Gubernur Kelas Ekonomi

Senin lalu saya dan istri berangkat ke Jakarta, dengan menumpangi Pesawat Garuda GA 162. Kmai memilih duduk di kelas ekonomi, karena itulah kemapuan kami. Dan kami tidak tahu persis siapa saja yang duduk di kelas eksekutif.

Tiba-tiba istri saya melihat Gubernur Sumbar Prof. Irwan Prayitno melangkah ke ruang ekonomi. Tidak ada ekspresi canggung ataupun jijik, ia seadanya saja, seperti kami rakyat biasa. Melihatnya ada di ruangan yang sama dengan kami, kami berbasa basi sejenak dengan beliau, kemudian ia meluncur ke kursinya di bagian belakang. Saya dan istri duduk di kursi 5AB, namun Irwan justru duduk lebih kebalakang lagi, 12 C.

Sebenarnya tidak seorangpun diantara kami yang akan berkecil hati, jika Irwan Prayitno memilih untuk duduk di kelas eksekutif, bersama orang-orang besar yang kami tidak tahu, sebab ia adalah gubernur. Kami senang kalau gubernur duduk di kursi yang nyaman. Namun saya tak percaya, kenapa ia melangkah ke ruang rakyat ini. Bersama kami.

Saya sudah cukup lama hidup, sering naik pesawat bersama banyak orang dari pejabat tinggi Negara hingga orang biasa. Bagi saya ada gubernur rendah hati seperti ini, menjadi obat. Ia tak berjarak dengan rakyat. Ia tampil apa adanya. Menurut saya ada gubernur di Indonesia yang duduk di kelas ekonomi dalam sebuah penerbangan adalah istimewa. Mungkin bagi orang lain tidak. Kabarnya Gamawan Fauzi juga begitu.

Begitulah setelah 90 menit penerbangangan Garuda mendarat dengan mulus di Cengkareng, kami tak bisa pakai pintu garbarata, sehingga harus dijemput pakai bus besar. Semua penumpang kelas ekonomi naik kesana. Juga Gubernur sumbar. Bersama kami ia berdesak-desakan dan bergelantungan. Bagi saya ini memang luar biasa, ketika pejabat lain risih duduk di kelas ekonomi. Bagi saya ini juga sebuah keteladanan,ketika di banyak bandara ada lahan parkir khusus untuk mobil pejabat, persis di mulut pintu kedatangan. Para penumpang kelas eksekutif dijemput dengan mobil khusus, namun karena Irwan duduk di kelas ekonomi, maka naik bus lah ia bersama-sama kami. Bergelantungan, apa adanya.

————————
Saya sadur dari apa yang disampaikan oleh Taufik Ismail kepada Susilo Abadi Piliang, di harian Singgalang
————————

Ah, akhirnya saya rindu dengan Rasulullah, khalifah itu tidak duduk disinggasana bertahta emas, tidak juga ia punya istana nan megah, hanya rumah saja. Kita pun rindu dengan Umar
Semoga Allah member kekuatan kepada Pak Irwan, semoga semua juga bisa belajar dari Beliau.

4 responses to “Gubernur Kelas Ekonomi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s