Teruslah Melihat Jimat

Jimat

Mid semester datang lagi untuk kesekian kalinya. Mid ini mungkin jadi yang ke empat kalinya bagi yang BP 2006, ato jadi yang ke 12 kalinya bagi BP-BP gaek. Mmm.. tapi meski ini bukan yang pertama, tetap saja setiap orang mempersiapkannya dengan maksimal. Bagaimanapun nilai ujian mid tidak boleh anjlok, karena akan sangat berpengaruh terhadap nilai yang akan tertera di dalam KHS-KHS kita.

Tentu butuh persiapan yang matang untuk menghadapi itu semua, belajar sampai larut malam dengan ditemani segelas kopi panas, membaca lagi seluruh buku-buku kuliah, melengkapi catatan-catatan yang tertinggal karena sering absen, membahas soal-soal tahun lalu bersama teman-teman, bersegera memfotocopy bahan dari dosen yang sebenarnya sudah diberikan sejak tiga bulan lalu. dan sebagainya.

Dan ada satu hal yang sepertinya tidak pernah hilang dari tahun ke tahun, selalu ada. Selalu dipersiapkan oleh mahasiswa, tidak peduli angkatan berapapun, mahasiswa baru ataupun BP gaek, tinggi ato pendek, gendut atau kurus. Yang satu ini selalu ada. tentu kita semua tahu akan hal itu, ia adalah : JIMAT.

Di dunia perdukunan, jimat memiliki banyak rupa dan bentuk. Ada yang berupa kalung, cincin, gelang, atau benda-benda lain yang di yakini oleh pemiliknya bisa memberi pertolongan karena mempunyai kekuatan ghaib. Benda-benda keramat yang dijadikan jimat itu, terkadang didapat dengan bersemedi di pinggir gunung, hutan rimba, gua bahkan kuburan. Sebagian juga ada dengan harus berpuasa dulu 40 hari 40 malam.. tidak makan sampai kering kerontang.

Tapi jimat yang dimiliki para mahasiswa sungguh lain. Bukan cincin, gelang, atau benda apapun. Tidak diperoleh lewat semedi atau puasa dalam jangka waktu tertentu tanpa makan tanpa minum.

Mahasiswa lebih hebat dari dukun untuk memperoleh jimat, Mereka tidak perlu bersemedi berlama-lama di kuburan. Tapi cukup nongkrong di depan warung fotocopy, kemudian menunggu si tukang fotocopy bekerja memperkecil seluruh catatan kuliah, sekecil mungkin, selecil-kecilnya sehingga bahan kuliah yang awalnya satu buku bisa menjadi satu lembar saja. Hebat bukan. Tidak seperti dukun yang harus bertarung melawan nyamuk dan kecoa yang mengganggu saat semedi, Mahasiswa justru nongkrong sambil merokok atau minum teh botol, sambil mencet-mencet tombol HP..” halo-halo ko sia ko”

Mahasiswa juga tidak perlu seperti Dukun yang harus bertapa di Gua yang paling mengerikan untuk memperoleh kekuatan dan ilmu kanuragan, tapi cukup datang saja ke WC, nongkrong di situ sambil melihat catatan yang dari pagi sudah di selipkan di salah satu pojok.. SALUTE untuk mahasiswa yang bisa mengalahkan Dukun dalam mendapatkan Jimat dan memperoleh ’ilmu’.

Tak cukup itu, kalo dukun membuat ajian-ajian dan jampi-jampi di atas potongan kain kafan, maka mahasiswa menulisnya langsung di atas kulit mereka, hampir samalah dengan gembong mafia terkenal dari Jepang : YAKUZA, yang menggambar habis tubuh mereka. Bedanya kalo Yakuza membuat gambar naga, maka mahasiswa membuat rumus-rumus, pasal-pasal, dan definisi dari berbagai pengertian.

Saya yakin semua tahu dengan fenomena ini, tidak hanya mahasiswa, tetapi dosen juga pastilah tahu. Tapi semua seolah tutup mata, seakan-akan tidak melihat dan membiarkan saja itu semua. Komentar-komentar dari dosen justru semakin membuat ini berkembang biak.

Pernah dulu, salah satu dosen bilang : “ silahkan menyontek asal tidak ketahuan “.

Huhff… Apa-apaan ini, memberi angin segar untuk praktek kecurangan.

Dosen sebenarnya tahu, tapi lebih banyak yang membiarkan, pura-pura tidak tahu. Sebuah penghormatan yang besar dan rasa bangga patut di sematkan terhadap yang mau bertindak tegas meski ia akhirnya tidak disenangi oleh para penyontek. Saya bangga dengan Pak Ilhamdi. atau buk Neneng yang terkadang sangat tegas. Bagaimana dengan dosen yang lain.

Untuk mahasiswa. Berhentilah menyontek, berhentilah melihat jimat. Percuma kalau selama ini berteriak ANTI KORUPSI kalau toh kita sendiri masih menjunjung tinggi KETIDAKJUJURAN itu. Percuma demo-demo untuk tegakkan hukum, toh kita sendiri adalah pelanggar utama untuk aturan-aturan yang ada.Cukup sudah jimat-jimat itu.

Apa yang akan kau lakukan selepas kau wisuda, jika suatu saat ada yang bertanya padamu tentang Definisi HUKUM? apakah kau akan pulang kerumah mencari copian kecil yang dulu pernah kau buat, atau berdiri gagah di depannya sambil menjelaskan definisi hukum yang terekam kuat di benakmu, yang terpahat jelas di dalam pemahamanmu. Bukan di atas sobekan kertas kecil yang mudah lapuk..

Teruslah melihat jimat, kalau kau ingin menjadi PECUNDANG di dalam hidup ini.

One response to “Teruslah Melihat Jimat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s