Melangkah Pulang : Sinta Meria

langit-biru

Akan datang hari mulut di kunci

Kata tak ada lagi

Akan tiba masa tak ada suara

Dari mulut kita

Tengah terbaring tak sadarkan diri, itu kabar yang kita dapatkan, sabtu ba’da isya. Dan dipenghujung alma’tsurat subuh, kita dapatkan cerita yang berbeda, ia masih terbaring tapi tidak disini lagi. Tidak lagi di bumi yang dulu pernah kita tapaki bersama. Tengah malam ia pulang, pulang sudah menuju Rabb nya. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Di pintu pemakaman itu, beribu mata tertunduk sendu. Satu mujahidah tengah berjalan untuk menemui janji Tuhannya. Tidak ada peti mati berbendera seperti tersemat pada kematian penguasa di negeri ini. Tidak juga ada barisan dengan tembakan salvo, berderam membidik langit yang luas terbentang. Tetapi ada ribuan bait doa mengelilinginya, mengantarkannya turun perlahan ke rahim bumi. Tiap kepala kian tertunduk, tanah menjadi basah karena keringat perjuangan dan air mata. Ia telah pulang.

Awan hitam menggantung canggung di langit yang lengang. Ada yang tersisih keselatan, tipis dan sia-sia. Prosesi telah usai. Gundukan tanah merah dan sepancang nisan dengan taburan bunga membentang disetiap mata. Berbaris sedih bergelayut di hati. Sedih atas kepergiannya, sedih atas ukhuwah yang tak tertunaikan, sedih atas diri kita sendiri yang tidak tahu ujung perjalanan kita seperti apa. Di medan jihadkah? Di bilik rumahkah? Atau di kubang maksiat…

Prosesi telah usai. Ribuan kaki memadati, ribuan ucapan dipertunjukkan. Tapi apakah itu sungguh berarti baginya? Itukah yang dicarinya sampai jauh..? Tidak, bukan itu.

Prosesi hanyalah untuk kita, tempat kita merenung mengingat kematian. Membayangkan ucapan seperti apa yang ingin terlontar dari para pelayat di hari pemakaman kita. Akhi… ukhty.. ia tengah memberi taujih akhirnya untuk kita. Prosesi ini adalah judulnya.

Dalam sunyi seperti ini, merenunglah sejenak. Cukupkah karangan bunga yang bertaburan, menyerpih dibatu nisan? Sebentar lagi juga akan mengering. Hitam. Sia-sia. Bukankah lebih layak ada sepenggal doa ikhlas dari hati untuknya. Cukupkah ramai kita di pemakamannya hanya untuk detik-detik ini saja, setelah itu lengang sudah. Hanya berteman dedaun gugur. Kenapa tidak kita tambah dengan upaya nyata melanjutkan impian dan citanya.

Dan pada akhirnya kita sadar, ternyata sudah cukup lama kita tidak bertukar bunyi. Berbagai kemudahan telah memangkas ukhuwah, mengkerdilkannya seperti bonsai. Untuk apa sebenarnya mata kita menangis, ketika ia masih hidup kita berpaling dari luka dan bebannya, sementara ia rindu dengan sapa kita. Perlukah kata kehilangan kita ucapkan untuk sebuah bingkai basa basi, sementara kita tak pernah merasa memiliki ketika ia masih ada. Sendiri ia mengakhiri semuanya. Untuk apa sebenarnya kita beramai datang ke beranda nisan itu, sementara beranda rumahnya sepi ketika ia masih ada, tersandar lelah menunggu kita mengantar senyum.

Ah… berdosalah kita atas ukhuwah yang tidak tertunaikan. Semoga menjadi pelajaran bagi kita. Sebelum semunya berakhir, pereratlah ukhuwah, jalinlah silaturahim, mungkin esok ada lagi yang menyusulnya pulang, sementara hak ukhuwah itu tidak juga kita penuhi..

——————————————–

untuk saudari kita.. Sinta Meria, TI 05 Universitas Andalas

semoga Allah mengampuni seluruh dosanya, melapangkan kuburnya dan kelak menempatkannya dalam bentangan sorga. Amiin.

——————————————–

Keluarga Besar Da’wah Kampus Universitas Andalas.

8 responses to “Melangkah Pulang : Sinta Meria

  1. seharusnya beliau wisuda ST, namun sepertinya Allah lebih menyayanginya, Allah sendirilah yg akan me”wisuda”kannya, wisuda tuk jadi bidadariNya, amin ya Allah… Amin..ya Rahman…amin…ya Rahim…

  2. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, meski saya tak mengenalnya. tapi ia tetap saudara seaqidah. Semoga Allah mengampuninya.
    Kata-kata akhi sungguh menyadarkan saya akan arti ukhuwah dan memiliki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s