Bersama Ust. Cahyadi Takariawan (Part.2)

c1bba04a993eefc68d52f3067c2592c9

Taujih temu ADK Unand di Nurul Ilmi

Tulisan ini adalah rangkuman dari taujih ust cahyadi takariawan, taujih kedua yang saya dengar dari beliau selama ia di Padang. Taujih pertama  bisa di lihat di sini ..

Taujih ini disampaikan di Mesjid Nurul Ilmi Universitas Andalas, hari ahad 20 februari. Dihadiri lebih kurang 500 ADK UNAND.

—————

Negara-negara di belahan barat telah bersiap menuju kehancurannya. tidak menunggu waktu lama lagi kejayaan dan “peradaban barat”  akan segera berakhir,. [ saya sengaja meletakkan kata-kata peradaban di dalam dua buah tanda petik karena menurut saya Barat tidak pantas disebut sebagai sebuah peradaban sebagaimana  Mesir, Mesopotamia, Babilonia dan Islam : kita akan bahas ini dalam satu tema tersendiri ]

“peradaban” barat yang bercorak materi sejatinya hanya akan mengikuti sejarah kehancuran paradaban-peradaban terdahulu yang juga bercorak materi. Ingatlah kisah kaum ‘Ad, Tsamud dan Fir’aun, semuanya begitu mengagungkan materi; harta, kekuatan, kekuasaan dll dan dalam sejarah kita temukan bahwa mereka menemukan kehancuran secara mengejutkan. Peradaban peradaban yang tidak memiliki corak spiritual di dalamnya hanya memiliki umur yang singkat, dan pada akhirnya akan hancur.

Selain karena tradisi sejarah tentang keruntuhan peradaban yang bercoraj materi, barat juga tengah menghadapi permasalahnnya sendiri yaitu bencana sosial, sebagai efek dari corak materinya. Bencana sosial telah menjadi penyakit di dalam tubuh “peradaban” barat yang suatu saat akan menghancurkannya dari dalam.

Beberapa fenomena bencana sosial yang terjadi seperti : perempuan yang tidak mau menikah dan mempunyai anak, hal ini menyebabkan tingkat kelahiran yang rendah sementara tingkat kematian cukup tinggi. suatu saat barat akan kehilangan generasinya karena tidak ada lagi yang lahir. Gereja-gerejapun sudah mulai di jual karena tidak lagi ada jamaahnya. Para jamaah lebih memilih melakukan pengakuan dosa melalui email atau SMS. Gereja yang tidak dijual hanyalah Katedral yang bagi mereka merupakan lambing Negara dan tempat wisata. Dan banayk bencana sosial lain yang menimpa barat karena mereka terlalu bergantung pada materi.

Kehancuran barat akan seiring dengan kebangkitan Islam. Maka ketika kita memimpin, tidak mungkin dunia ini dipimpin dengan corak  materi. Tetapi harus dengan corak spiritual. Dan tentu saja itu tidak akan terjadi begitu saja, butuh proses yang sudah di mulai dari sekarang dan prose situ adalah TARBIYAH. Orang tidak mungkin menjadi baik hanya dengan membaca atau kuliah saja, mereka harus dijaga dalam sebuah proses yang beriklim spiritual : TARBIYAH. Komunitas kebersamaan di tarbiyah sangat efektif dalam menjaga ruhiy dan semangat beribadah.

Mulai hari ini tarbiyah haruslah menjadi hal yang tidak terpisahkan dari diri kita, selamanya.

Orientasi

Seseorang akan bertemu dengan apa yang dicarinya. Jika di dalam proses tarbiyah kita mencari suplai ilmu maka kita akan menemukannya. Jika kita mencari hangatnya ukhuwah, kita akan menemukannya, begitupun ketika yang dicari adalah kelemahan tarbiyah maka kitapun akan menemukannya. Hal ini sama seperti cerita yang di tulis HAMKA tentang seseorang temannya yang menemukan pelacur di Mekkah, HAMKA kemudian berkata bahwa ia ke California dan tidak menemukan pelacur disana. Kenapa temannya menemukan pelacur di Mekah Karen aitulah yang ia cari, itulah orientasi.

