Negara Tanpa Penjara

Penjara..
Ruang kerangkeng-kerangkeng itu tak sekuat besi yang menjadi jerujinya. Penjara telah lemah, dari dulupun sebenarnya sudah lemah. Sama lemahnya dengan sistem hukum pidana Indonesia yang berkiblat ke Belanda, ke negeri yang secara kultur tidak memiliki ikatan apapun dengan jiwa bangsa ini. Keberadaan penjara sama seperti hotel atau rumah singgah bagi para pejalan jauh. Hanya sekedar tempat untuk beristirahat dan mengatur rencana, untuk melakukan perjalanan esoknya.

Penjara tidaklah banyak memberi manfaat dalam penegakan hukum di negeri ini. Fungsinya sebagai tempat untuk mengekang kemerdekaan pelaku tindak pidana hanya bermanfaat ketika itu saja. Penjara menjadi tempat bagi para penjahat untuk bersantai sejenak setelah melakukan tindak pidana. Sama hal nya seperti ular yang tidur panjang di dalam gua, setelah memakan mangsanya. Begitulah penjara ia menjadi guanya bagi para penjahat untuk menikmati kepuasaannya setelah melakukan kejahatan ataupun untuk menghindari amukan dari orang yang membencinya.
Pengaturan mengenai pidana penjara sebagai salah satu pidana pokok terdapat dalam pasal 10 KUHP. Belanda telah memperkenalkan sIstem pidana penjara ke Indonesia ketika mereka menjajah Indonesia dan kemudian menerapkan Wetboek van Strafrecht mereka di negeri ini. WvS ini lah yang kemudian menggusur peranan hukum adat dan hukum agama yang selama ini telah mengatur ketertiban hidup masyarakat Indonesia.
Sebenarnya baik hukum adat Indonesia yang terdiri dari lebih dari 250 ragam maupun hukum agama tidaklah mengatur tentang pidana penjara. Bentuk pidana yang dijatuhkan dalam hukum adat seperti hukuman mati, pengasingan, pemukulan atau ganti rugi. Pelaksanaan hukuman mati dalam hukum adat berbeda-beda disetiap daerah, ada yang dibakar, dilempar dengan batu, dipenggal, dibuang ke laut. Ditumbuk dilesung, ditikam dengan keris dan metode lain yang disesuaikan dengan karakter masing-masing daerah. Dalam undang-undang Majapahitpun tidak ditemukan adanya pidana penjara. Jenis pidana yang ada adalah, hukuman mati, potong badan, denda dan ganti rugi.
Sementara itu dalam hukum Islam pun tidak dikenal jenis pidana penjara. Para pelaku jarimah akan dijatuhkan hukuman seperti hukuman mati, dera, diyat, qishash, pembuangan, kaffarah dan ta’zir. Sama sekali tidak ada yang mengatur tentang pidana penjara.
Hanya dalam KUHP sajalah hal itu ditemukan, di dalam sistem hukum yang berasal dari Negara Belanda. Tidak tahu darimana Belanda mengadopsi system pidana penjara, mungkin dari Fir’aun, karena Fir’aun dulu yang pernah memenjarakan Nabi Yusuf AS.
Berbeda dengan hukum adat dan hukum Islam yang telah menjadi jiwa bangsa Indonesia, karena sistem hukum itu telah ada sejak lama di negeri ini.
Terlepas dari itu semua. Negara ini sebenarnya tidak perlu lagi menerapkan pidana penjara, karena ada banyak kekurangan dalam pidana penjara, antara lain:
1. Tidak membuat seseorang jera
Ancaman pidana penjara dalam pasal 12 KUHP terdiri atas pidana penjara seumur hidur dan pidana penjara sementara waktu, maksimal adalah 15 tahun. Ancaman itupun dapat berkurang sekiranya ia mendapat grasi. Penjara dalam kurun waktu itu tak terbukti membuat seseorang jera melakukan tindak pidana, meskipun di Indonesia istilah penjara diganti dengan Lembaga Pemasyarakatan, yang bertujuan untuk membina mereka. Tapi agaknya belum berhasil, atau tidak berhasil.
2. Sekolah Kejahatan
Seseorang dapat belajar dari orang lain di dalam penjara tentang bagaimana cara melakukan kejahatan yang aman dan berhasil. Bukannya menjadi lebih baik, seseorang yang dipenjara malah bertambah pintar dalam melakukan kejahatan. Maka setelah keluar dari penjara, ia akan mempraktekkan ilmu barunya dengan melakukan tindak pidana yang lebih berat.
3. Menguras Kas Negara
Biaya untuk operasional dan administrasi penjara cukup besar dan itu berasal dari uang Negara. Ini sama saja dengan Negara memberi makan dan kehidupan bagi para penjahat. Apalagi seseorang yang dijatuhi penjara seumur hidup, maka selama itu pula Negara harus membiayainya, sementara ia tidak akan memberikan kontribusi apapun pada Negara ini. Benar-benar hanya membuang-buang uang Negara.
4. Pusat Peredaran Narkoba
Penjara menjadi tempat yang aman untuk memakai narkoba dan mengedarkannya, hanya perlu uang. Semua selesai.
5. Perlakuan menyimpang berkembang di penjara, seperti sodomi.
6. Penjara hanya memelihara penjahat dan mengembangbiakkannya
7. Pidana penjara memungkinkan seseorang untuk kabur.

