Mengenang SDN 37 Merdeka

cropped-golden_dream_wallpaper__by_moroka323.jpg

Kawan…

Sekarang sudah bulan agustus. Disepanjang jalan kau dapat lihat orang-orang yang berjualan bendera merah putih berjejer kiri dan kanan. Disetiap perempatan ada saja yang berdiri menawarkan bendera-bendera kecil atau aksesoris lainnya dengan warna yang sama. Kau juga dapat melihat para pemuda yang mempersiapkan rangkaian acara panjat pinang, pacu karung, lomba makan kerupuk dan sebagainya.

Dan tentu saja ada satu acara yang sepertinya tidak bisa tinggal, entah siapa yang mewajibkan, kata mereka untuk mempererat keakraban. Tahukah kau acara apa itu? Yup. Orgen tunggal. Yang seumur hidup baru sekali saja saya tonton. Ketika kelas 6 SD, saat ingus masih saja mengalir di hidung ini.  Itupun karena kalian menertawakan saya yang tidak pernah pergi nonton orgen sebelumnya dengan sebutan ‘payah’ atau ‘anak gadih’. Ah kawan.. terlalu lucu parameter yang dulu kau gunakan.

Kawan…

Beberapa hari lagi tanggal tujuh belas agustus. Bangsa ini akan memperingati hari keMERDEKAannya. Kawan, tolong kau baca kata “MERDEKA”itu sekali lagi. MERDEKA, yup terima kasih. Apa yang kau ingat ketika kata itu kau ucapkan.. apakah perang? Bambu runcing? Belanda? Merah putih? Aceh? Timor Timur? Papua? Indonesia? Pahlawan? Panjat pinang? Soekarno? M.hatta? WR.Supratman? Atau kau justru ingat lagi dengan orgen tunggal? Tidaklah masalah, itu adalah hak sel-sel di otakmu untuk menterjemahkan setiap kata. Tapi ingat, setiap terjemahan yang muncul dari otakmu semua berasal dari pengalamanmu di masa lalu.

Kawan…

Tahukah kau apa yang saya ingat ketika kata MERDEKA terucap atau terdengar. Ada banyak, sebagian besar mungkin sama dengan yang melintas difikiranmu. Sisanya jelas berbeda. Sel-sel kelabu di otak saya mengaitkan kata “merdeka” dengan ‘SD 37 MERDEKA’.

SD dimana dulu saya mulai mengeja huruf, belajar berhitung dengan lidi-lidi, menggambar sawah dan membuat kubus dengan kertas karton.

SD dimana saya mulai mengenal kalian satu persatu, bermain kelereng, main gambar, kejar-kejaran, main galah, lohre, lompat tali, main karet dan main andok-andokan (cik mancik kato urang kini, petak umpet kata orang jakarte). Biasanya menjelang agustusan seperti ini, kita juga akan turut sibuk. Mempersiapkan berbagai macam tim untuk ikut perlombaan. Lomba gerak jalan, lomba tarik tambang, volleyball, sepak takraw, lomba adzan, lomba puisi, pidato, paduan suara, cerdas cermat dan lomba lukis, perlombaan yang jadi kesukaan saya walau tidak pernah menang.

Kau tentu juga ingat setiap kali ada acara di sekolah ibuk guru pasti meminta kita untuk membawa nasi. Dan kita sering sekali menghabiskannya di atas bukit di depan sekolah. Kau ingat bukit itu, dari sana kita bisa melihat sebagian kecil nagari Talu. Bukit yang indah, beberapa pepohonannya menjadi tempat favorit untuk berteduh sambil menghabiskan nasi yang dibawa dari rumah. Bukit itu, pohon, daun, rumput dan tanah disana menjadi saksi sebagian cerita-cerita kecil kita.

Tapi bukit itu juga akhirnya yang mengubur semua, mengubur sekolah kita, kertas-kertas gambar kita, buku-buku kita di pustaka, kapur tulis kita. Tidak ada lagi yang tersisa, semua rata ketika tanah bukit itu longsor menjelang ramadhan. Meskipun begitu, kenangan tentang sekolah kita, guru-guru kita dan kau kawan akan tetap akan hidup disini. Di hati ini.

Kawan…

Beberapa hari lagi ramadhan juga datang, semilir anginnya sudah terasa hari ini. Cobalah kau nikmati, berdirilah di pagi hari dan rasakan hembusan anginnya. Saya paling suka melakukannya, menikmati udara pagi menjelang ramadhan, karena semilirnya berbeda.

Dan saya sungguh tidak bisa mengunjungi kalian satu persatu, menjabat tangan dan memohon maaf. Saya sangat berharap kalian sudi memaafkan tiap kesalahan diri. Agar detik ramadhan yang kian dekat dapat saya sambut dengan lapang.

Kawan… kau sudah ku maafkan. Lagipula tidak ada luka yang kau goreskan.

MENGENANG KAU KAWAN

:: Andri Purwanto,

Biasa dipanggil andi. ia adalah kawan saya yang paling akrab. Dan kami sebenarnya memilki hubungan kekeluargaan juga. Ibu saya dulu bilang kami itu konco palangkin. Ke sekolah selalu sama-sama, setiap pagi andi selalu mampir ke rumah untuk menjemput saya. Tapi ini anak sampai kelas 6 masih suka ingusan.. he he, selalu ada cairan mengalir dari hidungnya..iii.. aman bro. Meskipun begitu, ia selalu siaga satu ketika saya dihadang masalah, seperti bodyguard lah. kalau saya berkelahi, ia membela, atau membantu membawakan tas saya saat saya menangis dipukul. Dilain waktu ia meminjamkan kelereng ketika saya kalah.

