Saya Letih Kawan

Saya letih kawan, sungguh letih. Tapi bukan karena setumpuk karung beban yang kita bawa, karena ia hanya sekedar membuat bungkuk, tapi tidak letih. Juga bukan karena jalan ini penuh duri dan mendaki, bukankah kita sudah terbiasa berkawan dengannya. Letih ini juga bukan karena haus yang tak bertemu telaga, tak pernah kita harapkan itu bahkan dalam mimpipun tidak. Karena sudah cukup bagi kita sedekah dari embun pagi dipucuk-pucuk daun.

Saya letih, karena fikiran ini memutar roda rantai yang panjang, berkelana dari timur ke barat. Menakar timbangan-timbangan yang jamak, tetapi sayang hanya focus dengan satu neraca. Memandang luas bentang alam dari satu lubang intip yang teramat kecil. Jadilah saya egois mensejajarkan pendapat sebagai sebuah teorema absolut. Memaksakannya dicatat di dalam kitab-kitab sarjana. Lalu berdiri membelanya seperti pahlawan ketiga belas, di batas gerbang utara.

Saya telah lupa meminta fatwa kepada raja. Ia sebenarnya telah mengirim kurir dengan kuda putih untuk menyampaikan pesan yang tertulis dalam kertas kayu papyrus. Tapi tidak saya pedulikan. Saya terlalu jumawa dengan pangkat kopral ini, akhirnya merasa paling benar. Petantang petenteng  dihadapan para jendral. Menggertak dengan mengacungkan pistol kayu. Aah, dasar kopral bodoh, tidak peduli dengan titah raja. Pulang lah.!!

Ya, itu dia. Pulang.

Saya ingin pulang untuk mengobati letih ini, menjenguk dan meminta fatwa kepada raja.

Tapi saya ragu tiap persimpangan jalan menuju kesana, meskipun begitu saya masih ingat dengan satu tikungan tajam yang telah membawa saya sampai dihadapanmu kawan. Saya tidak tahu apakah taman istana raja masih berbunga atau sudah penuh ilalang dan perdu. Yang jelas saya harus pulang kesana, segera sebelum letih ini beranak pinak dan membangun dynasti baru, bernama futur.

Saya harus segera pulang, mungkin raja saya sedang sakit, ia mesti dijenguk, ia pasti butuh ditemani.. Saya harus pulang, mengetuk lagi pintu bilik yang dulu saya sering menangis disudutnya, mengeja ayat-ayat langit dalam bisik yang lirih, lalu tersungkur kearah matahari terbenam. Hingga rakaat terakhir bertemu suara lantang Bilal di subuh buta.

Kawan saya pamit pulang dulu, sebentar saja mengambil bekal di bilik raja. Besok pagi saya akan kembali lagi ke ladang kita untuk menabur benih-benih itu. Biar saya bawakan beban-beban yang tertinggal, mengusungnya hingga batas cakrawala. Berjalan terus menemui takdir saya di puncak tertinggi dalam peluk hangat semesta.

Karena saya berpantang untuk lari dari kenyataan.

Iklan

14 responses to “Saya Letih Kawan

    • si cerek di tapi banda, akh
      kok rabah ka ba a juo lai
      ambo ketek baru baraja, akh
      kok salah ka ba ajuo lai 🙂

      levelnyo masih bawah, lamo masuak stage 2 lai

  1. assalamu’alaikum..

    petuah itu indah.. menjadikan hidup senantiasa bergairah.. 🙂

    salam kenal dari banyuwangi mas..

    tuker link sekalian ya.. 🙂 makasih

    salam,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s