Dalam Bingkai Kebangkitan

motivation

tulisan ini telah dimuat di koran singgalang, tanggal 21 juni pada kolom opini.

Setiap episode kehidupan memiliki pahlawannya masing-masing

Peringatan hari kebangkitan nasional kembali menyentakkan kita akan satu hal yang terlupakan. Dari sekian puluh tahun kita memperingati momen ini selalu ada suatu makna yang terlupakan. Sesuatu yang seharusnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari momen kebangkitan. Karena sejatinya dulupun begitu. Sebenarnya seratus satu tahun yang lalu, momen kebangkitan nasional yang kita peringati hari ini adalah efek saja. Efek dari sesuatu yang lebih besar daripada momen kebangkitan itu sendiri.

Dalam buku-buku sejarah yang kita baca hari kebangkitan nasional selalu dikaitakan dengan berdirinya sebuah organisasi atau perkumpulan yang bernama Boedi Oetomo (Budi Utomo) pada tanggal 20 mei 1908. Sebuah organisasi yang lahir karena didorong oleh kesadaran yang tinggi dari kaum muda terpelajar yang ingin membebaskan diri dari belenggu penjajah. Walau ketika itu masih kental akan sifat-sifat kedaerahan, tapi sejarah telah mencatat ini sebagai episode baru bangkitnya kesadaran nasional untuk memerdekakan Indonesia. Setelah Budi Utomo, bermunculanlah setelahnya perkumpulan-perkumpulan pemuda lainnya, dari berbagai suku, daerah, bahasa ataupun agama. Sumpah pemuda kemudian menjadi salah satu tonggak lain dari momen kebangkitan nasional yang dipelopori oleh seluruh perkumpulan pemuda itu. Hingga akhirnya sampailah pada momen puncak ketika teks proklamasi dibacakan oleh seorang pemuda Indonesia, Soekarno, pada tanggal 17 agustus 1945

Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, berbagai momen bersejarah dalam perjuangan merebut kemerdekaan kemudian diperingati secara nasional dan beberapa diantaranya dijadikan sebagai hari libur nasional. Tanggal 20 mei menjadi salah satunya, diperingati sebagai hari kebangkitan nasional. Kebanyakan dari kita kemudian mengaitkankan makna kebangkitan nasional itu dengan hari lahirnya Budi Utomo. Menganggapnya hanya sebatas memperingati hari lahir sebuah organisasi pemuda saja. Dan dari sinilah kemudian makna kebangkitan dan penyebab utama kebangkitan itu menjadi pudar. Sehingga ini menjadi peringatan yang kehilangan makna.

Sesungguhnya kebangkitan nasional yang dimaksud tidak hanya bicara soal hari lahir sebuah organisasi. Tetapi kebangkitan nasional itu sebenarnya bercerita tentang peranan besar generasi muda. Maka ketika muncul diskusi tentang kebangkitan nasional, itu sebenarnya adalah diskusi tentang begitu besarnya peranan yang dimainkan oleh generasi muda dalam mengantarkan negeri ini ke gerbang kemerdekaan. Sayangnya itu yang hilang. Setiap kali memperingati hari kebangkitan nasional kita lupa untuk mengukur tentang derajat kapasitas dan sumbangsih pemuda hari ini.

Padahal pemuda adalah tonggaknya perubahan, dalam setiap ideologi pemuda adalah pengibar panji-panjinya. Dalam begitu banyak catatan sejarah pemudalah yang mengobarkan perjuangan.

Sementara hari ini ada cerita yang berbeda tentang pemuda. Mereka lebih banyak berada di tempat hiburan daripada ruang-ruang organisasi. Mereka begitu banyak yang sibuk ingin menjadi artis atau penyanyi daripada menjadi seorang akademis. Sangat mudah menemukan mereka di tengah kerumunan penonton konser musik atau di taman-taman kota dan pinggir pantai. Dan tentu sulit menemukan mereka dalam jumlah demikian di ruang-ruang seminar nasional. Banyak diantara mereka yang tidak tahu tentang kondisi negaranya sendiri, karena bacaan mereka adalah majalah-majalah hiburan, tontonan mereka adalah sinetron percintaan. Mereka lebih banyak berhuru-hara daripada berdiskusi tentang perubahan untuk negerinya. Jangankan memikirkan negeri memikirkan diri sendiripun banyak yang tidak mampu. Semua lena dalam keasyikan semu, dunia muda yang hanya menenggelamkan.

