Kemerdekaan Dalam Orgen Tunggal

DSC_0104

Kawan…
Sekarang sudah bulan agustus. Beberapa hari lagi tanggal tujuh belas agustus. Bangsa ini akan memperingati hari kemerdekaannya. Kawan, tolong kau baca kata “MERDEKA”itu sekali lagi. MERDEKA, yup terima kasih. Apa yang kau ingat ketika kata itu kau ucapkan.. apakah perang? Bambu runcing? Belanda? Merah putih? Aceh? Timor Timur? Papua? Indonesia? Pahlawan? Panjat pinang? Soekarno? M.hatta? WR.Supratman?. Apapun jawabanmu itu akan menjadi sedikit gambaran tentang makna yang kau berikan terhadap kemerdekaan.

Kawan…
Disepanjang jalan kau dapat lihat orang-orang yang berjualan bendera merah putih berjejer kiri dan kanan. Disetiap perempatan ada saja yang berdiri menawarkan bendera-bendera kecil atau aksesoris lainnya dengan warna yang sama. Kaupun juga dapat melihat para pemuda yang mempersiapkan acara panjat pinang, pacu karung, lomba makan kerupuk dan sebagainya.
Dan tentu saja, ada satu acara yang sepertinya harus selalu mereka adakan . Aku tidak tahu siapa yang mewajibkan. Tahukah kau acara apa itu? Yup. Orgen tunggal. Seolah-olah perayaan kemerdekaan ini tidak sempurna tanpa goyangan penyanyi dangdut berpakaian minim. Peringatan kemerdekaan ini selalu diwarnai hentakan musik yang memekakkan telinga, menari liar hingga dini hari dan mabuk-mabukan. Mereka bilang itu keren, terus terang aku geli kawan. Apa nya yang keren? Mereka juga bilang ini untuk mempererat keakraban. Padahal yang terjadi justru menjadi pemicu perkelahian dan kerusuhan, karena tidak sengaja bersenggolan saat bergoyang atau bersaing memperebutkan simpati penyanyi kampung yang ada di atas pentas. Kawan, ini sungguh memalukan.

Esok paginya semua berjalan semakin buruk. Semua bangun kesiangan karena telah begadang semalaman. Sampah-sampah rokok, kulit kacang, botol minuman dan kantong-kantong hitam pembungkus tuak berserakan di sepanjang jalan. Jalanan yang semalaman juga ditutup agar bisa mendirikan pentas. Kawan.. sungguh tidak ada sisi positif yang aku temukan. Bukan, bukan karena aku selalu berfikiran negativif. Tapi memang orgen tunggal yang mereka adakan untuk memperingati momen kemerdekaan ini tidak ada manfaat sama sekali.

Beginikah cara kita memperingati kemerdekaan? Menangislah para pahlawan, di hari kemerdekaan ada beribu atau bahkan lebih generasi muda yang tunduk dalam kesenangan semu. Mati produktifitas, mandul karya.

Mengapa bukan acara-acara yang memacu produktivitas dan pengembangan potensi yang dilakukan. Perlombaan-perlombaan yang ada saja diperbanyak, tidak itu lebih baik. Daripada mengadakan orgen tunggal yang cuma semalam dan itupun tidak ada manfaatnya.
Kawan.. kau masih mendengar ku bukan? Hai apa yang kau lakukan? Surat apa itu yang kau tanda-tangani?
Ohh tidak! Kau panitia acara ORGEN TUNGGAL juga??

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s