:: Aidhil Adha,

Saya memanggilnya bang idin, lebih tua dari saya. Ia juga anak datuk, anak mamak (kakak Ibu). pintar dan sangat jago menggambar. Ketika pelajaran menggambar, saya sering menirunya, gambarnya bagus, goresannya halus. Ia anak yang pendiam, tidak tahu juga siapa diantara kami yang lebih pendiam.

:: Nofriyadi

Panggil saja edi. Kecil orangnya tapi pintar berhitung. Tinggal dekat pendakian di solok (ohya, sekedar info, di Talu itu banyak nama daerah yang sama dengan daerah lain, seperti Solok, padang panjang, halaban, rumbai, japang, Bangkok : atau jangan-jangan daerah atau negara itu yang meniru nama-nama yang ada di Talu).

:: Novriandi

Nopi, paling suka makan kerupuk mie pakai kuah sate dan makan di atas pohon rambutan di belakang warung tek war.

:: Sudirman,

Kami biasa memanggilnya Udir, tinggal di sebelah rumah edi. Diantara kami badannya paling tegap, agak sulit dalam berhitung. Tapi sangat semangat dalam main kelereng.

:: Marta Indra

Anak juragan kacang goring. Nama on line : iin. Teman-teman yang lain sering meledeknya dengan sebutan BIMOLI. Ada yang masih ingat artinya?? Neneknya begitu histeris ketika ia tertabrak.. Tapi kami terpisah di kelas 5. Karena ia mau mencicipi kelas 5 selama dua tahun..piss

:: Asril

Acin kato urang-urang, nama yang rada-rada tionghoa, tapi tidak. Ia paling tinggi, besar, tapi agak pemalas, sering kena marah, suka membuat ulah. Ia cukup akrab dengan saya, dengan ibu saya ia juga akrab. Ciiin.. acin jan buek ulah jo lai.

:: Rido fitrisia

Rido. Anaknya sangat ulet, tidak mau menyerah, selalu berusaha untuk meyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya.

:: Dani dan Iyos yang ingin dua tahun saja di kelas 3

:: Afrima Roza

Ini perempuan, kami memanggilnya prima. Langganan juara satu, anak pak Epi. Tegas dan sedikit keras kepala.

:: Marhamah

Teman akrabnya prima: amah, watak mereka juga hampir sama: keras kepala, tidak mau mengalah. Amah juga langganan juara kelas, Saya harus jatuh bangun untuk merebut tampuk juara satu, eh tetap tidak bisa.

:: Hafiziani

Ini satu lagi, anak seorang guru. Sering dipanggil : ane. otaknya encer, ya otomatis sering juga merebut posisi tiga besar. Maka makin berat jalan saya untuk menduduki tangga juara satu. Hah

:: Happy Fauza

Tambah satu lagi jagoan kelas: uja. Tapi saya pernah juga beberapa kali dapat ranking kelas di atas uja.. dan rasanya uja juga pernah minta contekan  ke saya saat ujian IPA.. ahaa. Ia anak Pak Amir, guru MDA yang saya takuti karena sering marah.

:: Ave Sonia Elise

Lise, panggil begitu. Agak cerewet kalau tidak mau dikatakan sangat. Tinggal di heller pasar usang. Ia beberapa kali juga sepuluh besar di kelas

:: Dia Melia Rafdi

Ini juga jagoannya kelas, tapi kalau tidak salah saat kelas 4 atau 5 iya pindah ke jakarta.

:: Opi

Adiknya ronal. Karena tinggal di sebelah rumah, dulu berangkat bareng ke sekolah saat hari pertama di kelas satu.. sering minta jawaban PR-PR yang diberikan bu guru.. horee dapat NOL BESAR.

:: Sri Ida Yenti

Yeyen, tinggal di kampuang tongah. Hobi bernyanyi.

:: Yulia Desnin

Enin, awalnya tinggal di belakang sekolah tapi setelah itu pindah ke koto panjang. Teman piket setiap hari senin. Karena ia sering datang terlambat terpaksa saya yang menyapu dan menyusun bangku

:: Supriyani

Ria, juga pernah sepuluh besar di kelas.  Kecil-kecil cabe rawit.

:: Eli

Tinggal di maih..

:: Susi

Tinggal di solok di dekat rumah indra, tapi tidak jualan kacang.

maaf kawan saya tidak bisa lagi mengingat nama yang lain dengan baik.. memori ini sudah tergerus, ada beberapa yang belum tertuliskan.. tapi saya sungguh tidak bisa lupa dengan wajah-wajah kalian.. kalau ada yang memberi  petunjuk insyaalah saya bisa mengejar ingatan itu, maaf yang tidak tertuliskan bukan berarti kalian tidak ada dalam ingatan saya, ada, hanya butuh sedikit pemicu untuk menjelaskan gambar nya.

semoga suatu waktu nanti kita bertemu lagi, tapi tentu bukan untuk main kelereng. Melainkan dalam sebuah agenda menyusun masa depan bangsa.

MERDEKA

:::

Mengenang kawan-kawan kecilku

Mengenang sekolah dan guru-guru yang mengajariku tulis baca dengan penuh cinta: Pak Nasrul, Buk Jupen, Buk Wis, Buk Pen, Buk Kartinah. Terima kasih Pak.. Terima kasih buk..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s