dalam dunia real. Kerap kali model individu ini terperosok sebagai manusia jumud serta penghayal sebagai manusia superclass.

Keempat, individu terakhir ini adalah manusia paling sial dan nista. In adalah manusia yang tidak memiliki landasan keimanan dan juga tidak mempunyai dorongan untuk beramal dan berkreasi. Tipe ini benar-benar hanya sebagai objek dan sampah masyarakat.

Sehingga realita kehidupan kawula muda dapat dirasakan adanya kontradiksi tentang sikap mereka terhadap iman dan prestasi. Kongkritnya dapat kita bagi dalam tiga golongan:

1.Mereka kelompok terbanyak yang tidak berpegangan terhadap ahatan agama, ia hidup bbas tanopa adanya ikatan. Segala kreativitas sama sekali tidak berlandaskan iman. Hidupnya hanya kegiatan makan, minum, berpakaian, bermain dan bersenang senang. Halal bagi mereka adalah sesuatu yang mudah diperoleh walaupun sebenarnya haram, sedang haram baginya sesuatu yang sulit dicapai walaupun sebenatnya itu halal.

2.Kelompok plin-plan, mereka yang masih mencampuradukkan antara amal saleh dan kreativitas buruk, tidak ke sana dan juga bukan ke sini, ia tidak memiliki semangat imaniyah yang mapan serta kurang respek terhadap amal saleh. Sebetulnya mereka hanyalah generasi lanjutan dari kehidupan masyarakat itu sendiri yang telah mencampuradukkan perbuatan saleh aktivitas buruk, kemudian jejaknya itu diikuti oleh mereka, sehingga kelompok ini terkadang lurus (istiqomah) kemudian menyimpang, sebentar taqwa dan sebentar lagi lacur, setia-ingkar, terpercaya-khianat, bersahabat-bermusuhan, cinta-benci, zuhud-tamak, derma-kikir, jujur-dusta, dan seterusnya serupa sikap kontradiktif dan berlawanan lainnya.

3.Adapun kelompok ke tiga ini adalah mereka yang kuat berpegangan pada tali agama, bersemangat bersama jiwa mudanya, penuh gairah dan aktif, senantiasa berbincang dan berdakwah kepada aktivitas imaniyah. Mereka adalah kelompok yang mukhlis mengingkari segala aktivitas mungkar yang terdapat dalam masyarakatnya, sehingga kerap demi memperkuat pertahanan, eksistensi iman, mereka membentuk kelompok-kelompok kopentatif demi meningkatkan semangat prestatif dan mampu mengaktualisasikan iman ke dalam bentuk kreativitas nyata.

Seseorang akan melahirkan prestasi imani dan amali apabila ia menata dalam tiga dimensi besar, yaitu:

1.Kesadaran diri bahwa hidupnya harus memberikan arti bagi dunia dan bermakna bagi akhirat. Hidup penuh dengan amal prestatif dan diakhiri dengan bentuk kematian yang penuh dengan cahaya imani.

2.Sadar bahwa hidupnya tidaklah sendirian, tetapi bergaul dalam tatanan masyarakat yang dinamis dengan segala problematikanya.

3.sadar dan mempunyai prasangka baik bahwa dirinya adalah ciptaan Allah yang sempurna dan mempunyai berbagai possibilitsi (kemungkinan) untuk dapat maju.

Untuk itu setiap muslim harus melakukan semacam perenungan yang mendalam untuk melihat tiga dimensi kesadaran ini, sehingga ia mampu menyimpulkan dalam satu kalimat pendek: “Aku sebenarnya mampu berprestasi”.

Selanjutnya, agar kreativitas itu berkesinambungan, maka kita harus berusaha melewati garis garis kreativitas secara kontinyu seperti ikatan mata rantai yang saling mengkait, mulai dari:

Pemahaman yang benar terhadap islam dengan melalui jalan tafaqquh fi dien, bukan sekedar membaca diktat sebagai persiapan menghadapi ujian tulisan dan lisan.

Penanaman keyakinan dan potensi iman secara mendalam.
Kecintaan kepada sesame individu muslim.
Ini semua secara otomatis akan melahirkan kesadaran jati diri yang tinggi dan mendalam.

Pada akhirnya muncul sebuah aktivitas, krestivitas yang berkesinambungan, istiqomah, terus-menerus sehingga antara prestasi dan iman memiliki keseimbangan.

Dengan demikian, sebagai calon intelektual dna ulama, syababul yaum rijalul ghod yang handal, hendaklah tidak hanya berhenti dan puas di buku-buku diktat saja, atau terpaku dengan prestasi naik tingkat atau terpana dengan rasib (kegagalan) dan mafsul (drop out). Semua itu adalah upaya dan janganlah berhenti, peningkatan iman dan amal sangat terbuka, maka lakukanlah pendalaman dari berbagai kegiatan yang bermanfaat. Selanjutnya jika semua upaya dan kewajiban telah kita jalankan sambil kita berdoa kepada Tuhan semesta alam agar segalanya berada dalam ridha-Nya. Amin…

Iklan

8 responses to “Prestasi dan Iman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s