Fenomena Rapat Malam

effective-communication-137

Aktivitas rapat sudah merupakan keseharian para aktivis. Setiap minggu akan selalu ada jadwal rapat untuk membahas program-program kerja terdekat. Bahkan ketika mempersiapkan agenda yang cukup besar, acara tingkat nasional umpamanya maka rapatnya bisa lebih rutin dari pada itu.

Intensitasnya melonjak, bisa jadi tiga atau empat kali dalam satu minggu, dalam satu harinya bisa saja rapat tiga kali, pagi, siang atau sore. Bahkan di beberapa kampus seperti IPB dan ITB mereka rapat sampai pukul 9 malam. Saya sangat terkejut sekali ketika berkunjung ke IPB dan menemukan fenomena itu. Saya melihat ada banyak kelompok-kelompok rapat, terdiri dari laki-laki dan perempuan yang masih berdiskusi hangat padahal sudah menjelang pukul 9 malam. Terang saya merasa aneh dan terkejut karena ini adalah sesuatu yang sangat tabu di Padang. Walaupun tidak ada regulasi khusus yang mengaturnya di Padang, tapi sudah menjadi sebuah aturan bahwa aktivitas kemahasiswaan dan rapat harus sudah usai sebelum adzan magrib.

Alasan padatnya jadwal perkuliahan dan praktikum dari pagi hingga sore menjadi salah satu alasan bagi teman-teman IPB untuk melaksanakan rapat selepas sore. Dan rata-rata memang begitu, mereka memulai rapat setelah magrib, jadwal dimana teman-teman di Padang (Unand, UNP, UBH, IAIN, dll ) telah berhenti dari aktivitas kampus yang melibatkan laki-laki dan perempuan. Faktor lain yang mendukung pelaksanaan rapat hingga malam adalah; dekatnya lokasi kampus dengan pemukiman penduduk atau dengan tempat kos mahasiswa. Sehingga sedikitnya banyaknya aktivitas mahasiswa pada malam hari masih bisa terawasi dan para aktivis yang pulang malam tidak terlalu riskan karena jarak kampus yang dekat dengan tempat tinggalnya. Berbeda mungkin dengan kampus Universitas Andalas yang sangat jauh dari pemukiman penduduk.

Selain itu, factor lain nya adalah, sudah mulai melemahnya regulasi yang mengatur interaksi lawan jenis pada beberapa daerah, terutama kota-kota besar. Baik itu aturan yang dilahirkan dari penduduk setempat ataupun aturan yang tercipta dalam atmosfer kemahasiswaan. Penduduk yang heterogen pada suatu daerah juga memberi peluang, karena mereka tidak lagi berpegang dengan norma adat masing-masing, semua telah lebur dalam hukum kebiasaan yang baru. Sesuai dengan kondisi yang mereka temukan. Walaupun dulu mereka tidak setuju dengan interaksi di malam hari antara laki-laki dan perempuan yang belum nikah, tetapi karena perubahan sistuasi masyarakat akhirnya terkesan memaklumi saja, seolah-olah ini adalah hal yang biasa. Hal ini akan sedikit berbeda dengan di Padang, walaupun sudah mulai agak luntur. Regulasi yang mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam keorganisasian masih terjaga. Sehingga sangat tabu sekali melihat ada perempuan yang masih berkeliaran sekitar pukul 9 malam, apalagi akhwat.

Tentu banyak factor lain yang dipunyai teman-teman IPB, ITB dan kampus lain di kota-kota metropolitan itu. Saya tidak akan menyalahkan. Tetapi menurut saya fenomena rapat malam itu mempunyai sedikit sisi negatif. Pertama, fikiran sudah mulai lelah karena telah terkuras dari pagi untuk memikirkan setumpuk tugas dan beban praktikum. Sehingga tidak lagi terlalu focus dengan bahasan rapat. Lebih banyak emosi yang bekerja ketika itu ketimbang sebuah fikiran jernih. Tapi ini tidak selalu benar, karena teman-teman disana saya rasa sangat cerdas. Kedua, hal ini bisa memperlonggar interaksi antara lawan jenis. Dan inilah yang cukup fatal menurut saya. Walaupun kita tidak pernah menuliskan dalam sebuah aturan atau undang-undang tentang ‘jam malam’ para aktivis. Tapi ini telah menjadi sebuah undang-undang tak tertulis ketika kita mengawali aktivitas keislaman di kampus. Mungkin ini dulu adalah sebuah kebiasaan dari generasi terdahulu, tetapi karena terus dilaksanakan dari tahun ke tahun ia kemudian menjadi sebuah hukum kebiasaan. Karena telah menjadi sebuah hukum, ia layak untuk dipatuhi. Terus terang saya tidak temukan nash nya di dalam Alquran yang mengatur ‘jam malam’. Saya hanya menimbang ini berdasarkan dimensi ilmu hukum.

