Seleksi Dibawah Matahari

Dua minggu lalu saya mengikuti tes di salah satu departemen, sepertinya ini akan menjadi tes yang sulit dilupakan. Inilah yang menjadi salah satu alasan penyebab sehingga saya hanya beberapa hari saja di Medan. Kalaulah tidak karena harus mengikuti tes ini di Padang, saya tentu punya waktu lebih lama untuk mengenal Medan, memakan “lontong setan”nya atau mie balap yang tidak sempat dicicicpi, melintasi Merdeka walk, hunting buku-buku di titi gantung atau menyelinap disudut-sudut lain Medan. Tidak apalah, mungkin di lain waktu saja.
Sabtu, 7 november. Tes Departemen Keh*tanan.
Dari begitu banyak tes yang telah saya lewati ini lah tes yang paling berbeda. Lokasi tes berada di tribun tertutup GOR Haji Agus Salim, kedengarannya memang enak ‘tribun tertutup’ tetapi karena posisinya menghadap ke arah timur, tempat dimana matahari muncul, maka jadilah semua peserta pagi itu bermandi panas. Pantas saja beberapa hari sebelumnya panitia berpesan untuk membawa payung dan topi. Inilah seleksi pertama sebelum tes tertulis dimulai, menjaring orang-orang yang bisa di tempatkan di Departemen ke – H*TAN – an. Sekali lagi saya tegaskan, H*TAN. Kalau tidak tahan panas berarti tidak cocok di departemen keh*tanan. Untung saja tes berikutnya tidak dilanjutkan dengan tes kelincahan dalam memanjat pohon, atau berlari mengejar rusa.

Peserta ujian boleh duduk dimana saja, tidak perlu lagi sesuai dengan nomor ujian yang dimiliki. Sehingga ada beberapa orang yang ‘berkomplot’ dibalik payung-payung yang dikembang menuntaskan soal-soal tes. Sementara tidak ada pengawasan yang cukup dari panitia karena sebagian dari mereka lebih banyak berkumpul di tempat yang agak teduh daripada berkeliling mengawasi peserta ujian di bawah terik matahari.

Disela-sela ujian, di tengah lapangan ada hiburan yang bisa sedikit menenangkan urat syaraf sel kelabu yang lelah berfikir, beberapa siswa dari salah satu SMA kencang berlari mengelilingi lapangan. Saya melihat mereka sesekali ketika buntu menjawab soal-soal tes, dan mencoba menjagokan salah satunya, seperti para pemasang taruhan pacuan kuda di Bukittinggi. Jagoan saya menang, ia mencapai finish lebih awal, beberapa detik lebih cepat dari lawan di belakangnya yang mungkin juga di jagokan oleh orang yang duduk disebelah saya atau bapak-bapak di bawah sana yang memakai payung pink.. Jagoan saya menang tapi saya belum juga selesai mengerjakan soal-soal tes.

Matahari semakin terik, tepat menembak ubun-ubun beberapa orang yang tidak membawa payung, tentu saja itu sedikit menghambat aktivitas sel kelabunya untuk berfikir.
Menjelang tengah hari, barulah tribun ini benar-benar berfungsi, atap mulai melindungi kepala dari terik matahari. Tapi itu tidak terlalu membantu karena beberapa menit kemudian waktu untuk mengerjakan soal telah habis..

*)
Untuk teman-teman yang juga berpanggang di bawah matahari, hanif, ichwan, sony, dony, bg adek.. he he iyo sabana mantap ujian nan sakali ko nak.. tapi nuansa hutannyo kurang taraso, paralu di usulkan supayo bisuak ujiannyo di Bukik Lantiak atau Gunuang Padang, bia lebih menjiwai..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s