Ustadzah Telah Pulang

Ustadzah Yoyoh

Beruntun sms yang masuk sejak dini hari tadi, dengan sebuah kabar yang sama “ustadzah Yoyoh Yusroh telah pulang, ia tidak disini lagi, pulang sudah menuju Rabb nya”. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Ada yang membasahi mata saya, entah kenapa, padahal saya tidak pernah bertemu langsung dengannya, hanya kenal nama dan baktinya saja. Hal yang sama ketika dulu saya mendengar kepergian Ustadz Rahmat Abdullah..

Di pintu pemakaman, beribu mata akan tertunduk sendu. Satu mujahidah tengah berjalan untuk menemui janji Tuhannya. Tidak ada peti mati berbendera seperti tersemat pada kematian penguasa di negeri ini. Tidak juga ada barisan dengan tembakan salvo, berderam membidik langit yang luas terbentang. Tetapi ada ribuan bait doa mengelilinginya, mengantarkannya turun perlahan ke rahim bumi. Tiap kepala akan kian tertunduk, tanah menjadi basah karena keringat perjuangan dan air mata.

Awan hitam menggantung canggung di langit yang lengang. Ada yang tersisih keselatan, tipis dan sia-sia. Gundukan tanah merah dan sepancang nisan dengan taburan bunga membentang disetiap mata. Berbaris sedih bergelayut di hati. Sedih atas kepergiannya, sedih karena kehilangannya, sedih atas diri kita sendiri yang belum bisa berbuat banyak seperti dirinya, sedih atas ujung perjalanan yang tak tau dimana. Di medan jihadkah? Di bilik rumahkah? Atau di kubang maksiat…

Ribuan isak disetiap sudut negeri, ribuan kaki memadati pemakaman, ribuan ucapan dipertunjukkan. Untuk apa sebenarnya mata kita ini menangis? dan perlukah kata kehilangan kita ucapkan untuk sebuah bingkai basa basi, sementara kita tak pernah merasa memiliki ketika ia masih ada, mengabaikan taushiyahnya. Tapi apakah itu sungguh berarti baginya? Itukah yang dicarinya sampai jauh..? Tidak, bukan itu.

Ini semua untuk kita, tempat kita merenung mengingat kematian. Membayangkan ucapan seperti apa yang ingin terlontar dari para pelayat di hari pemakaman kita. Ia tengah memberikan taujih akhirnya untuk kita. Kematian ini adalah judulnya.

Dalam sunyi seperti ini, merenunglah sejenak. Cukupkah karangan bunga yang bertaburan, menyerpih dibatu nisan untuk semua kontribusinya? Sebentar lagi juga akan mengering. Hitam. Sia-sia. Bukankah lebih layak ada sepenggal doa ikhlas dari hati untuknya. Cukupkah ramai kita di pemakamannya hanya untuk detik-detik ini saja, setelah itu lengang sudah. Hanya berteman dedaun gugur. Kenapa tidak kita tambah dengan upaya nyata melanjutkan impian dan citanya.

Dan wahai jiwa-jiwa yang mengazzamkan dirinya untuk jalan ini, menangislah jika bakti tak lagi hadir dalam rangkaian hari, menangislah jika kesibukan telah menjadi alasan untuk melalaikan amanah. Ah, jika kematian akan hadir sebentar lagi, cerita apa yang telah kita tulis?

Ustadzah telah pulang,
Ribuan bait do’a dari Padang.
——————————————–
Ustadzah Yoyoh Yusroh, guru kita, mujahidah da’wah, selamat jalan ustadzah
Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah, irji’i ilaa rabbiki radhiyatum mardiyah, fadkhulli fi ibadi, fadkhulli jannati
——————————————–

13 responses to “Ustadzah Telah Pulang

  1. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun

    orang baik yang selalu meninggalkan jejak keindahan di setiap langkahnya akan selalu dicintai banyak orang. ada banyak yang saat ini merasa kehilangan beliau, saya pun demikian.

  2. padahal anaknya baru saja di wisuda tgl 19 T.T, sewisma dengan teman ana.. tdk menyangka..

    kullu marhalatin, rijaluhaa(mar’atuhaa), adakah penggantinya?

  3. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun..
    maut itu misteri Illah tinggal kita siap atau tidak menghadapinya karena bila sudah tiba waktunya tiada yang kuasa untuk menolak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s