Murabbi, Aku Membencimu

Bang..
aku baru saja melangkah dalam gerimis senja melewati rumah yang dulu kau tempati. Rumah papan sederhana, hitam karena asap, dan aku masih ingat kamarmu dibagian belakang tanpa jendela. Basah telapak menapaki lagi jalan itu, sebelum aku duduk menuliskan surat ini untukmu. Dalam senyap malam basah, ingin kukatakan bahwa aku membencimu.

Aku membencimu, karena kau tidak pernah peduli dengan rasa lelahku, kau selalu memaksaku untuk datang ke halaqah, menelponku berkali-kali hanya untuk mengingatkan jadwal. Padahal aku tidak lupa, hanya malas, malas dengan rutinitas mingguan yang sama sekali tidak berpengaruh untuk nilai kuliah ku.

Aku membencimu, karena kau selalu memotong bacaanku disetiap kali giliranku membaca Alquran. Selalu saja ada salahku, qalqalahku yang tidak tepatlah, huruf ‘ain ku yang bunyinya seperti alif, huruf izhar yang kubuat berdengung. Sehingga aku terlihat terbata-bata dan selalu kebagian jatah membaca Alquran paling lama dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Aku terlihat begitu bodoh di depan teman-teman, dan pada akhirnya aku lebih memilih datang terlambat agar bisa melewati sesi membaca Alquran.. Tetapi lagi-lagi kau memarahiku karena aku datang terlambat. Huh.

Aku membencimu, karena kau selalu bertanya tentang amal yaumiku. Untuk apa? Bukankah itu urusanku dengan tuhanku. Cukuplah malaikat saja yang mencatat setiap amalanku, tidak perlu rasanya kau turut terlibat dalam pekerjaan malaikat. Tapi tidak, kau seperti malaikat di dalam kubur, kau tanya shalatku, puasa sunatku, dhuha ku, tahajjud ku dan tentu saja aku lebih banyak menjawab dengan gelengan kepala. Dan push up berkali-kali akan langsung jadi bayarannya. Hah.

Aku membencimu, karena kau selalu menambah tugas-tugas kuliahku dengan memintaku untuk membaca dan meresume buku yang kau rekomendasikan. Membaca buku Fiqh da’wah nya Mustafa masyhur yang begitu tebal. Kitab tafsirnya Ibnu Katsir, Sirah Nabawiyahnya shafiyurrahman al mubarakfury dan belum lagi tugas untuk mengahafal hadist arbain serta juz 30. Itu semua makin mempertinggi tumpukan tugas-tugas yang membebani hari-hariku.

Sungguh aku begitu membencimu, setahun bersamamu, kau membuat hidupku menjadi sempit, tidak boleh membaca komiklah, tidak boleh mendengarkan musiklah, tidak boleh menyanyikan lagu-lagu pop, tidak boleh terlambat shalat, sampai urusan farfumku pun kau permasalahkan. Hah, duniaku semakin kecil jika sudah berada didekatmu, taujihmu akan panjang lebar jika ada satu salah yang kau temui padaku.

Satu tahun berlalu bersamamu dalam kungkungan, bersama himpitan tugas-tugas dan banyaknya aturan-aturan

Hingga akhirnya hari itu datang, hari yang tak pernah aku bayangkan. Kau pergi begitu saja tanpa satu pesanpun untukku. Kau pergi disaat keinginanku mulai tumbuh untuk berubah, disaat aku ingin memperbaiki bacaan Alquran bersamamu, kau pergi tepat ketika aku butuh bimbingan yang lebih kuat dan dekapan yang erat. Kau pergi terlalu pagi. Dan sungguh teramat kebencianku padamu.

Bang..

Gerimis telah runtuh menjadi hujan, ia pun turun dihatiku, menggenangi semua. Meski ku tahu surat ini tidak akan pernah sampai kepadamu, biarlah kuceritakan pada hujan berharap ia akan mengabarkannya kepadamu, bahwa hari ini aku telah banyak berubah. Bukan lagi seperti yang dulu, aku sudah rajin membaca Alquran, tidak lagi telat untuk shalat, bacaanku pun bukan lagi komik. Hanya satu yang beda, kau tidak lagi disini. Tidak di lingkaran ini, tidak juga di bumi ini.

