Dari Telur Puyuh Hingga Sepeda

—————–
edisi perjalanan
—————–

TALUA PUYUAH
Walau saya terlahir di daerah pasaman barat, tetapi inilah kali pertama saya mengunjungi daerah air bangis, sebuah nagari di kecamatan sungai beremas. Dan inipun sebenarnya untuk sebuah misi angka ‘delapan’, bukan karena benar-benar ingin berkunjung kesana.

Berangkat dari Padang dengan bis Sinar Pasaman, tampilan bis nya masih bagus tapi mesinnya sudah agak veteran. Hanya beberapa orang saja di dalamnya, sepi. Sembilan jam lebih kurang di dalam perjalanan, jarak tempuh yang lebih lama dibanding ke Talu.

Tempat untuk menginap malam ini adalah rumah bang ipul, Tambak Putuh (maksudnya tambak putus, tapi bunyi huruf ‘s’ disana berubah menjadi huruf ‘h’) Air bangis.

Agak sulit juga mencari tempatnya, Setiap kali di sms ke bang ipul tiada pernah lengkap jawabannya,
bang, aie bangih tu kan ndak sagadang talua itiak doh, dima lokasi keteknyo tampek abang tu?”.
Beberapa menit kemudian datang balasan darinya,
iyo, aie bangih tu sagadang talua puyuah nyoh, antum bilang se tambak putuh, rumah ipul, tau urang tu mah”.

mm malang bagi saya, walaupun dibilang cuma sebesar talua puyuah, tetap saja ketika ditanyakan ke sopir, beliau sama sekali tidak tahu. Ternyata ia sopir baru. Untung saja ada satu penumpang yang mendengar percakapan saya dan sang sopir, dan ia kenal dengan bang ipul. Dia lah yang kemudian menunjukkan jalan menuju rumah bang ipul. Hah.. ternyata tidak semua orang pernah menjelajahi talua puyuah.
Debur ombak terdengar begitu dekat ketika kaki ini menginjak tanah air bangis untuk pertama kalinya. Malam berbalut bintang menghias diatas sana.

RANJAU DARAT
Inilah ujungnya pasaman barat di bagian baratnya, tidak ada lagi nagari setelah ini. Kalaupun nekat terus berjalan Samudra Hindia sudah siap menyambut. Memasuki daerah ini, angin laut menyapa, aroma ikan kering yang dijemur disepanjang jalan mengagetkan bulu-bulu hidung. Semua seolah berkata : selamat datang di air bangis. Kemudian sebuah sms menyusul mengucapkan hal yang sama, “ …selamat datang di air bangis, semoga tidak menjadi se bengis airnya..”.

Penampung saya disini adalah keluarga bang Ipul. Makan malam dengan sambal ikan langsung terhidang, tapi bukan ikan hiu. Sambal ikan Hiu baru saya dapatkan lusanya, luar biasa HIU. Selesai makan, pukul 11, bang ipul mengajak ke pantai, jalan-jalan tengah malam. katanya mau melihat kepiting. Pinggiran pantai sangat dekat dari pintu rumahnya, hanya berjarak tidak lebih dari 20 meter. Tengah malam tentu saja gelap, hanya ada satu-satu bintang. Dalam perjalanan ke bibir pantai berkali-kali ia mengingatkan, “hati-hati ranjau darat”. Ranjau darat? Ini bukan medan perang Vietnam, mana ada ranjau darat.
aa ranjau darat tu bang?”.
cirik, biasonya urang tacirik disiko senyoh, di tapi pantai”, jawab bang ipul sambil terus berjalan.
Ha ??

SEPEDA MINI
Air bangis ternyata tidak lebih besar dari pada TALU. Jalan yang tadi dilewati dengan menggunakan bis, apabila dilanjutkan kearah utara akan bertemu dengan laut: BUNTU. Inilah ujung perjalanan. Apabila ditarik keselatan juga bertemu dengan muara dan dermaga, intinya juga BUNTU.

Pagi-pagi sekali dimulailah perjalanan mengelilingi aia bangih, dengan sepeda mini. Dalam perjalanan sangat banyak pemandangan unik dan menarik tentang air bangis, sangat berbeda dengan daerah lain. Di sepanjang jalan, tua muda menggunakan sepeda mini sebagai alat transportasinya, dengan model dan warna yang sama (seperti film laskar pelangi ; walau sepedanya beda). Mobil dan sepeda motor memang ada tapi untuk jumlah lebih dominant sepeda mini. Ada semacam ketenangan tersendiri ketika melihat mereka bersepeda dengan santainya tanpa ada beban malu. Tiada mereka dihinakan karena itu, ke pasar menggunakan sepeda, ke toko menggunakan sepeda, ke sekolah menggunakan sepeda, ke dermaga menggunakan sepeda. Di pelataran parker SMA Air Bangis terparkir beratus sepeda.

sangat sulit menemukan ini di daerah lain, namun justru  kisah berbeda yang kita dapatkan.  Bacalah kisah disalah satu sudut kota lain ketika ada yang mengancam orangtuanya agar dibelikan motor, memaki bahkan membunuh untuk sebuah sepeda motor. disini, sepeda saja cukup.

PULANG
Karena ada episode pulang, maka tinggallah air bangis, esok mungkin kembali lagi.

————————-
Banyak tempat yang belum dikunjungi, banyak orang yang belum dijumpai, banyak bahasa yang belum didengar, banyak budaya yang belum dipelajari

Iklan

4 responses to “Dari Telur Puyuh Hingga Sepeda

  1. salam dari orang aia bangih.
    Kebiasaan bersepeda mungkin masih melekat erat di daerah aia bangih.
    Tetapi suatu saat kebiasaan-kebiasan ini mulai agak berkurang, akibat murahnya harga kredit satu unit sepeda motor yang ditawarkan.
    Semoga kebiasaan bersepeda menjadi suatu kesenangan bagi kita semua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s