Maka kalu orientasi kita kebaikan kita akan menemukannya.

Kekecewaan

Ketika kita menemukan kekecewaan didalam tarbiyah, dan memutuskan untuk keluar maka ketahuilah seluruh komunitas yang akan kita cari diluar sana pernah membuat orang kecewa. Lalu kenapa tidak bertahan dan mencoba memperbaikinya.

Kekecewaan itu adalah bukti cinta, ia tumbuh karena ada harapan yang besar terhadap sesuatu tetapi tidak terwujud.

berda’wah

Jangan membayangkan da’wah sebagia aktivitas yang teramat berat dan membuat kita kemudian tidak mau menanggungnya.  Merawat bunga di taman rumah adalah da’wah, menyusun sepatu dengan rapi adalah da’wah, rapi dalam berpakaian juga adalah da’wah. Karena dengan hal-hal kecil demikianlah orang bisa melihat nilai-nilai Islam benar-benar tertanam di dalam diri kita. Bayangkan bagaimana sekiranya pendapat orang ketika melihat rumah aktivis da’wah yang tamannya berantakan, penuh semak, sandal-sendal berserakan, sepeda motor yang kotor, pakaian yang tidak rapi dan sebagainya. Tentulah orang akan memandang rendah terhadap aktivis da’wah tersebut termasuk juga terhadap ajaran Islam.

….

Hmm berkaitan dengan kerapian pakaian, ustadz mengajarkan bagaimana cara mengenakan batik yang sesuai estetika dan seni. Ada beberapa aturan yang mesti dipenuhi; ketika mengenakan batik kaos dalam tidak boleh kelihatan, tidak boleh dipadukan dengan jeans, tidak boleh dilapisi dengan jaket. Seluruh ikhwan yang hari itu hadir dengan mengenakan batik langsung kasak kusuk, merapikan batiknya agar kaus dalam tidak kelihatan, ada yang melepas jaket, ada yang hanya bisa senyam senyum saja karena ia memakai batik dengan paduan jeans. Oh, beruntung hari itu saya tidak mengenakan batik..

4 responses to “Bersama Ust. Cahyadi Takariawan (Part.2)

  1. taujih yang tajam dan menggugah . . . yang menyadarkan kembali tentang hakikat dan konsep TARBIYAH . . . seperti yang kita yakini : “Tarbiyah bukanlah segala-galanya tetapi segalanya berawal dari Tarbiyah”

    sepertinya lanjutin taujih ini masih panjang ,ya? saya tunggu 3rd part

    yang dicontohkan Ustadz Cah mengingatkan kembali bahwa itulah syumuliyatul ISLAM karena syamil (universal) nya ISLAM sehingga hal “kecil” pun sangat diperhatikan, dan tarbiyah serta dakwah yang memperkenalkannya
    >> sepertinya ustadz memang sengaja “menyindir” peserta disana ya…(ini yg dimaksud taujih yang tajam..hmmm)
    tapi saya berharap ending dr tulisan ini bukan ttg masalah pakaian, aplg kondisi saat itu (tllu lebay bg saya)…tak apa lah

    syukran

  2. afwan sebelumnya, maksudnya bukan mengatakan ustadz Cah ataupun antum lebay, cuma merasa tidak perlu didetailkan apa respon pesertanya tapi mungkin itu antum tuliskan untuk menunjukkan bahwa substansi yg disampaikan Ustadz memang kena banget…

    oya menambahkan, semoga ini jadi pengingat selalu bagi saya terutama dan semua teman2 pada umumnya agar selalu meluruskan dan menguatkan orientasi kita dalam ber-tarbiyah dan ber-dakwah terutama jika kita sudah merasakan “kekecewaan” di dalamnya, saya sepakat bahwa kekecewaan adalah bukti cinta dan justru saat kecewa itu muncul, tgjawab kita pula lah untuk bisa menjadi bagian dari solusi-nya bukan justru menjadi bagian yg lari dari-nya atau bagian dari yg membuat kekecewaan semakin bertambah…naudzubillah…

    semoga Allah kuatkan orientasi kita di jalan ini, cukup ridhoNYA saja yg kita harap
    wallahua’lam
    afwan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s