Si Akhwat Feby, oh Feby

Kemaren, teman-teman di LDK Arruhuljadid STAIN Batusangkar mengundang saya untuk sedikit cuap-cuap di acara SAHABAT “Pesantren Hati Bikin Akrab dan Terbina”. Inilah kali kedua saya pergi ke Batusangkar, orang bilang ini kota budaya, seperti kalimat yang juga tertulis pada gapura selamat datangnya. Kalau tahun lalu saya kesana dengan mobil travel bersama teman-teman Rabbani Training Centre, kali ini berangkat sendirian, dengan motor juang cukuplah. Sebenarnya dengan menggunakan travel akan lebih cepat tapi hal itu akan membuat banyak pemandangan indah di sepanjang perjalanan yang dilalui akan terlewatkan begitu saja. Meski pada akhirnya pilihan saya untuk berangkat dengan sepeda motor harus berhadapan dengan resiko hujan lebat yang mengguyur di sepanjang perjalanan, yang membuat saya harus berhenti dulu sejenak dibeberapa tempat; ruas jalan by pass, Kayutanam, Padang Panjang dan Simpang Kiambang.

Saya memasuki Batusangkar sekitar pukul 5 sore, karena jadwal mengisi acara di STAIN adalah pukul 20:00 maka saya gunakan kesempatan beberapa jam sebelum acara untuk berkeliling Batusangkar, mencari jajanan pengisi perut dan sedikit beristirahat. Magribnya saya shalat di Mesjid Nurul Iman, tidak jauh dari Simpang Kiambang.

Selepas menjama’ shalat saya di telpon panitia

“assalamu’alaikum bang….”, diseberang terdengar suara ramah dan lembut menyapa, suara seorang akhwat.
“wa’alaikumussalam”,
“afwan bang, ana Feby panitia dari STAIN, abang dimana sekarang?” lanjutnya.. oh akhwat itu namanya Feby? Seperti nama artis saja; Feby Febiola.
ana sudah di Batusangkar, baru selesai shalat di mesjid Nurul Iman, dimana lokasi acaranya, ana tidak tahu?”
“tunggu ya bang, ana akan jemput abang kesana” balasnya dari seberang telpon. Terus terang saya langsung kaget. Kenapa mesti akhwat yang menjemput saya, apalagi malam-malam begini.
“atau begini saja bang, abang tunggu dekat pasar saja, nanti ana jemput abang kesana, tunggu ya bang, ana mau berangkat sekarang” lanjutnya tanpa menunggu jawaban dari saya.
“oke, baiklah ana tunggu”

Sayapun bergegas ke tempat yang janjian, sepanjang perjalanan dari mesjid ke pasar, saya menyusun taujih yang lengkap di kepala untuk Feby, si akhwat yang nekat menjemput saya dan juga untuk ketua LDK-nya yang membiarkan seorang akhwat keluar malam hanya untuk menjemput saya, apa tidak ada lagi ikhwan disana. Saya paling tidak suka hal ini, akhwat yang masih mengorbit di tempat umum pada waktu waktu menjelang malam. Kecuali memang untuk hal-hal yang benar-benar mendesak. Dan menurut saya, kalau hanya sekedar urusan menjemput pemateri, apalagi pemateri yang seperti saya ini, bukanlah hal yang mendesak. Seharusnya ikhwan yang melakukannya, atau kalau memang ikhwan tidak ada satupun, tidak masalah juga bagi saya jika mereka hanya me-sms-kan alamatnya, biarlah saya mencari sendiri. Tapi tidak, si Feby ini nekat mau menjemput saya, menjelang malam pula. Ah.

Lima belas menit berteman gerimis saya menunggu di dekat lapangan Pasar Batusangkar, yang akan menjemput belum juga kelihatan batang hidungnya. Taujih sudah siap untuk Feby sekaligus nanti untuk ketua LDK nya. Pesan singkat bahwa saya tidak akan berangkat ke lokasi acara bersama akhwat.

Gerimis mulai berubah rencana, ia mulai menitik lebih deras tepat ketika sebuah sepeda motor menghampiri saya. Si pengendara melepaskan helmnya dan tersenyum kepada saya. Sebelum saya sempat bereaksi, ia sudah menyapa dengan lembutnya.

ojek ilustrasi

“Bang Adrian ya? Ana Feby, afwan ya bang.. sudah lama menunggunya ya bang?” senyumnya tak lekang ketika menyapa, matanya berbinar di bawah temaram lampu jalan.
“yup, Adrian”, saya pun membalas senyumnya, dengan senyum yang tak kalah hangat. Tiba-tiba ia menjulurkan tangannya dan refleks saya pun menyambut uluran tangan itu dan menggenggamnya erat-erat.

Saya tatap lagi ia lekat-lekat dari ujung kepala sampai ujung kaki, saya kembali tersenyum kepadanya. Feby, insan bersuara lembut itu ternyata bukanlah akhwat, ia ikhwan, laki-laki sejati, dengan jakun-jakun, ada beberapa lembar jenggot tipis di dagunya. Dalam hati saya ngakak sejadi-jadinya atas kebodohan dan prasangka aneh yang muncul sejak tadi. Buyarlah seluruh taujih yang telah disusun, alhamdulillah semua tidak seperti yang dibayangkan.

Feby oh Feby, saya mengikuti motornya dari belakang menuju lokasi acara, hujan turun makin deras, dan saya masih tersenyum-senyum sendiri di sepanjang perjalanan.

——————————————–
Pelajaran hari ini :
– mari berfikir positif.
– ada banyak hal yang tidak bisa kita general kan
– setiap pilihan punya konsekuensi.
– yang bersuara lembut belum tentu perempuan

———————————————

glossarium
—————————
Ana : saya
Ikhwan : saudara laki-laki
Akhawat : saudara perempuan
Afwan : maaf

27 responses to “Si Akhwat Feby, oh Feby

  1. 🙂
    nice!
    sepakat tu dengan pelajaran nomer 4.
    yang bersuara merdu belum tentu perempuan.
    dan yang tergelincir mendengarkan suara merdu bukan hanya laki-laki

  2. haha, smpai pada paragraph ketiga, ana sudah bisa menebak ending-nya.
    ya, ada banyak hal yang tidak bisa dgeneralkan.

  3. hehe, betull paragraf ketiga udah bisa ketebak…
    an jg punya temen, namanya feby, muallaf, asal dari Lampung
    mirip akhwat memang (nah lho..apa hubungannya?!)

  4. Ping-balik: www.afriZONE.com·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s