Masyarakatpun akan menjadi resah karena mendengar berita ada tahanan yang kabur. Bayangkan sekiranya ia dipidana mati, terutama para pembunuh yang sengaja, tentu ia tidak bisa kabur. Bagaimana mana mau kabur, toh tidak lagi bernyawa.
8. Penjara menyiksa mental dan menjadikan seseorang penyakitan
Menghukum boleh. Tapi tidak menyiksa. Menyiksa berarti menyakiti sedikit demi sedikit, itu tidak dibenarkan. Itu sebabnya kalo ingin memotong ayam pisaunya harus tajam agar ia tidak tersiksa karena mati kepayahan. Ayam saja dihargai sedemikian, tentu manusia juga tidak boleh di siksa.
Kalau hukuman, harusnya dilakukan sekali saja, dalam waktu yang relatif singkat, selesai.
Penjara pada zaman Belanda pada umumnya digunakan untuk menahan para pejuang kemerdekaan. Di dalam penjara mereka menyiksa dan berusaha menjatuhkan mental setiap pejuang. Atau untuk menyuci otak mereka. Maka sekarang ini sungguh tidak lagi efektif.

Maka Negara ini harus menutup semua penjara, lebih baik dijadikan saja sebagai tempat tinggal bagi beribu tunawisma yang bertebaran di negeri ini, yang hidup di emperan toko atau kolong jembatan. Anggaran Negara yang awalnya setiap tahun di alokasikan untuk penjara bisa di alihkan untuk rakyat miskin. Selama masih ada penjara berarti Negara lebih peduli dengan penjahat, karena Negara memberi makan penjahat tapi membiarkan rakyat miskin kelaparan dimana-mana..
Kalau sekiranya penjara tidak ada lagi, bagaimana penjahatnya..
Langsung saja di hukum, yang pantas di hukum mati, hukum mati saja.. Yang patut di dera, ya di dera, yang harus membayar denda ya diminta untuk membayar denda.
Temukan semua jawaban di Islam, karena Islam telah begitu sempurna mengatur semuanya…

continue…

Iklan

3 responses to “Negara Tanpa Penjara

  1. Penjara menjadi tempat bagi para penjahat untuk bersantai sejenak setelah melakukan tindak pidana. Sama hal nya seperti ular yang tidur panjang di dalam gua, setelah memakan mangsanya. Begitulah penjara ia menjadi guanya bagi para penjahat untuk menikmati kepuasaannya setelah melakukan kejahatan ataupun untuk menghindari amukan dari orang yang membencinya.

    Tulisan anda yg saya quote di atas ini terlihat paradoks dgn tulisan anda yg dibawah ini …

    8. Penjara menyiksa mental dan menjadikan seseorang penyakitan

    quote yg pertama katanya penjara menjadi tempat bersantai sejenak dan menikmati kepuasan, tapi quote yg kedua bilang “penjara itu menyiksa” mana yg benar hayoooo?? 😀

  2. yaa… 🙂
    sebagian penjahat dapat menjadikan penjara sebagai tempat berlindung, itulah gua nya. tapi negara sebenarnya menjadikan penjara tempat pesakitan untuk mereka, yang mendidik mereka untuk lebih jahat lagi

  3. yaa …
    klo menurut ku koruptor pabila tidak segera diadili dia bertambah senang di pejaranya…soalnya dia selalu makan enak tu di penjara…heheh
    coba klo maling ayam …pasti dah babak belur tuh ditangan bapak2 penjaganya…mampus deh…!!!:-j:-j

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s