Kalau kondisinya seperti ini, maka peringatan hari kebangkitan nasional itu akan kering makna. Karena ruh dari kebangkitan itu adalah pemuda yang memiliki integritas diri. Pemuda yang bagus secara moral, fisik, mental dan pemikirannya. Kita semua tentu rindu dengan pemuda yang memiliki integritas diri yang matang. Agar negeri ini bisa kembali berbangga di hadapan dunia internasional. Maka ada beberapa karakter yang harus dimiliki setiap pemuda, yang akan membawa perubahan bagi negeri ini.

1. Kekokohan dalam beragama
Agama adalah dasar paling fundamental dalam gerak seorang pemuda. Kekuatan seorang pemuda dalam memperjuangkan ideologinya, tergantung dari seberapa kuat ikatan dengan agamanya. Energi keimanan memiliki pengaruh besar ketika berhadapan dengan kesulitan-kesulitan hidup, maka hanya pemuda yang bagus spritualnya lah yang mampu bertahan. Disini terkandung masalah keimanan, ibadah dan akhlak.

2. Berwawasan luas
Bangsa ini dulu pernah memiliki pemuda yang sangat cerdas, mampu berkomunikasi lebih dari tiga bahasa, menulis banyak buku dan terkenal sampai ke timur tengah karena keluasan ilmunya. Membaca dan berdiskusi adalah aktivitas ilmiah yang harus dihidupkan kembali. Semangat untuk belajar dan menuntut ilmu mesti terus ditingkatkan.

3. Kematangan Finansial
Kemampuan untuk memiliki penghasilan sendiri juga karakter yang harus dimiliki seorang pemuda. Tidak harus menjadi PNS atau pekerja kantoran. Apapun profesi yang ditekuni dan mampu menghasilkan uang untuk kebutuhan hidupnya, itu sudah cukup. Tentu akan lebih baik ketika ia memiliki kelimpahan materi, agar bisa digunakan untuk membantu yang lain.

4. Kekuatan Fisik
Selain kekuatan keimanan yang berkaiatan dengan masalah psikis, kekuatan fisik juga merupakan modal yang harus dipunyai setiap pemuda. Fisik yang kuat dan sehat akan menunjang kinerja seseorang dalam beraktivitas.

5. Bersungguh-sungguh
Kesungguh-sungguhan memperjuangakan apa yang telah diyakini membuat seseorang tidak mudah menyerah. Ia akan memiliki semangat juang yang besar. Sebesar apapun tantangan yang merintangi akan dihadapi dengan sebuah keyakinan. Ide, gagasan dan rencana yang tidak diperjuangkan dengan sungguh-sungguh tidak akan memberi hasil yang maksimal. Tindakan yang dilakukan setengah-setengah juga memberikan hasil setengah-setengah.

6. Kemampuan manajemen
Kemampuan untuk mengatur atau memimpin sangat diperlukan, baik itu untuk mengatur diri sendiri atau mengatur dan memimpin orang lain.

7. Disiplin
Banyak orang yang tertipu dengan banyaknya waktu luang. Maka seorang pemuda yang ideal adalah mereka yang mengetahui benar arti penting menghargai waktu sehingga mereka selalu disiplin dalam setiap urusannya.

8. Memberi Manfaat

Sebaik-baik manusia adalah mereka yang memberi manfaat pada orang lain. Maka sekecil apapun peran yang bisa dimainkan makan lakukanlah. Pemuda harus bisa melihat permasalahan yang ada di lingkungannya kemudian berusaha menjadi solusi dari permasalahan itu.

Ketika karakter ini telah ada pada diri setiap pemuda maka kerinduan kita untuk melihat pemuda yang memberi manfaat akan menjadi sebuah kenyatan. Tapi tetap ukuran waktulah yang kemudian akan menjawab, bilakah masa itu tiba. Satu yang pasti, mari mulai ini semua dari diri kita sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s