Yang Tersisa dari Medan

Inilah Medan pesawat di udara saja macet, apalagi mobil di jalan
(sesaat sebelum take off meninggalkan Medan)

Akhirnya kaki ini berdiri juga di sudut lain bumi ini, di Medan. Kota keras kata orang, semua garang. Kota multi budaya dan agama seperti yang tertulis di bawah baligho Gubernur Sumut yang berfoto bersama miss universe.he he. Walaupun disana tidak begitu lama, tapi cukuplah untuk menjadi sedikit cerita. Memang sulit sebenarnya merangkum Medan dalam barisan huruf karena ia begitu kompleks. Tapi mari kita bertutur dalam ikon yang mudah diingat, yang mungkin mencirikan Medan, minimal dalam pandangan individu.

debu-debu
Ah kalo soal debu jalanan, Medan jauh unggul dibanding Padang. Tanyalah pada pepohonan pelindung jalan yang daunnya menjadi tak cerah lagi karena debu. Atau pada paru-parumu yang menjadi sesak sesaat. He, bukannya menghina tapi inilah kesan pertama yang didapatkan dari Medan. Beberapa kali saya dan teman-teman harus makan debu dulu sebelum mendapatkan angkot yang akan membawa pergi ke tempat tes di Kejaksaan Tinggi, ke RS. Pringadi atau kembali membawa pulang ke rumah. Medan dan debu sepertinya teman akrab disini.

135 dan 07
Kalau di Padang kita cukup menghafal warna angkot saja, angkot hijau ke pasar baru, biru ke aur duri, kuning terang ke aie pacah, putih ke tabing, biru muda ke siteba, ungu ke aie pacah, pink ke taruko, merah odong-odong ke belimbing, merah ke gaduik.. dan kalaupun nyasar kita cukup pergi ke pasar raya, tempat dimana semua angkot berkumpul dan kita bisa menemukan lagi angkot yang akan membawa kita pulang.
Tapi di Medan, jika kita ingin mengetahui rute dengan menghafal warna angkot, maka bersiaplah untuk mengeluarkan uang banyak, berputar-putar, berpindah dari satu angkot ke angkot lain. Karena disini warna tidak menentukan rute angkot. Disini orang mengetahui rute angkot lewat nomor yang tertera pada angkot.
Beberapa hari di Medan hanya angkot dengan nomor 135 saja yang rute nya sedikit diketahui, ia akan membawa kita dari Amplas ke Kejaksaan Tinggi, Wisma Pertanian, Asrama Haji, USU. Kemudian angkot 07 yang akan membawa kita ke Aksara, melewati pajak sukarami. Selain itu, ha.. benar-benar sulit di hafal, sepertinya harus tinggal lebih lama di Medan untuk menghafalnya.
HA..ciek lai.. kalau mau turun dari angkot jangan gunakan kata-kata “kiri da”, “kiri ciek da”, “dibaliak da”, “siko ciek”, atau “kirrriii” dan jangan pula bertepuk tangan, angkotnya tidak akan berhenti. Tapi dengan kata-kata “pinggir bang” kalo bisa dengan sedikit logat dan intonasi Batak “PINGGIR BANG”
Ho ho, jangan harap bisa menemukan angkot yang fuul music juga disini, tidak ada nyah itu.

sopir medan
Disini kehidupan benar-benar berjalan serba keras dan cepat. Sudah lama sebenarnya mendengar istilah Sopir Medan, tapi baru kemarenlah merasakan langsung bagaimana menjadi penumpang sopir Medan. “asa ka mancucuak se” kata nenek-nenek, setiap ada celah pastilah ia masuk dengan kecepatan yang tidak basa-basi. Semua membawa mobil dengan kecepatan tinggi, di Padang ada juga yang membawa mobil dengan kecepatan tinggi, tapi di Medan terasa lebih “ugal-ugalan”.
Tidak hanya sopir angkot nya saja yang ngebut, para abang becak juga begitu.. Ketika mengantarkan kami ke kantor pos, ia tidak peduli avanza, vios, kijang.. semua di salib. Mungkin ia dulu pembalap, kemudian beralih profesi menjadi tukang becak.
Tapi ada bagusnya juga, waktu perjalanan menjadi efektif sehingga kita hadir di lokasi lebih awal.

mie balap
Karena para sopir di kota ini rajin ngebut, maka nama makananpun tak jauh-jauh dari arena kebut-kebutan. Ada yang namanya Mie Balap, sayang tidak sempat mencicipinya. Konon kabarnya diberi nama mie balap karena proses membuatnya sangat cepat, secepat mobil balap. Dan untuk memakannya juga begitu, harus cepat-cepat agar masih terasa enaknya.
Dan terakhir selesai makan juga harus ‘balap’, mulut harus di lap dengan tissue karena banyak yang bercelepotan. Tapi tidak boleh langsung ‘balap’ (lari) setelah menghabiskan semuanya, “bisa bonyok nyah kau disana, Medan nyah ini bung

medan malam
Hari terakhir di Medan, malamnya digunakan untuk jalan-jalan sambil mencari Bika Ambon. Kata orang inilah satu-satunya makanan khas Medan, walaupun kebenarannya masih diragukan, karena namanya Bika Ambon bukan Bika Medan, ah sudahlah, yang penting beli dan bawa pulang ke Padang. Sebenarnya ada satu lagi produk Medan; BPK (B*b* Panggang Karo) dengan kualitas B1 dan B2, sayang tidak halal. He..
Ah, ternyata jalan-jalan di Medan pada malam hari sangat menyenangkan, tidak ada lagi debu, tidak ada jalan yang sumpek, tidak ada kebut-kebutan, tenang. Gemerlap bangunan tua, istana kesultanan Deli, mesjid raya medan.. semua menghapus kesan buruk terhadap Medan yang tertanam beberapa hari yang lalu.
Tapi sayang besok harus pulang ke Padang, padahal belum banyak yang bisa dilihat disini..

