seleksi dibawah matahari

16 November 2009

Dua minggu lalu saya mengikuti tes di salah satu departemen, sepertinya ini akan menjadi tes yang sulit dilupakan. Inilah yang menjadi salah satu alasan penyebab sehingga saya hanya beberapa hari saja di Medan. Kalaulah tidak karena harus mengikuti tes ini di Padang, saya tentu punya waktu lebih lama untuk mengenal Medan, memakan “lontong setan”nya atau mie balap yang tidak sempat dicicicpi, melintasi Merdeka walk, hunting buku-buku di titi gantung atau menyelinap disudut-sudut lain Medan. Tidak apalah, mungkin di lain waktu saja.
Sabtu, 7 november. Tes Departemen Keh*tanan.
Dari begitu banyak tes yang telah saya lewati ini lah tes yang paling berbeda. Lokasi tes berada di tribun tertutup GOR Haji Agus Salim, kedengarannya memang enak ‘tribun tertutup’ tetapi karena posisinya menghadap ke arah timur, tempat dimana matahari muncul, maka jadilah semua peserta pagi itu bermandi panas. Pantas saja beberapa hari sebelumnya panitia berpesan untuk membawa payung dan topi. Inilah seleksi pertama sebelum tes tertulis dimulai, menjaring orang-orang yang bisa di tempatkan di Departemen ke – H*TAN – an. Sekali lagi saya tegaskan, H*TAN. Kalau tidak tahan panas berarti tidak cocok di departemen keh*tanan. Untung saja tes berikutnya tidak dilanjutkan dengan tes kelincahan dalam memanjat pohon, atau berlari mengejar rusa.
Peserta ujian boleh duduk dimana saja, tidak perlu lagi sesuai dengan nomor ujian yang dimiliki. Sehingga ada beberapa orang yang ‘berkomplot’ dibalik payung-payung yang dikembang menuntaskan soal-soal tes. Sementara tidak ada pengawasan yang cukup dari panitia karena sebagian dari mereka lebih banyak berkumpul di tempat yang agak teduh daripada berkeliling mengawasi peserta ujian di bawah terik matahari.
Disela-sela ujian, di tengah lapangan ada hiburan yang bisa sedikit menenangkan urat syaraf sel kelabu yang lelah berfikir, beberapa siswa dari salah satu SMA kencang berlari mengelilingi lapangan. Saya melihat mereka sesekali ketika buntu menjawab soal-soal tes, dan mencoba menjagokan salah satunya, seperti para pemasang taruhan pacuan kuda di Bukittinggi. Jagoan saya menang, ia mencapai finish lebih awal, beberapa detik lebih cepat dari lawan di belakangnya yang mungkin juga di jagokan oleh orang yang duduk disebelah saya atau bapak-bapak di bawah sana yang memakai payung pink.. Jagoan saya menang tapi saya belum juga selesai mengerjakan soal-soal tes.
Matahari semakin terik, tepat menembak ubun-ubun beberapa orang yang tidak membawa payung, tentu saja itu sedikit menghambat aktivitas sel kelabunya untuk berfikir.
Menjelang tengah hari, barulah tribun ini benar-benar berfungsi, atap mulai melindungi kepala dari terik matahari. Tapi itu tidak terlalu membantu karena beberapa menit kemudian waktu untuk mengerjakan soal telah habis..

*)
Untuk teman-teman yang juga berpanggang di bawah matahari, hanif, ichwan, sony, dony, bg adek.. he he iyo sabana mantap ujian nan sakali ko nak.. tapi nuansa hutannyo kurang taraso, paralu di usulkan supayo bisuak ujiannyo di Bukik Lantiak atau Gunuang Padang, bia lebih menjiwai..


MEDAN 6 HARI

11 November 2009

Inilah Medan pesawat di udara saja macet, apalagi mobil di jalan
(sesaat sebelum take off meninggalkan Medan)

Akhirnya kaki ini berdiri juga di sudut lain bumi ini, di Medan. Kota keras kata orang, semua garang. Kota multi budaya dan agama seperti yang tertulis di bawah baligho Gubernur Sumut yang berfoto bersama miss universe.he he. Walaupun disana tidak begitu lama, tapi cukuplah untuk menjadi sedikit cerita. Memang sulit sebenarnya merangkum Medan dalam barisan huruf karena ia begitu kompleks. Tapi mari kita bertutur dalam ikon yang mudah diingat, yang mungkin mencirikan Medan, minimal dalam pandangan individu.

debu-debu
Ah kalo soal debu jalanan, Medan jauh unggul dibanding Padang. Tanyalah pada pepohonan pelindung jalan yang daunnya menjadi tak cerah lagi karena debu. Atau pada paru-parumu yang menjadi sesak sesaat. He, bukannya menghina tapi inilah kesan pertama yang didapatkan dari Medan. Beberapa kali saya dan teman-teman harus makan debu dulu sebelum mendapatkan angkot yang akan membawa pergi ke tempat tes di Kejaksaan Tinggi, ke RS. Pringadi atau kembali membawa pulang ke rumah. Medan dan debu sepertinya teman akrab disini.
Baca entri selengkapnya »


intermezo/01/f=m.a

26 Juli 2009

MENCARI MAKNA DAN NILAI ‘m’

Rangkaian rumus matematika, fisika, kimia, logaritma, statistic dan ilmu hitung lainnya adalah rangkuman penjelasan atas seuntai panjang teori yang berhubungan dengan banyak elemen. Ia adalah hasil pergulatan antara fakta, pertanyaan dan keyakinan, sesuatu yang juga beririsan dengan dimensi waktu. Tanyalah Einstein, ia harus bertarung antara fakta-fakta yang ada, keingintahuannya, keyakinannya dan waktu hidupnya untuk menemukan teori ‘e ‘ relativitas itu.

