Sedekah Rendah

langit-biru

Sekarang, sebagian besar rakyat republik ini telah meletakkan sedekah dalam ruang-ruang paling rendah dan sempit dalam kehidupannya. Sedekah berada pada posisi yang hampir terhina. Terendahkan.

Fenomena merendahkan nilai sedekah bukan kali ini saja ada, tetapi sudah dari dulu begitu. Saya masih ingat ketika kuliah dulu, Saya dan beberapa teman ditugaskan sebagai tim fundraising, mencari dana untuk mensupport kegiatan menyambut tahun baru Hijriyah. Kami mengunjungi beberapa dosen di fakultas untuk meminta bantuan dana. Salah satu dari dosen yang kami kunjungi kemudian mengeluarkan komentar yang membuat saya sedikit geli, “maaf tidak ada uang kecil”. Ia berlalu begitu saja dan kami pun pergi, ingin rasanya berkomentar ketika itu, “kalau tidak ada uang kecil, uang besar saja pak”.

Begitu juga ketika berada di perempatan jalan, ada banyak pengemis yang meminta-minta sedekah. Terlepas dari benar atau tidak perbuatan mereka, tapi coba perhatikan setiap orang yang memberikan uang ke dalam kaleng-kaleng mereka. Selalu uang receh atau uang dengan nominal terkecil yang diberikan.

Disepanjang ruas jalan dari Padang menuju Pasaman Barat banyak ditemukan warga atau anak-anak TPA yang berdiri di pinggir jalan, meminta sumbangan untuk pembangunan mesjid atau mushalla mereka. Lagi-lagi coba perhatikan pecahan uang berapa yang diberikan oleh setiap orang yang lewat. Mayoritas akan memberikan uang dengan nominal satu ribu rupiah.

Fenomena ini memang cukup dilematis. Tidak tahu siapa yang mesti disalahkan, para pengendara yang hanya memberikan uang ribuankah atau para pengemis dan pengurus mesjid yang tidak kreatif mencari dana, karena sudah merasa nyaman dengan profesi meminta di pinggir jalan. Tapi meskipun begitu secara tidak langsung kedua-duanya telah berkontribusi merendahkan nilai sedekah.

Sedekah kemudian telah diartikan sebagai kumpulan uang receh. Ia menjadi sesuatu yang identik dengan kehidupan masyarakat bawah dan kemelaratan. Sulit menggandengkan kata itu lekat-lekat dengan para hartawan. Karena citra negativef yang terbangun dari sedekah selama ini menjadi salah satu alasan yang membuat hartawan malas untuk member lebih.

Maka pencitraan sedekah perlu di jernihkan, begitu juga pencitraan untuk zakat, infak dan wakaf (ZISWAF), baik itu terhadap masyarakat yang membutuhkan ataupun terhadap hartawan. Karena kalau rakyat republik ini masih menganggap bahwa sedekah hanyalah sebagai menyerahkan recehan. Maka perubahan kehidupan sosial yang diharapkan sangat sulit terwujud.

Lembaga pengelolaan ZISWAF , lembaga sosial dan pemerintah memiliki peran besar untuk meluruskan ini semua. Peran lembaga pengelolaan ZISWAF dan lembaga sosial lainnya hampir sama, kecuali dalam hal pengumpulan dana ZISWAF. Lembaga ini diperlukan untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat diseluruh lapisan tentang urgensi dana ZISWAF. Selain itu mereka juga berperan untuk merumuskan dan mengelola program yang produktif bagi penerima dana ZISWAF sehingga dana itu tidak hanya untuk konsumsi saja.

Sedangkan peran pemerintah berkaitan erat dengan masalah kebijakan. Kebijakan pemerintah untuk menanggulangi pengemis dan anak jalanan akan berpengaruh terhadap pencitraan ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah, Wakaf). Kebijakan ini tentu berkaitan lagi dengan kebijakan untuk menciptakan lapangan kerja baru bagi mereka yang telah dipensiunkan dari profesi mengemis.

Jelas ini kerja besar, butuh partisipasi dari setiap lini. Agar zakat, infak, sedekah dan wakaf benar-benar teraplikasi sebagai solusi bagi masalah kemiskinan di negeri ini. Agar sedekah dan yang lain tidak lagi menjadi sesuatu yang rendah dalam persepsi setiap orang.

Iklan

One response to “Sedekah Rendah

  1. Allah Maha Pemberi Rezki…
    Ibarat menabur benih, sedikit tetapi memberikan hasil yang berlipat ganda..Tentunya hanya bagi yang mempercayainya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s