polonia
Mendung menaungi Medan, dari rumah hingga Polonia diantar gerimis. Basah.
Cuaca sore ini cukup buruk untuk beberapa penerbangan, ada beberapa yang terpaksa delay hingga 1 jam lebih. Tapi Sriwijaya menuju Padang tetap bisa berangkat, mungkin hanya tertunda sekitar 10 menit di karenakan jadwal penerbangan dan lalulintas udara yang cukup padat.
Disaat menunggu jadwal take off di pesawat, terdengar suara pilot..
“penumpang yang terhormat, kita harus menunggu giliran untuk terbang karena lalu lintas udara padat dan macet”

Inilah Medan pesawat di udara saja padat dan macet, apalagi mobil di jalan

9 responses to “Yang Tersisa dari Medan

  1. like this…
    udah kayak baca karya boim lebon…
    ^_^
    mungkin betul kata orang2, lebih baik hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri org (pdhl sama2 benjol klo keujanan batu atau emas).
    so, org medan mungkin udah “nyaman” dengan kondisi kyk gitu…sm kayak pertama x dtg ke padang yang makanannya pedes ampun,,,krn orang minang udah biasa, tapi cukup kapok n bikin kembung tiap x makan krn pke minum terus setiap suap makanan…
    pulang kota kpn ya…?masih lama…mungkin juga idul fitri tahun depan…

  2. Akhi!!!
    Ke Medan gak singgah kerumah Ane Antum yah !
    Awas Antum di Padang nanti !

    Klu naik angkot, terlalu ribet untuk berkata “pinggir bang!”, tapi biasanya penumpang sering berkata “GIR Bang!” dengan intonasi BANG yg ditekan plus logat khas daerah (Batax) walaupun tuh orang sebenarnya bukan orang batax.

    Itu tukang becak yg dimaksud, tukang becak mesin yach ? Ane pikir becak dayung, soalnya, yg diselipnya vios, avanza, kijang gitu. Klu becak dayung mah udang ngos2 san + asma tuh Abg becaknya ! hahaha…

    Tempat tes kejaksaan tinggi ? tunggu2…berarti sedang cari ma’isyah di Medan. Wah gawat2, bentar lagi juga cari ‘aisyah negh di Medan ???
    hahaha…

  3. kurniawan : yup.. nak coba lagi.. kemaren hanya sebentar masih banyak yang belum dikunjungi dan di coba.. kata orang ada lontong setan juga ya? tapi belum sempat di coba

    seo jang geum : ha padeh bana yo?

  4. hafidz : he he.. dek sibuk bana ndak sempat jalan-jalan dog akh.. iyo.. yang ngebut tu becak mesin ato becak motor.. nyo lantak se sado nyo..
    komentar antum yang terakhir “off the record”

  5. Hehe..
    Thumbs Up.

    Review dari anak medan😀
    :: Satu2 nya Provinsi yang gubernurnya berfoto dengan Miss Universe,dan dipajang2, ya Sumut lah.
    :: Nama RS nya Pirngadi, bukan Pringadi.
    :: Angkot Medan udah bisa jalan aja dah syukur, taknya sempat supir tu mutar2 musik, semua maen kibas aja. Modus Medan ON. Nomornya banyak kali pun. Pening kita nengoknya. Info, 135 pas lewat muko rumah ma bang.
    :: Ooo ya, B1 dan B2, bukan tingkatan kualitas. Kalau B1, Anj*ng, B2 baru B*b*.. Gt..
    :: Ujan batu kampuang kito, lun tantu ujan batu d rantau. Ujan ameh di rantau, lun tantu ujan ameh di kampuang kito.. Ujan batu di rantau,ujan batulo d kampuang mah.Hehehe..
    :: jauah2 dr pdang, u nyaliak esawat landing c.. Heheh, M*mal*kan..😀
    :: Terakhir “Orang yang berilmu dan beradab, tidak akan berdiam diri di kampung halaman, tinggalkanlah negerimu, dan merantaulah kenegeri orang” Imam Syafii..

  6. mm.. cet.. urang payakumbuah nan mangaku anak medan🙂
    :: iyolah.. pringadi tu salah ketik mah.. cerdasi lah yo.. B1 dan B2 tu salah ketik lo ( ho ho )

    :: ee.. jan salah.. nan ma ajak abang mancaliak pesawat landing tu urangnyo ndak jauh-jauh dari icet doh, bg h*sdi, sapakodian mah, “pabriknyo” samo dengan cet. gak ati bang cet dulu gitu lo, bantuak bang h*sdi.🙂

    :: oh iyo.. kata-kata imam syafi’i tu sabana mantap.. lah di kutip lo di buku “negeri 5 menara”

  7. Ping-balik: MEMBUNUH KREATIF « RANGTALU·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s