Selalu diawali tanya dan keyakinan, begitulah seluruh penemuan itu berawal. Dan para ilmuwan itu telah memberi kabar kepada kita bahwa “selalu ada jawaban untuk setiap pertanyaan”. Terlepas dari benar atau tidaknya jawaban itu. Tetapi ketika banyak orang yang setuju akan suatu jawaban, maka jawaban itu menjadi sesuatu yang ‘benar’. Meskipun pada dasarnya salah. Begitulah, nilai kebenaran beralih pada seberapa banyak orang yang setuju pada satu hal. Memang sulit mencari kebenaran itu, dan satu-satunya kebenaran yang mutlak adalah apa yang telah ditetapkan oleh Allah..

Meskipun begitu, tidak ada salah bagi kita untuk mencari jawaban. Malah ada sebuah tuntutan bagi kita untuk berfikir, mencari jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ada.. (apakah kamu tidak berfikir?)

Maka mari kita berfikir sejenak, selesaikan pertanyaan ini.. menguji daya kreativitas kita masing-masing..

f=m.a –> m=f/a

jika, a: Adrian, f: fetriskha, maka m adalah ….

Jika nilai a :46 dan f : 23, maka berapa nilai m …

Baca entri selengkapnya »


lari dari blog

7 Juli 2009

blog akhir-akhir ini sepi.. semua lagi ON di FB


INI BUKAN DA’WAH

15 Juni 2009

Ini bukan dakwah, jika apa yang kita sebut kerja dakwah membuat kita lupa tilawah satu juz per hari, beralasan terlalu letih dengan semua aktivitas. Sedang kau tahu kekuatanmu bergerak berasal dari tilawahmu. Baca entri selengkapnya »


tetap

23 Mei 2009

Selalu ada cara
Untuk berdiri di atas tanah yang rapuh
Atau karang yang cadas
Sebab tersungkur bukan
Baca entri selengkapnya »


indomi (1) : kada

20 Mei 2009

alhamdulillah, tulisan ini juga telah dimuat di koran singgalang tanggal 31 mei, dengan judul “puncak kada”

Sebenar-benar parah anak muda zaman kini. Tidak tentu apa yang akan kita sebutkan untuk mereka.

Tidak peduli ia lulusan SMA, MAN, pesantren, yang sedang kuliah di kampus negeri ataupun yang di kampus agama. Baik laki-laki ataupun perempuan, tinggi atau rendah, mau berambut keriting atau botak, berkulit kuning langsat ataupun langsat busuk, sama saja semua. Semua sama saja. Sama-sama semua. Tidak mau mendengar. Baca entri selengkapnya »


my sister, selamat milad

20 Mei 2009

mengakhiri sebuah episode

9 Mei 2009

Di akhir minggu ini, sobat
kita harus bergegas mengemasi kenangan
yang terserak dalam tiap terminal menuju dewasa

Padatkan saja isinya, tak usah dipilih
lalu ikat lagi dengan hati yang cadas
biar tak ada yang tertinggal
sebab tak kan ada yang kembali
menjemputnya dari masa yang abadi
Baca entri selengkapnya »


Serial Penganggur (1)

7 Mei 2009

Menjawab Tanya.

Hidup adalah kumpulan pertanyaan. Dalam setiap episodenya selalu ada pertanyaan klise yang diajukan, dan itu harus dijawab. Meski hanya dengan sesimpul senyum.

Dan terkadang pertanyaan-pertanyaan itu menjadi beban batin, apalagi ketika kita tidak punya jawabannya. Pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya adalah gambaran tentang alur baku kehidupan yang dipahami banyak orang.

Ketika kita masih duduk di bangku sekolah, orang akan bertanya, “setelah tamat mau kuliah dimana?”. Begitu kita kuliah, pertanyaannya menjadi berbeda, “kapan wisuda?”. Setelah kita wisuda, muncul pertanyaan baru, “kerja dimana sekarang?” atau “S2 dimana?”. Setelah kita mempunyai pekerjaan, orang akan bertanya “kapan rencananya menikah?”. Nanti setelah menikah pertanyaannya beda lagi, “sudah berapa orang anaknya?”. Setelah punya anak, pasti akan muncul banyak pertanyaan baru. “kapan anaknya nikah?”, “kapan pensiun?”, “kapan rencananya mau poligami?” atau mungkin ada yang bertanya “kapan mati?”.. Baca entri selengkapnya »