Hingga paragraph ini, saya tetap merekomendasikan untuk tidak ada rapat yang diadakan pada malam hari atau terlalu malam. Kecuali untuk hal-hal yang teramat mendesak, yang mungkin berada pada skala daruriyah. Kitab Fiqh Prioritas perlu dibaca untuk menentukan skala keterdesakan setiap bahasan rapat yang diadakan malam hari itu. Maka perlu difikirkan cara untuk mensiasati kondisi yang selama ini telah menjadi budaya baru, dua diantaranya adalah :

Pertama, Mencari waktu alternative
Di Universitas Andalas. Beberapa aktivis pada umumnya menggunakan jadwal pagi atau sore untuk melaksanakan agenda rapat. Sebelum atau setelah jadwal perkuliahan. Saya tidak terlalu tahu pukul berapa dimulai perkuliahan setiap kampus. Kalau sekiranya pukul 7 pagi, maka jeda waktu dari subuh hingga pukul 7 itu bisa digunakan untuk rapat. Dan tentu fikiran lebih fresh ketika itu. Mungkin sulit untuk memulainya, tetapi lebih baik rapat pagi-pagi daripada rapat malam-malam.

Kedua, Rapat Efektif
Karena waktu yang dimiliki untuk rapat sangat terbatas, maka manfaatkanlah dengan efektif. Efektifitas sebuah rapat tidak ditentukan oleh seberapa lama rapat itu berlangsung. Tetapi dari seberapa optimal pengelolaan unsur-unsur dari sebuah rapat. Unsur rapat yang dimaksud adalah; pemimpin rapat, peserta, waktu, agenda dan ide.
Perlu diperhatikan tiga sesi untuk menciptakan rapat yang efektif
a. Sebelum rapat
1. mengetaui jadwal dan agenda rapat (hari/tanggal/tempat/pukul)
2. hadir tepat pada waktu
3. membawa hasil pemikiran tentang agenda
4. sebaiknya ada rancangan/draft untuk disepakati
b. Ketika rapat
1. Pimpinan rapat mengetahui dan menjalankan tugas dan tanggung jawabnya
2. Peserta rapat mengedepankan akal daripada emosi
3. Setiap informasi, ide, yang dilontarkan bisa dipertanggungjawabkan
4. Hidupkan budaya ilmiah dalam perbedaan pendapat
5. Astaghfirullah jika pendapat kita diterima
6. Alhamdulillah jika pendapat ditolak
c. Setelah rapat
1. Setiap peserta rapat berazzam untuk melaksanakan keputusan rapat
2. Setiap keputusan dipertanggungjawabkan secara bersama sehingga tidak ada yang salah dan tersalahkan

Beberapa catatan tambahan untuk menciptakan rapat yang efektif
 Tidak diperlukan rapat sekiranya bisa tergantikan dengan telp, memo, email
 Rapat tidak perlu untuk hal yang sepele atau sangat rahasia
 Kalau tidak ada persiapan seperti rancangan usulan, draf konsep atau ide, maka jangan rapat, karena rapat bisa jadi tidak efektif karena semua orang baru memikirkannya ketika rapat dimulai.
 Pahami tujuan rapat ‘start from the end’
 Tepat waktu
 Pembicaraan tetap focus pada agenda yang telah ditetapkan

Kedua cara diatas hanya sebagian saja dari solusi yang bisa kita lakukan. Agar kekeliruan yang kita lakukan hari ini tidak menjadi kebudayaan yang mengakar kuat pada generasi setelah kita. Kalau dulu rapat sampai pukul 6 sore, kemudian seiring waktu kita rubah menjadi pukul 9 malam, bisa saja generasi setelah ini menjadikan pukul 12 malam sebagai batas ‘jam malamnya’.
Saya tahu ini adalah masalah ‘cabang’ yang telalu banyak perdebatannya. Hanya saja, saya tidak ingin menjadi orang yang diam menyimpan sesuatu yang diyakini kebenarannya.


untuk kemurnian
agar tak kalah bertubi-tubi

11 responses to “Fenomena Rapat Malam

  1. Assalamu’alaikum akh,
    Hmmm..saya rasa ada benarnya juga, untuk menghindari fitnah terhadap kita sebaiknya rapat dijadwalkan dan disudahi sebelum magrib. Tapi tuk poin tepat waktu, itu yang pada saat ini masih jadi kendala aktifis. Gimana akh..?

