Kita Tidak Butuh Muwashofat Kader

SEPULUH slogan NOL implementasi

kami adalah panah-panah terbujur

kami adalah pedang-pedang terhunus

kami adalah tombak-tombak berjajara

kami adalah butir-butir peluru

kami adalah mata pena yang tajam

seperti elang kami melayang

seperti air kami mengalir

seperti matahari kami berputar

seperti gunung kami merenung.
Kebangkitan umat adalah sebuah cita-cita besar bagi kita semua. Tentunya untuk mempersiapkan kondisi kebangkitan itu di butuhkan orang-orang yang mampu dan kuat untuk mewujudkannya. Jangan pernah bermimpi jika dengan persiapan yang seadanya kita akan bisa mewujudkan kebangkitan umat. Cita-cita besar butuh persiapan besar. Persiapan yang kecil dan seadanya hanya untuk karya-karya yang juga kecil bahkan sangat kecil.

 

Kader sejati sangat dibutuhkan dalam mempersiapkan dan mengusung kebangkitan ummat. Bukan setiap orang tentunya yang bisa mewujudkannya, tetapi hanya mereka yang telah memenuhi muwashofat, mereka yang telah memilki dan mengamalkan apa yang kita namakan sebagai karakter kader sejati.

Berbicara tentang muwashafat kader sebenarnya kita telah lama mengenalnya, bukan baru tadi atau kemaren sore, untuk ukuran sebuah waktu pembelajaran kita telah lama sekali mengenal itu semua. Sebagian kita mungkin mengenalnya ketika awal memasuki forum atau mungkin bagi sebagian lain telah tahu itu sejak aktif di da’wah sekolah. Kita mengenal berbagai karakter ada shalimul aqidah, shahihul ibadah, matinul khuluq, mutsaqaful fikri, gadirun ’alal kasbi, haritsun ’ala waqtihi, munazham fi syu;unihi, mujahidu linafsihi dan nafiun lighairihi.

Ketika kita mencoba menghubungkan antara muwashafat dengan suatu tujuan untuk kebangkitan ummat, ternyata untuk mewujudkan kebangkitan ummat kita tidak membutuhkan muwashofat kader, yang kita butuhkan adalah kader yang memenuhi muwashofat. Kita tidak butuh karakter kader untuk mempersiapkan kebangkitan ummat, yang kita perlukan itu sebenarnya adalah kader yang berkarakter. Karena kalau hari ini kita masih sibuk dengan persoalan karakter kader, maka wacana yang muncul hanya baru sebatas konsep bagaimana seorang kader ideal yang diharapkan ummat. Tetapi ketika kita berbicara tentang kader berkarakter maka berarti kita berbicara tentang kader-kader yang telah memenuhi muwashofat, otomatis di dalamnya kita telah berbicara tentang muwashafat itu sendiri.

Kebangkitan ummat yang diharapkan akan sulit terwujud jika kader yang ada masih menjadikan muwashofat sebagai pengetahuan saja, sesuatu yang hanya ditulis di buku-buku, di cantumkan di agenda-agenda rapat, diketik kemudian di tempel di dinding kamar agar ketika ada yang melihat dianggap sebagai kader yang militan. Kebangkitan ummat yang menjadi cita-cita besar itu akan makin jauh, jika muwashofat hanya menjadi slogan-slogan tanpa implementasi.

Maka agar kebangkitan ummat itu terwujud, Dibutuhkan kesungguhan dari setiap kita untuk memperbaiki kapasitas diri. Mengamalkan dengan sungguh-sungguh apa yang telah diketahui, tentunya tidak separo-separo, harus semua. Agar kader yang terbentuk juga kader yang unggul.

Tetapi untuk melahirkan seorang kader yang memenuhi karakter yang diharapkan cukuplah sulit. Bukan karena banyaknya muwashafat yang harus dipenuhi, bukan pula karena muwashafat yang ada terlalu berat. Tetapi lebih kepada dimana bagi sebagian ikhwah memandang muwashofat sebagai beban, sesuatu yang harus dipenuhi hanya karena terpaksa. Sebagian kita atau malah keseluruhan dari kita merujuknya menjadi suatu target pencapaian yang berat.

Sementara para sahabat Rasulullah SAW memandang muwashofat sebagi ciri mereka. Mereka merujuknya sebagi keutamaan diantara yang lainnya. Itu jua sebabnya mengapa para sahabat mengembangkan model amal unggulan pada setiap diri mereka.

Muwashafat ketika hanya menjadi beban maka sangat sulit akan membentuik diri seseorang menjadi kader sejati. Karena pemenuhannya terhadap muwashofat yang ada hanya teruji ketika berhadapan dengan murabbinya, ikhwah lain atau didepan petinggi jamaah saja. Padahal karakter yang diharapkan adalah karakter yang benar-benar melekat pada diri seseorang, terpatri di dirinya sampai kapanpun dan dalam kondisi apapun.

Muwashofat tidak di ukur hanya dari kuantitas dan kualitas saja. Tetapi juga dihitung dari kesiapan, kesigapan dan totalitas dalam mengenban amanah da’wah.

Maka saat ini bukan masanya lagi bagi kita berbicara dan menjelaskan panjang lebar tentang karakter kader sejati. Sekarang masanya pembuktian, tidak hanya sebatas pengetahuan, tidak hanya sebatas hafalan.

Sekarang adalah waktunya untuk melakukan pertunjukan, bukan lagi waktu untuk menghafal naskah…sehingga kebangkitan ummat itu akan semakin dekat.

Wallahu’alam bish shawwab.

NB: edisi lengkapnya, pernah di terbitkan di tabloid lokomotif rabbani

 

2 responses to “Kita Tidak Butuh Muwashofat Kader

  1. “Hendaknya kita menguku ilmu bukan dari tumpukan buku yang kita habiskan.bukan dari tumpukan naskah yang kita hasilkan ,bukan juga dari penatnya mulut dalam diskusi.Tapi, dari amal yang keluar dari setiap desah nafas kita”(Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah)

  2. “Hendaknya kita mengukur ilmu bukan dari tumpukan buku yang kita habiskan.bukan dari tumpukan naskah yang kita hasilkan ,bukan juga dari penatnya mulut dalam diskusi.Tapi, dari amal yang keluar dari setiap desah nafas kita”(Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s