Menyinggung Puncak Kada

emosi-dapat-mempengaruhi-organ-dalam-

alhamdulillah, tulisan ini juga telah dimuat di koran singgalang tanggal 31 mei, dengan judul “puncak kada”

Sebenar-benar parah anak muda zaman kini. Tidak tentu apa yang akan kita sebutkan untuk mereka.

Tidak peduli ia lulusan SMA, MAN, pesantren, yang sedang kuliah di kampus negeri ataupun yang di kampus agama. Baik laki-laki ataupun perempuan, tinggi atau rendah, mau berambut keriting atau botak, berkulit kuning langsat ataupun langsat busuk, sama saja semua. Semua sama saja. Sama-sama semua. Tidak mau mendengar.
Kalau yang kita maksud mendengar hanyalah sebatas sampainya gelombang suara ke selaput gendang telinga, tentu mereka bisa disebut mendengar. Karena gelombang suara kita pasti sampai ke gendang telinganya. Kecuali mereka pakak. Tapi mendengar yang kita maksud sebenarnya adalah mengerti dengan apa yang kita sampaikan.

Itulah yang sulit hari ini. Mereka mendengar tapi tidak mengerti, apalagi ketika kita berbicara dengan kiasan atau sindiran. Padahal dulu orang bilang kalau orang minang itu paling mengerti dengan kiasan. Tapi kini, jangankan kiasan atau sindiran, kita berbicara langsung saja, berkeras-keras dan berjelas-jelas dihadapannya, tidak satupun yang masuk ke telinganya.

Entah apa yang membuat telinganya seperti telinga badak, padahal ibunya sudah rajin membersihkan sejak dia kecil. Tapi tetap saja tersumbat. Seluruh nasehat dan masukan tersangkut semua di bulu-bulu telinganya. Tidak ada satupun yang sampai ke otaknya untuk difikirkan. Tidak satu juga yang sampai ke hatinya untuk dirasakan.

Makin bersikeras kita mengatakan dan mengingatkan ini dan itu. Sekeras itu pula mereka menahannya. Dianggap angin lalu saja setiap apa yang kita sampaikan. Seperti orang tidak tahu saja. Bahkan sudah kita singgung puncak kadanya, tetap saja ia tidak mengerti.

Tidak hanya sekedar menyinggung puncak kadanya. Bahkan dipukul sampai meletuspun tidak apa-apa baginya. Atau mungkin kadanya sudah begitu banyak, jadi tidak masalah bagi mereka ketika ada yang meletus salah satunya. Masih ada empat kada lagi yang dipegang erat-erat seperti lagu balonku ada lima. Kadaku ada lima.

Siapa yang akan kita salahkan kalau keadaannya sudah seperti ini. Anak-anak muda itu memang salah, tapi ia tidak salah sendiri. Ada orang lain yang ikut membuatnya menjadi seperti itu. Bisa jadi sekolah, pesantren atau kampus. Orang tua, guru, dosen ataupun mungkin guru mengajinya. Ternyata semua patut disalahkan, karena telah menyumbangkan kerak yang menyumbat telinga anak-anak muda. Mereka menjadi seperti ini karena mereka tidak punya lagi seseorang yang menjadi teladan. Kalaupun ada sulit mencarinya. Sementara mereka butuh teladan itu hadir disekitar mereka, mengiringi hari-harinya.

Dan beban menjadi teladan itu ada di pundak kita, para orangtua, guru, dosen dan seluruh mamak-mamaknya, orang-orang yang merasa lebih tua dan lebih baik dari anak-anak muda itu. Kita selama ini belum memberi teladan yang cukup hanya bisa berbicara saja. Kita lupa, karena ternyata nasehat itu tidak cukup dengan kata-kata. Ia harus diawali dengan keteladanan. Orang arab bilang qudwah qabla da’wah. Kalau kita sudah bisa menjadi teladan, maka tidak perlu lagi menyinggung puncak kadanya, karena kada itu akan lisut sendiri.

Iklan

One response to “Menyinggung Puncak Kada

  1. Selamat ya bang atas dimuatnya tulisannya di kolom Mantagi Singgalang. Tunggu muatan tulisan ana pula ya…di kolom yang sama, semoga juga dimuat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s