  2. wa’alaikumussalam.
    yup akh..sulit sekali bagi kita untuk on time, terlalu mudah di hapus dengan kata “afwan”
    tepat waktu harusnya jadi ciri kita..

  3. Assalamu’alaikum wr.wb.

    penting untuk di tanggapi.
    sebenarnya, mestinya tidak ada kelonggaran atas nama budaya atau kondisi, untuk hal2 yang sifatnya wajib di jaga. karena ini masalah penjagaan terhadap barakah da’wah yg harus dilakukan secara berkesinambungan. untuk rapat malam akhwat-ikhwan harusnya dimanapun itu tetap tidak boleh. idealnya, penanggung jawab DK disana mengevaluasi itu. bisa di beri masukan mungkin?

    selanjutnya, tentang efisiensi rapat.
    tambahan, cara terbaik untuk merubah budaya ngaret dalam rapat, yang sudah mengakar kemana2. setelah 3M ala aa gym, ketika sudah ada tiga orang yg hadir, langsung aja dimulai. gak ada alasan nunggu akhwat yg lain, atau ikhwan yg lain. khususnya untuk ikhwan, ketika sudah ada 2 org ikhwan yg hadir, dimulai aja. gak harus nunggu akhwat hadir dulu kan br di buka? kecuali jika seluruh ikhwannya ngaret, yah kembali lagi ke 3M.

    Allahu a’lam.

  4. betul, sepakat, setuju😀

    batas rapat yg campur ikhwan akhwat adalah sebelum adzan magrib. bahkan, salah seorang teman via fb, ada yg mengeluhkan kenapa harus ada jam malam u akhwat? uh.. padahal yg bicara ikhwan. alasannya ya karena itu td, atmosfer kehidupan di kota2 besar lebih bebas.

  5. assalamu’alaikum..

    sebenarnya fenomena tentang tema antum sungguh sudah manjadi hal yang biasa. Apalagi jika harus ada acara. Sungguh disayangkan jika masalah ini tidak menemukan solusi. Apalalgi dengan alasan SDM NYA KURANG dan ORGANISASI MASIH TERGOLONG MUDAH/BARU JADI BUTUH TENAGA YANG EKSTRA ( BANYAK ).Apa yang ana katakan emang terjadi.

  6. ikutan comment, di kampus saya sebenarnya secara tidak tertulis ada peraturan jam malam bagi akhwat yaitu ba’da maghrib, namun hal ini diberlakukan kepada para akhwat yang menjadi hanya memeiliki amanah di LDK atau wajihah da’wi saja.

    Nah bagi akhwat2 yang di wajihah siyasi & ilmi, jam malam diberlakukan sampai pukul 9.

    alasannya adalah
    ikhwah di wajihah siyasi masih tergolong minoritas, sehingga kita tidak bisa memaksakan jadwal rapat di pagi hari(sebelum kuliah) atau sore hari (setelah kuliah) mengingat jadwal kuliah dan praktikum yang padat.

    jazkumullah artikelnya, semoga bisa bermanfaat bagi kampus saya.

  7. Assalamu’alaikum.
    Saya baru mengetahui situs ini dari temen saya yang ada di salah satu komentar ini.
    Subhanalloh sekali, saya baru mengetahui bahwa fenomena rapat atau yang dikenal dengan syuro pada malam hari memiliki dampak negatif seperti yang dipaparkan dalam artikel.
    Lalu, bagaimana saya bisa mempublikasikan artikel ini kepada ikhwah yang yang ada di kampus saya? nampaknya di sini belum ada himbauan tentang rapat malam.
    Mohon bantuannya agar mereka juga mengetahui dan dapat mempertimbangkan yang mana yang memberikan lebih banyak manfaat daripada mudarat.

  8. wa’alaikumussalam
    syukron
    silahkan diprint saja artikelnya dan dibagikan ke yang lain, di sampaikan saja saat sesi taujih sebelum rapat juga bisa, atau sampaikan ke mas’ul/mas’ulah anti, biar mereka yang menindaklanjuti..

  9. Ping-balik: AKHWAT >< MUBES MALAM « adrian rangtalu rabbani·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s