Aku rindu taujihmu, aku rindu mendengarkan lagi bacaan Alquranmu, aku rindu menatap mata teduhmu, senyum tulusmu dan curahan ilmu darimu. Aku pun rindu dengan sepotong roti yang selalu kau berikan disaat kita berbuka puasa bersama, padahal itu bagianmu.

Kau telah lebih dahulu menemui apa yang dijanjikan Allah, diam-diam kau berangkat menuju Surga. aku membencimu, benci yang lebih syahdu dari sekedar cinta.

————————-
Cerita diatas telah dimuat di buku : Surat Cinta untuk Murabbi.
————————-

>>>
Kepada yang telah membantu meluruskan jalan hidupku, memperkenalkanku dengan jalan da’wah, menampungku dalam tarbiyah : para murabbi ku.

[ MLS,AF,AS,H,OP,BHK,RK,AA,ES ]

75 responses to “Murabbi, Aku Membencimu

  1. 😦 terkadang emang iya sebel klw diingat sama murrabbi untuk datang ke pengajian, apalagi klw ditanya2 seperti itu melebihi tugasnya para malaikat.. tapi sewaktu baca artikel terakhirnya mas, sungguh hampir aja saya nangis😛 hehee

  2. Maha suci ALLAH yang sudah menuntun ke jalan ‘ini’. Jenak-jenak penuh duri, penuh peri.. Yups! sepakat dengan kata-kata syahdu.. dia begitu syahdu. Dan semoga saja orang-orang yang sudah ‘terjebak’ di sini benar-benar menjadi orang yang dikehendakiNYA untuk bersua kembali di jannah-NYA. Menatap wajahNYA… mendengar suaraNYA…

  3. Assalaamu’alaykum warahmatullaah,,

    Wah, bersyukur skali al-akh tsb. Alhamdulillaah Murabbi tsb masih peduli dan sayang sama al-akh. Daripada gak diperhatiin, gak pernah ditelpon, gak ada evaluasi amalan yaumiyah, ketemuan cuman sebentar. Keep istiqomah akh.

    Salam ukhuwwah dan ta’aruf dari Udin-Pesantren Mahasiswa Miftahul Khoir Bandung

  4. Assalamu’alaikum…
    Bagus skali bg..
    Bg ana link blog abg ya.., juga ana minta izin share tulisannya, insyaallah disebutkan sumbernya…
    Jazakallahu khairan kharu jaza’…
    Sykrn bg..

    • he,
      tulisan ini sudah dikirim, cuma judulnya di ganti menjadi “sepotong roti”, coba deh di cek, salam kenal
      semoga buku ini bisa sukses dan memberi inspirasi bagi berjuta orang

  5. Ping-balik: most commented « RANGTALU·

  6. menginspirasi…
    Sungguh indah cara sang murabbi mengatakan cintanya (walaupun dengan cara yang menurut kita terkesan memaksa)

  7. SUBHANALLAH, hampir mrebes, apalagi liat gambarnya dan ingat beliau…
    saya tunggu bukunya, Uda.
    ohya, ada yang unik. ini sebentuk kebencian yang unik. benci yang semakin hari semakin bertumpuk, tapi kenapa si dia masih tetap bertahan untuk bersama murobbinya, bahkan sampai satu tahun…?
    tell me why…?
    #bertampang konselor😉

  8. Ping-balik: buku #2 « RANGTALU·

  9. Assalamualaikum… mohon maaf yak, duluuuuuuuuuuuuu bgt sy pernah copy paste artikel antm ini untuk di posting di blog saya. dan blom ijin, jadi merasa berdosa. dan ini baru nemu lagi tulisan ini. maaf maaf maaf yak…….

    ttd
    allfiazha@gmail.com

  10. saya sangat suka,, bolehkah saya mempublikasi ulang,,saya menemukan bacaan ini dari hasil print kakak kelas yang mau keluar pesantren,, saya sangat terharu ada juga sedikit pengalaman saya disana,, sampai saya tempel di depan lemari.. afwan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s