Serial Penganggur

millenials_depression_012414

Menjawab Tanya.

Hidup adalah kumpulan pertanyaan. Dalam setiap episodenya selalu ada pertanyaan klise yang diajukan, dan itu harus dijawab. Meski hanya dengan sesimpul senyum.

Dan terkadang pertanyaan-pertanyaan itu menjadi beban batin, apalagi ketika kita tidak punya jawabannya. Pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya adalah gambaran tentang alur baku kehidupan yang dipahami banyak orang.

Ketika kita masih duduk di bangku sekolah, orang akan bertanya, “setelah tamat mau kuliah dimana?”. Begitu kita kuliah, pertanyaannya menjadi berbeda, “kapan wisuda?”. Setelah kita wisuda, muncul pertanyaan baru, “kerja dimana sekarang?” atau “S2 dimana?”. Setelah kita mempunyai pekerjaan, orang akan bertanya “kapan rencananya menikah?”. Nanti setelah menikah pertanyaannya beda lagi, “sudah berapa orang anaknya?”. Setelah punya anak, pasti akan muncul banyak pertanyaan baru. “kapan anaknya nikah?”, “kapan pensiun?”, “kapan rencananya mau poligami?” atau mungkin ada yang bertanya “kapan mati?”..

Dan hari ini, kita tengah menghadapi salah satu dari pertanyaan-pertanyaan itu, bisa jadi masalah rencana kuliah, masa studi di kampus, pekerjaan, walimah, anak dan yang lainnya. Tapi terkadang kita bisa saja menghadapi dua atau tiga pertanyaan sekaligus: tentang wisuda, nikah dan kerja. Atau nikah dan kerja. Meskipun begitu, dari dua atau tiga pertanyaan yang bersamaan, biasanya hanya akan ada satu poin saja yang akan membuat kita tertekan. Di posisi pertanyaan manapun kita berada, sementara kita tidak punya jawabannya, dan terasa tekanan batin yang berat setiap kali pertanyaan itu muncul. Maka pada poin itulah sebenarnya masalah atau tantangan besar yang harus kita dihadapi.

Yang namanya tantangan, harus kita hadapi. Dan pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya juga memicu motivasi kita untuk melewati tantangan itu, menyiapkan jawabannya. Sama halnya dulu, ketika buk guru di SD mengajukan pertanyaan 3+2+3. Maka kita akan berusaha mencari jawabannya, entah dengan menghitung menggunakan lidi atau bertanya ke Ani dan Budi.. dan ternyata jawabannya adalah DELAPANJ? Yang jelas kita harus punya jawaban ketika pertanyaan itu di ajukan lagi kepada kita. Dulu ketika perkuliahan di semester  ke tujuh . Banyak yang bertanya, “kapan rencananya mau wisuda?” dan mau tidak mau itu memaksa saya untuk mencari jawabannya. Pertanyaan itu akhirnya memotivasi saya.. sehingga muncul komitmen terhadap diri sendiri “Tahun 2009 saya tidak ingin jadi mahasiswa lagi”.. dan Alhamdulillah saya wisuda di akhir bulan desember 2008, seminggu sebelum malam tahun baru 2009.

Begitulah.. pertanyaan itu memotivasi kita. Semakin banyak orang yang bertanya kita akan semakin termotivasi. Jadi tak perlu menggerutui mereka yang bertanya, walaupun batin anda tertekan. Biarkan tekanan pertanyaan itu membawa anda ke dasar pegas, karena setelah itu anda akan dilambungkan setingi-tingginya. Makin dalam ia di tekan, dorongannya akan semakin kuat.

Hari ini pertanyaannya telah berbeda. Saya dan sebagian yang lain tengah menghadapi salah satu dari pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Juga tengah mempersiapkan jawabannya.  Ketika membaca judul serial tulisan ini Anda pasti tahu pertanyaan mana yang saya hadapi. Walaupun sebenarnya tidak seratus persen berada pada posisi itu. Hanya saja, criteria yang digunakan untuk meluluskan seseorang dari pertanyaan ini sangat relative. Setiap orang punya pandangan yang berbeda.

Maka jangan tanya pada rumput yang bergoyang..

6 responses to “Serial Penganggur

  1. Assalamu’alaykum wr. wb.
    Smg antum berada dlm keadaan sehat wal’afiat. Apalagi berada di masa penantian ini.
    Baiklah Ana tdk aka bertanya pada rumput yang bergoyang tapi langsung ke Adrian Rabbaniyun.
    Mengutip kalimat antum “Walaupun sebenarnya tidak seratus persen berada pada posisi itu”. Mmgnya antum lagi meng….ur ?.
    Lihatlah betapa banyak org yang harus menunggu beberapa tahun baru mendapatkan pekerjaan yang diimpikannya.
    Sebagian org masih menganggap klu bekerja di kantor, pergi pagi pulang petang, pakai baju rapi plus dasi, barulah disebut bekerja. Tentunya ciri2 org bekerja bukan hanya itu bukan?. Masih mengutamakan gaya ketimbang penghasilan. Ya, demi prestise🙂.

    “Kalo Anis Matta punya Serial Cinta, Arya Sandiyhuda punya Serial Kebangsaan, nah saya dengan Serial Penganggur nya”. Dua serial di atas menarik untuk dibaca karena menambah semangat kita.
    Bagaimana dgn serial pengangguran ? Karena keterbatasan daya nalar Ana yang masih blm bisa menangkap apa makna tersirat bahkan tersurat dari Serial Pengangguran ini. Apa lagi pilu atau ada maksd lain di balik itu. Lagi2 Ana tdk bertanya pada rumput yang bergoyang, tapi lgsg ke sang penulisnya.

    Terakhir, Ana hadiahkan sebuah penggalan nasyid Izzis untuk antum.
    “Sabarlah wahai Saudaraku, tuk menggapai cita. Jalan yang kau tempuh sangat panjang, tak sekedar bongkah batu karang”.

    Mhn maaf jika ada yg kurang berkenan.

    Wassalam

  2. >> bg ihsan
    jazakallah. oh tidak. sebenarnya ini hanya ingin memandang masalah dari sudut berbeda. Dari sudut kebanyakan orang di negeri ini.. karena peng ANGGUR itu haram… h ha.. tanang bang. I’m still fighting, never give up.. insyaallah, ana alan susul abang kesana.. europe.. yah

    >> muntoha
    silahkan..

    >> rang kampuang
    adolah.. tapi bukan yang patang.

  3. Ooo baitu toh. Mantappp.
    Kata2 “Oh tidak” mengingatkan Ana pada seseorang.

    Ya, ana yakin tdk ada kata menyerah bagi ughang Talu.
    Bersama Allah tdk ada yang tdk mungkin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s