I Prefer to be by Apatche..!

abdul-aziz-ar-rantisi

“Are we affraid to (of_red) death…? I’ll be by killing or by cancer… the same thing. We are all waiting for the last day of our life. Nothing will be changed. If it is by cardiac risk or by Apatche. But I prefer to be by Apatche…!”

Kira-kira terjemahan bebasnya begini: “ Apakah kita takut dengan kematian? (Sama saja) saya akan mati dengan dibunuh atau dengan kanker. Kita semua menanti saat akhir kehidupan kita. Tidak ada yang berubah. Apakah berakhir dengan berhentinya detak jantung atau dengan helikopter Apatche. Tapi saya lebih senang mati dengan Apatche…! Itulah ungkapan jujur dari Asy-Syahid Abdul Aziz Ar-Rantisy setelah kegagalan usaha pembunuhan Yahudi dengan rudal pada 10 Februari 2003. Ungkapan sebelum tanggal 17 April 2004. Sebelum hari di mana serangan udara yahudi dengan pesawat tempur Apatche berhasil mengarahkan rudalnya tepat mengenai mobil yang ditumpanginya. Sebelum hari itu, beliau sudah membayangkan kematian hingga akhirnya beliau meraih apa yang di cita-citakan: mati dengan Apatche.

Kita tidak sedang membahas cerita akhir dari kehidupan Dr. Abdul Aziz Ar-Rantisy. Kita juga tidak sedang membicarakan proses kematian beliau. Yang ingin kita renungi saat ini adalah, bagaimana beliau merancang kematiannya. Bagaimana beliau berfikir tentang akhir kehidupannya, bahkan membayangkan posisi seperti apa yang beliau pilih saat malaikat Izrail menjemput. Ini adalah tingkatan tertinggi dari para perencana sukses. Dan, ini mencerminkan sikap hidup yang lahir dari kematangan manajemen; manajemen kematian.

Beliau tidak lagi tergolong orang-orang yang berjuang untuk hidup sukses. Hidup untuk hidup. Berusaha keras supaya mencapai keberhasilan hidup. Mencari berbagai peluang agar kehidupan semakin meningkat. Bukan. Dr. Abdul Aziz Ar-Rantisy bukan termasuk orang-orang yang seperti ini. Tapi beliau berjuang dan berusaha keras supaya bisa mati sukses. Hidup untuk mati. Betul-betul mencari peluang-peluang yang memungkinkannya mati sesuai yang diinginkannya. Allahu Akbar! Dalam sejarah orang-orang hebat, beliau tidak terlalu asing. Sikap seperti ini sudah sangat biasa di kalangan orang-orang yang berhasil memaksa sejarah untuk mengenang dan mengabadikan mereka. Orang-orang yang mengelompok dalam satu komunitas ajaib di mana saat ini lebih dikenal akrab dengan sebutan generasi impian. Generasi pemenang. Bukan generasi fantasi. Bukan juga generasi yang hanya mimpi, apalagi pengkhayal. Mereka adalah generasi yang mewujudkan mimpi umat manusia. Yang dinanti dan diharapkan saat ini.

Jauh-jauh hari sebelum Dr. Abdul Aziz Ar-Rantisy melakukan perencanaan kematian ini, ternyata para sahabat sudah terbiasa melakukan hal ini. Membuat cita-cita kematian dan bekerja siang malam untuk meraih cita-cita itu. Kalaulah ada kegiatan mengkhayal, membayangkan sesuatu, bahkan memimpikan apa saja. Maka fokus fikiran, perasaan bahkan keseluruhan hidup mereka tertuju pada akhir kehidupan. Tertuju pada akhirat. Sungguh sangat berbeda dengan saya, mungkin Anda, atau kebanyakan kita dimana bayang-bayangnya sudah sedemikian kotor. Khayalannya negatif bahkan (maaf) “jorok”. Astaghfirullah! Impiannya tidak lebih dari kehidupan dunia. Atau dalam ungkapan sejarahwan muslim Ibnul Atsir: tidak melebihi dari syahwat perut dan kemaluan. Letak kepuasan dan kesenangan hanya berputar pada kedua syahwat itu.

Seorang Badui Arab dari kalangan biasa tiba-tiba bergabung dengan kelompok jihad Muhammad Saw. Ia berperang bersama para sahabat dalam Perang Khaibar. Usai pertempuran, Rasulullah Saw. membagikan hasil rampasan perang. Bagian sang Badui itu dibawakan teman-temannya. Ketika bagian itu diberikan kepadanya, ia segera menolak.

“Apa ini?” tanya beliau heran. “Ini adalah bagian dari hasil peperangan yang dititipkan Rasul untukmu,” jawab teman-temannya. Ia langsung mengambil dan bergegas menemui Rasulullah Saw. sambil membawa bagian tersebut. Ketika bertemu ia tampak sedikit emosi. “Wahai Rasulullah, apa ini?” tanya beliau. “Ini adalah hasil peperangan yang aku sisihkan untukmu,” jawab Rasul. “Saya bergabung dengan kafilah jihad Anda bukan karena ini (bukan karena fasilitas dan harta). Tapi saya ingin syahid dengan cara tertancap tombak di salah satu sisi leher saya hingga tembus keluar sisi yang lain.”
“Jika kamu jujur kepada Allah dengan niat ini, maka niscaya Allah akan menjadikannya kenyataan,” papar Rasulullah Saw.

Kemudian para sahabat kembali berperang. Seperti biasa, usai peperangan, para syuhada dikumpulkan. Dan, seorang Badui tadi ditemukan mati syahid persis seperti yang ia inginkan. Ah, pernahkan saya atau Anda berfikir tentang kematian? Tentang cara yang paling diingini saat malaikat Izrail datang menjemput? Tentang posisi yang diidam-idamkan ketika tiba-tiba detak jantung terhenti? Tentang kedudukan kelak di akhirat? Pernahkah bayang-bayang itu muncul? Atau bahkan sudah beranikah diri ini untuk mengungkapkan jujur tentang akhir kehidupan seperti mereka?

Suhartono Tjipto Basuki, Lc.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s