Kilometer Menuju Kuburan

Runtuh lagi air mata di sudut-sudut yang dingin. hari ini salah seorang teman kantor, pulang dalam usia muda. Isak tangis membasahi tanah merah di bawah pohon kamboja yang luruh diam menjelang beduk berbuka. Di pusara kita penuh sesak dalam ekspresi berbeda, ada yang sekedar ingin menampakkan muka lalu merasa berat mengantar ke pintu kubur, ada yang sekedar datang mengantar tangis lalu hanya mempersendu rumah duka, dan ada yang datang untuk menunaikan kewajiban dan belajar membaca peringatan tuhan lewat kain kafan yang disobek, lewat liang lahat yang sempit, lewat tanah yang ditimbun.. sesuatu yang kelak juga menjadi bagian dari sejarah hidup kita,

ya nanti.. kelak ketika nomor antrian nya sudah sampai pada giliran kita, dan itu tidak akan lama lagi.

Beberapa kilometer dari tempat saya berdiri, telah terbujur kuburan yang nama saya tertera di nisan nya. Makin jauh berjalan, makin dekat dengannya, setelah perempatan ini hanya beberapa kilometer lagi.. mungkin tepat pada sebuah tikungan tajam yang dulu sering kita perdebatkan.

Dan dari begitu banyak judul kematian, saya ingin kematian yang menggetarkan, getar kerinduan penuh pada syahid. Kerinduan yang mesti terus dipupuk pada beberapa kilometer yang tersisa pada jalan yang bernama Ramadhan..

Dan jika waktu itu datang, saya tahu ada banyak hal difikiran ini yang belum sempat saya sampaikan kepadamu kawan..

6 responses to “Kilometer Menuju Kuburan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s